Sabtu, 24 Juni 2017

MOHON MAAF LAHIR BATHIN YA ROMO PASTUR




Sidang isbat memutuskan Hilal sudah nampak pandang di ufuk dan THR sudah cair, artinya sebentar lagi lebaran. Idul Fitri identik dengan pemudik, ketupat, baju baru, dan juga pertanyaan kapan nikah. Tapi di kampung kami hal tersebut hampir tidak terlihat sumringah. Kampung kami terletak di suburban daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah ini bisa dibilang peralihan, semi desa, semi kota. Meskipun banyak rumah bagus hasil kerja merantau, budaya rural masih kental, terlebih saat lebaran.
Sepulang dari sholat ied di lapangan, warga biasanya bersalaman dengan tetangga kiri kanan sebelum lanjut ke handai taulan atau mudik ke kota satelit di sekitar DIY. Selain itu, ada beberapa sesepuh desa atau para mbah kaum yang pada momen idul fitri ini open house besar-besaran, warga juga silaturrahmi untuk sungkem (salaman mohon maaf lahir dan bathin) kepada mereka. Tentu saja dengan bahasa jawa halus (kromo inggil) ala resepsi manten adat Jawa yang saya hanya tahu beberapa kata saja, injih, mboten, dan maturnuwun.

Saya dan keluarga tak ketinggalan untuk muter silaturrahmi ke tetangga terlebih mereka yang tua-tua. Di rumahnya, pasti sudah tersedia aneka camilan bertoples-toples serta minuman warna-warni. Tidak lupa toples Astor dan Wafer, serta rengginan yang tersembunyi rapat dibalik pencitraan molek wadah biscuit Monde Butter Cookies.

Umumnya, saat sungkem kami mengucapkan “selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan bathin, semoga amal ibadah puasa kita diterima Tuhan yang maha kuasa”. Selepas itu, para sesepuh membalas dengan doa yang sama, tentu saja masih dalam bahasa jawa halus tinggi, dimana saya butuh setidaknya 6 tahun untuk menguasai sebagian diksinya. Setelah acara salaman formal, kami dipersilahkan menikmati snack ala kadarnya. Mengingat sesepuh desa atau mbah kaum ini begitu dihormati, tamu yang datang juga antri. Kami tidak mau berlama-lama karena masih ada agenda silaturrahmi ke budhe dan simbah yang lain. Jadi kami putuskan pamit.

Saat berjalan pulang ke rumah, ada tetangga yang mendadak mengajak kami sekeluarga untuk sungkem, salaman dengan salah satu sesepuh. Namun kali ini yang akan kami temui adalah seorang pastur. Kebetulan beliau tinggal bersebelahan dinding dengan rumah kami. Namanya Romo Aloysius Siswantoro. Beliau adalah pemuka agama Katholik dan menjadi jemaat gereja Katholik di dekat rumah kami. Saya sering melihat jemaat ini jalan di pagi hari untuk ibadah subuh di gereja Katholik sambil menenteng alkitab. Suatu kali saya jogging lewat depan gereja, saya melihat para ibu-ibu paruh baya, yang juga tetangga satu RT, sedang berdiri menghadap patung Yesus tinggi besar, sembari mengatupkan tangan dan berdoa.

Ummat Katholik di kampung kami tidak banyak jumlahnya, mereka adalah orang-orang tua yang taat yang setiap pagi jalan kaki ke gereja berjarak sekitar dua kilo, untuk ibadah subuh. Sedangkan pendeta Kahtolik di kampung kami, setahu saya ada dua, salah satunya Romo Siswantoro, kami memanggilnya mbah Sis. Mbah Sis atau Romo Sis adalah lelaki tua kira-kira 60an tahun usianya. Untuk ke gereja beliau naik becak.

Kami sekeluarga jalan bersama para tetangga menuju rumah Romo Sis. Kami masuk ke rumahnya, dan ternyata Romo Sis beserta istrinya sudah berpakaian rapi dan wangi. Asumsi saya mereka sengaja berdandan menyambut tetangga yang ingin salaman di hari lebaran.

Kami bukan orang pertama yang sungkem ke Romo Sis. Sebelumnya sudah ada beberapa tetangga sekitar yang silaturrahmi ke rumah Romo, mengucapkan “mohon maaf lahir bathin”. Saya tidak tahu apakah mereka juga mengucapkan “selamat hari raya”. Tapi yang jelas saya melihat air mata mengalir deras di pipi Romo dan istrinya. Mereka nampak sangat terharu. Mungkin karena merasa masih dianggap bagian dari perayaan hari besar ummat Islam. Masih disowani (didatangi untuk silaturrahmi), bukan sebagai orang lain, tapi sebagai saudara sekampung yang dituakan, terlepas dari perbedaan agama. Karena Romo adalah orang tua, tetangga yang masih muda spontan bersalaman dengan Romo dan istrinya sembari menunduk, mencium tangan. Sedangkan yang bapak-bapak dan ibu-ibu cipika-cipiki atau berpelukan. Budaya Jawa, terutama pedesaan, mendobrak sekat batas perbedaan keyakinan. Meskipun bertuhan beda, sebagai manusia kami menghormati Romo Sis dan istrinya sebagai sesepuh kampung. Saya sendiri, ikut salaman dengan Romo. Sembari mencium tangan, saya dengan takzim mengucapkan “mohon maaf lahir bathin ya Romo Sis”.

Rumah Romo Sis terletak bersebrangan dengan rumah penarik becak yang menjadi langgananya untuk berangkat ke gereja. Pak Jumadi namanya. Berjarak empat rumah dari rumahnya pak Jumadi itulah berdiri sebuah masjid. Masjid pertama di kampung kami. Masjid yang didirikan oleh pak Pad, yang pernah saya ceritakan dalam tulisan “Mengulamakan Mereka yang Berdakwah dalam Diam”. Saya kira masjid dan rumah Romo Sis yang berdekatan adalah miniatur keberagaman beragama yang sebenar-benarnya.

Saat masuk kerumah Romo Sis, meja kursi sudah ditata, lengkap dengan snack dan minuman untuk tamu. Masih dengan linangan air mata haru, istri Romo Sis mempersilahkan kami minum. Saya menyeruput air warna hijau dalam gelas yang dugaan saya syrup Marjan rasa melon. Saya duduk menghadap Romo Sis yang bercerita kalau anaknya di Surabaya tidak bisa mudik. Saya duduk di depan Romo Sis, tepat diatas kepala beliau, menempel di dinding, ada kayu salib ukuran lumayan besar, berwarna coklat. Yesus ada disitu melihat ummatnya saling bercengkrama. Bukan saudara seiman, tapi saudara sesama manusia.

Masih di ruang tamu Romo Sis, tiba-tiba datang seorang pemuda, namanya mas Cahyo. Mas Cahyo ini juga jemaat gereja Katholik yang sama dengan Romo Sis. Mas Cahyo masuk dan salaman dengan tetangga yang hadir di ruang itu. Istri mas Cahyo yang mahmud abas (mamah muda, anak baru satu) bersalaman dengan ibu-ibu muda yang tadi sungkem dengan Romo Sis. Nangis lagi mereka. Istri mas Cahyo tersedu di pelukan salah satu ibu-ibu. Mas Cahyo sendiri terlihat  mbrambangi, sembab matanya menahan air mata yang akhirnya jatuh jua. Istri Romo Sis bercerita kalau semalam mas Cahyo memang sengaja dipanggil untuk menemani Romo dan istrinya menyambut tamu yang biasanya datang saat idul fitri. Tahun-tahun sebelumnya juga sama, tetangga banyak berdatangan sungkem ke rumah Romo Sis. Mungkin karena Romo dan Istrinya merasa canggung bersikap pada tetangga muslim yang “mohon maaf lahir bathin”, jadi perlu ditemani oleh jemaat Katholik lainya. Untuk itulah mas Cahyo dipanggil.

Duapuluh menit berselang. Akhirnya kami minta pamit pada Romo, istrinya, dan juga mas Cahyo. Para tetangga melanjutnya halal bi halal di masjid, dan kami sekeluarga bersilaturrahmi ke saudara lain.

Di masjid kampung kami, pun toleransi beragama mendapat tempat terhormat. Ummat Katholik macam Romo Sis dan mas Cahyo memang tidak berada di dalam masjid. Mereka berdiri di luar, di jalan. Pada waktunya salaman, Romo dan mas Cahyo turut mendapat bagian. Disinilah mereka nangis lagi. Tapi setelah acara salaman di masjid, perayaan yang sebenarnya baru dimulai. Nasi kotak berisi opor ayam dan ketupat terbagi rata. Semua gembira, semua bahagia.

Memang sudah sepantasnya perayaan keagamaan memberikan manfaat untuk sekitar. Mungkin selama ini saya tidak sadar kalau selogan “rahmatan lil alamin” sejatinya sudah terjadi di kampung kami.

Selamat hari raya idul fitri. Mohon maaf lahir bathin..

Jadi, kapan nikah..??


Salam..



Ilustrasi : m.tempo.co

Senin, 22 Mei 2017

URGENSI MENYANGGAH TULISAN DEK AFI, SEBUAH PENGAKUAN





Aku berpikir, maka Aku ada
(Rene Descartes)


Dek Afi yang sekarang sedang hits itu terkenal karena pemikiranya mendobrak arus kebanyakan remaja SMA di usianya. Dek Afi, di usianya yang 18 tahun seharusnya masih hura-hura bersama teman dan sibuk mempersiapkan masuk ke jenjang universitas dengan seabrek jadwal les mata pelajaran, namun harus sedikit merelakan waktunya bercengkrama dengan banyak orang yang terkesima oleh pendapatnya soal pemikiran agama melalui tulisanya yang berjudul “warisan”.

Bagi dek Afi, sah saja berpendapat soal agama warisan nenek moyang yang kiranya juga sudah melalui proses panjang kontemplasi (meskipun) dengan logika ala anak SMA. Yang jadi masalah adalah, beberapa pihak merasa apa yang diutarakan dek Afi ini menjadi ancaman pendangkalan aqidah dan dikhawatirkan membawa pengaruh buruk pada remaja seusianya. Sebanyak itu pula yang menyayangkan pemikiran dek Afi yang dianggap sudah tergerus aqidahnya sedari dini. Sudah tercemari benih liberalisme. Lantas ramai orang berlomba menasehatinya agar kembali ke jalan yang benar, agar mendapat hidayah.

Pemikiran out of the box semacam dek Afi ini bukan yang pertama kali saya temui. Ada banyak kawan-kawan media sosial saya yang menyuarakan kegundahan hatinya akibat kehidupan keberagamaan di Indonesia yang hampir tidak punya pakem standar. Hal ini tidak lain karena pengaruh kultural masyarakat Indonesia yang serba terbuka, menyebabkan hampir semua ideologi agama, sepaket dengan mahzab-mahzabnya, menjadi mudah diterima dan berkembang pemikiranya di kalangan orang awam dan anak muda. Semudah itu pula pemikiran kritis banyak mencuat akibat gesekan antar kelompok keagamaan yang tendensius, saling caci, merasa paling benar, dan sebagainya. Dalam kasus ini, dek Afi menjadi fenomenal karena beliau adalah siswa  SMA yang prihatin pada isu kebaragamaan di Indonesia. Masa SMA sejatinya dimana kebanyakan remaja seusianya belum berfikir sekritis itu sampai menyentuh ranah karakteristik umat beragama, kekuasaan Tuhan, dan tuntunan kitab suci –beberapa diantara kata kunci yang ditemui dalam tulisan “warisan” –.

Sebenarnya seberapa penting urgensi menyanggah tulisan pemikiran dek Afi yang sudah terlanjur dianggap racun oleh beberapa kalangan. Di satu sisi, sebagian pihak bahkan menilai tulisan dek Afi ini menggambarkan realita kehidupan beragama di Indonesia yang hampir tanpa pilihan. Kalaupun ada pilihan, akan sangat berat konsekuensinya. Saya persempit lagi, ini soal pilihan memeluk agama. Beberapa kawan saya yang memutuskan pindah keyakinan harus berurusan dengan banyak pihak terutama orang tua dan kerabat dekat. Itu belum masuk hitungan beban moral yang harus ditanggung karena mereka dinggap kafir dan murtad. Tidak sedikit orang yang “secara halus” mengkritisi tulisan dek  Afi ini ihwal isinya yang seolah mempertanyakan “mengapa kita harus beragama ini dan itu sejak lahir”, soal muatan tulisan yang lagi-lagi dianggap degradasi keimanan sehingga setiap orang dewasa yang membacanya merasa perlu dan berhak berkomentar menasehati tentu saja dengan bahasa santun nan halus hingga mudah diterima oleh dek Afi yang siswa SMA imut-imut tersebut.

Anda pasti tahu soal sanggahan orang dewasa yang memberikan nasihat pada dek Afi, dan tanggapan itu tak kalah hits-nya. Ya, sanggahan “kakak mahasiswa” Indonesia yang sedang kuliah FK di Dresden itu. Saya meminjam istilah bu Dina Sulaeman perihal penggunaan frase “kakak mahasiswa”. Saya sudah baca tulisanya, dan melihat tulisan itu dibagikan banyak kali di media sosial. Saya dan “kakak mahasiswa FK Dresden” tersebut berteman di media sosial facebook kira-kira satu tahun terakhir. Awalnya saya tertarik dengan salah satu postingan “kakak mahasiswa” yang menceritakan pengalamanya sekolah FK di Dresden. Ceritanya sangat lucu, menggambarkan bagaimana “kakak mahasiswa” sedang praktik bedah mayat dan memotong salah satu bagian cadaver hingga ada cairan yang muncrat mengenai mulutnya. Saya sangat terkesan dengan kemasan jenakanya. Saya putuskan untuk menambahkan si “kakak mahasiswa” sebagai teman hanya untuk mengikuti kelanjutan ceritanya selama kuliah FK di Dresden. Sampai pada suatu hari di bulan Desember 2016, saat sedang ramai-ramainya kasus Ahok, si “kakak mahasiswa” tersebut nampak begitu militan menyuarakan aksinya mengutuk Ahok yang dianggap menista agama, nun jauh disana dari Dresden, sebuah kota kecil di sebelah tenggara Leipzig.

Sanggahan “kakak mahasiswa” tersebut, hanya melihat dari satu sisi. Sisi yang dianggapnya benar, dan dek Afi salah. Benarkah begitu?. Bukankah kebenaran, dalam konteks adu pendapat, adalah hal yang relatif. Disini sang “kakak mahasiswa” lagi-lagi menakar pendapat dek Afi sebagai sesuatu yang salah menurut hukum/panutan/pegangan/idealisme yang dianggapnya benar. Sangat subjektif.

Saya melihat dek Afi sebagai fenomena yang sedikit lebih halus dari pada fenomena Ahok si “penista agama” (saya tidak sepenuhnya sepakat dengan istilah ini). Setidaknya ada dua sisi yang menurut saya menarik untuk dicermati, pertama saya sebut sebagai sisi kanan, sisi dimana para fanatik agama berbondong-bondong menyanggah tulisan dek Afi yang berbau pendangkalan aqidah Islam sehingga perlu diluruskan. Sisi ini melihat dan menakar dek Afi, sebagai siswa SMA, berhijab –asusmsinya dek Afi beragama Islam–, dan menghukumi tindakan dek Afi dengan hukum Islam. Semua anasir syariat macam fanatisme, hingga diksi “dapat didayah” keluar semua. Sisi ini, menurut saya, tidak memberikan tempat pada dek Afi yang punya pemikiran kritis soal keagamaan yang selama ini dianutnya. Soal keyakinan keagamaan melekat pada dirinya yang dianggap sebagai warisan orang tua seolah dek Afi memang “sebaiknya tidak punya hak memilih” agama mana yang ingin dipeluknya.

Lagi-lagi soal ketakutan dianggap murtad atau kafir oleh lingkungan dan komunitas. Saya bisa mengerti konflik batin yang dialami dek Afi bahwa seharusnya fitrah manusia berhak menentukan pilihan. Ohya, dalam analogi yang digunakan para penyanggah dek Afi tadi, disebutkan bahwa Nabi Ibrahim, kalau ikut warisan orang tuanya penyembah berhala, seharusnya juga menjadi penyembah berhala. Pun demikian dengan kita. Sekiranya terlahir dalam keluarga Islam maka seharusnya menjadi Islam, sekiranya terlahir di keluarga Yahudi maka seharusnya menjadi Yahudi. Namun kenyataanya tidak demikian. Ada yang lahir di keluarga Islam namun di kemudian hari memutuskan berpindah iman. Ada yang lahir dan besar di keluarga Buddha dan di akhir hayatnya memeluk Nasrani. Dengan logika yang sama, tentunya tidak salah kalau setiap orang memeluk agama A, B, C, dan seterusnya, sebagai keputusan independen yang harus dihormati. Asumsi saya, dek Afi ingin bilang kalau ; “saya ini memeluk Islam, tapi tolong jangan anggap saya berislam karena orang tua saya Islam, saya memeluknya karena keputusan dan kesadaran sendiri”.

Kedua, adalah sisi kiri yang saya sebut sebagai pendukung dek Afi. Para pendukung ini terbagi dalam beberapa kelompok. Ada kelompok yang mendukung proses pemikiran kritis dan kreatif dek Afi sehingga bisa menuliskan hasil kontemplasinya yang begitu mendalam (sekali lagi dengan kadar logika anak SMA yang minim benturan dengan ideologi heterogen). Selain itu, ada juga yang mengutarakan dukungan dengan ikut menyetujui bahwa apa yang dituliskan dek Afi adalah benar adanya. Maksudnya, soal kerukukan umat beragama yang sedang terancam, dominasi mayoritas atas minoritas, dan juga masing-masing golongan yang saling merasa benar dengan merendahkan golongan lain yang dianggap berbeda.

Dari sini kita bisa semakin melihat bagaimana perang pemikiran kian memanas. Sejatinya adalah sah-sah saja bahwa seorang anak muda macam dek Afi ini punya pemikiran berbeda. Hikmahnya, dek Afi memiliki kepekaan sosial dimana logika dan perasaanya sudah bisa mejamah ranah yang sejatinya merupakan medan laga konflik ideologi orang dewasa, jauh diatas usianya.

Kalau boleh jujur, kiranya saya mengaku malu pada dek Afi yang bisa berfikir kritis soal kehidupan. Mungkin karena pengaruh perkembangan zaman dimana dulu saya belum menemui media sosial yang mampu memfasilitasi keinginan untuk show off (tentu saja untuk hal-hal positif). Sekarang, dek Afi sudah punya senjata. Media tempatnya menuangkan gagasan. Tentu saja hal baik ini bukan tanpa resiko. Akun dek Afi yang kabarnya di-suspend toh masih ramai. Ancaman pembunuhan karakter (maupun fisik). Di sisi lain, beberapa tokoh mengapresiasi keberanian dek Afi dalam menulis. Saya mengaku malu pada dek Afi, meski sebagai anak SMA, kontemplasinya soal keyakinan agama tidak bisa dipandang remeh. Itu baru keprihatinanya soal kehidupan keberagamaan Indonesia yang kian carut-marut. Saya yakin pemikiran dek Afi tidak berhenti sampai di situ. Kemampuan menulis dan keinginan kontemplasi rumit akan terus berkembang seiring bertumbuhnya dek Afi. Kelak di kehidupan kampus akan lebih sadis permainanya. Dek Afi, di usianya yang masih SMA sudah mampu menuangkan pemikiran. Sesuatu yang dulu saya tidak punya. Saya malu, mungkin anda juga perlu malu.

Akhir kata, salam hormat saya untuk dek Afi. Tetaplah kritis. Tetaplah menulis. Jangan berhenti berfikir. Dek Afi punya seribu satu alasan untuk tetap berfikir dengan nalar, mengkritisi apa-apa yang sekiranya ganjil. Ada banyak fenomena di masyarakat yang bisa jadi bahan renungan. Kami, kakak-kakakmu disini hanya bisa mendukung dari jauh melalui tulisan-tulisan sederhana. Dek Afi, jangan kau anggap sanggahan-sanggahan itu sebagai perwujudan rasa benci kami padamu. Sejatinya kami ingin membimbingmu untuk tetap bisa menuangkan gagasan terpendam. Ohya, mungkin kakakmu yang di Dresden itu juga bisa menjadi sparring partner yang layak. Cobalah berkorespondensi denganya sesekali waktu. Beliau, meskipun jauh, saya yakin punya sudut pandang yang bisa dijadikan pertimbangan. Dek Afi, menulis dan menuangkan pikiran bagaikan kencing. Jika ingin keluar banyak, seraplah yang banyak juga.

Salam..



Ilustrasi : portal islam

Selasa, 16 Mei 2017

CARA TERBAIK MERUNTUHKAN KAPITALISME ADALAH DENGAN JATUH CINTA




Love; it will not betray you, dismay or enslave you. It will set you free.
(Khalil Gibran)



Prinsip kapitalisme sering bersandar pada supply and demand yang terus mingkat seiring kepuasan manusia yang makin tak terbatas. Jika suatu target pencapaian sudah tunai, maka check point selanjutnya tidak terelakkan. Itulah kenapa kalau kita bersandar pada pemikiran kapitalisme (apalagi yang liberal), seolah tak ada habisnya waktu kita hanya untuk mengejar target-target hidup tersebut –yang kebanyakan tidak perlu-perlu amat kita harus miliki–. Lebih banyak kebutuhan tersier yang bergeser menjadi primer dan sebaliknya mengesampingkan kebutuhan pokok demi kepuasan semu. Prinsip kapitalisme menuntut untuk selalu menampilkan performa terbaik dalam tiap lini kehidupan. Bahwa wanita harus cantik dengan definisi yang dikalibrasi, kulit putih, tubuh tinggi, body ramping, rambut tergerai panjang, payudara besar, bokong berisi, dan sebagainya. Keluar dari pakem itu taraf kecantikan bisa menurun. Dan, bahwa pria sukses adalah yang rekeningnya gendut, punya kerjaan tetap, bermobil, tampil perlente, rambut klimis ala wakdoyok, dan menggandeng pasangan dengan kriteria seperti wanita yang disebutkan sebelumnya.

Perkara jatuh cinta nampaknya menafikkan semua anasir physical kapitalisme seperti yang disebut diatas. Kalau anda pernah mengalami atau melihat orang yang sedang jatuh cinta, berbagai tuntutan performa sempurna tersebut akan lebih banyak hilang. Tuhan maha adil, dan keadilan Tuhan tentu disesuaikan dengan porsi masing-masing ummat-Nya. Tidak jarang kita melihat ada wanita cantik yang memenuhi sebagian besar anasir kecantikan nyaris sempurna namun punya pasangan pria yang biasa-biasa saja, muka pas-pasan, dompet dengan isi sekedarnya, kendaraan masih roda dua, rumah ngontrak, dan kerjaan freelance. Sebaliknya, pria mapan berpasangan dengan wanita low profile juga banyak. Disinilah prinsip supply and demand kapitalisme seperti termentahkan. Mungkin berawal dari sinilah hagemoni kapitalisme di dunia berpotensi untuk digeser sedikit demi sedikit. Ya, dengan cara jatuh cinta.

Saat anda sedang jomblo, misalnya, demand anda untuk pasangan sempurna pasti ribet definisinya. Bagi pria, tentu mengidamkan wanita yang begini begitu. Bagi wanita, juga tak salah mengidamkan lelaki yang minimal mapan dalam pekerjaan dan settlement. Masalahnya supply wanita dengan kriteria yang dikehendaki (dan bersedia jadi pasangan anda) mungkin tidak banyak. Dan kalaupun ada yang pas sesuai demand anda, supply-nya akan sangat sedikit. Bisa-bisa pasangan idaman anda sudah jadi milik orang lain. Gap masalah inilah yang menyebabkan kelangkaan “pasangan idaman” terjadi. Kalau anda masih tidak mau menurunkan standar pasangan idaman ya silahkan. Tapi musuh utama supply and demand tetaplah kelangkaan.

Itu sebelum jatuh cinta. Lain ceritanya kalau anda sudah jatuh cinta. Kalau anda sudah mencintai seseorang, klik, cocok, nyaman, semua anasir demand pasangan ideal yang anda dambakan seolah terlupakan. Disini anda mulai berkompromi dengan ego. Anda akan semakin realistis (bahasa halus nya “harus tahu diri”). Kalau cukup tahu diri bahwa anda bukan tipe pria mapan namun berharap wanita high class, tentu supply and demand anda tidak akan pernah berada pada titik equilibrium, begitu juga sebaliknya anda yang wanita. Itulah mengapa self esteem penting untuk menilai seberapa kualitas anda dan seberapa kualitas pasangan ideal yang “layak anda harapkan”. Kalau berharap terlalu tinggi juga tidak baik, tidak akan ketemu sampai kapanpun.

Saat anda menemukan pasangan yang sudah klik, cocok, nyaman, syarat-syarat demand yang sebelumnya anda pasang tinggi akan ter-check dengan sendirinya. Cukuplah bagi anda pria punya gebetan (calon pasangan) yang bisa ulet di dapur, perkara kepintaran bersolek dan kelihaian bercinta bisa dipelajari di kemudian hari. Itu contoh kecilnya. Bagi anda kaum hawa, punya gebetan seorang pria rajin ibadah tentu juga masuk standar. Soal lainya seperti ketebalan dompet, jumlah digit di rekening, atau merk kendaraan roda empat, lambat laun akan menjadi nomor sekian belas.

Kalau dilihat dari kemampuan berkompromi dengan ego setelah mendapatkan pasangan, disinilah prinsip kapitalisme yang bersandar pada tuntutan performa sempurna akan runtuh dengan sendirinya. Standar kepuasan yang mengharuskan pasangan sempurna bisa sedikit diabaikan. Jatuh cinta tidak lagi harus dengan mereka yang berkantong tebal kalau dengan yang bertanggungjawab saja bisa. Jatuh cinta tidak lagi harus dengan mereka yang berdada besar kalau yang body sintal bisa membuat nyaman. Jatuh cinta tidak harus dengan mereka yang mapan soal pekerjaan kalau dengan freelance bisa punya quality time lebih banyak. Jatuh cinta tidak lagi soal supply and demand yang harus memenuhi standar tinggi.

Saat kita sudah bisa menerima pasangan apa adanya tanpa tuntutan ini itu, tanpa bersandar pada prinsip supply and demand ala kapitalisme, maka penerapan pola pikir yang seperti ini akan berpotensi meruntuhkan kapitalisme. Memang hidup perlu berkembang dan itu butuh dana, namun memaksakan tuntutan pada pasangan bukan hal yang ideal dilakukan mengingat pasangan juga manusia dengan keterbatasan pemenuhan demand. Intinya kalau anda sudah jatuh cinta, supply and demand yang didasarkan pada pola pikir kapitalisme tidak akan berkembang, faktor kenyamanan menjadi primary trigger untuk semua itu. Itulah kenapa sangat disarankan bagi anda yang suka koar-koar anti kapitalisme untuk jatuh cinta, karena cinta bisa meruntuhkan kapitalisme.

ilustrasi : www.ttatro.com

Minggu, 23 April 2017

ADAKAH NISTA PRIA TAK SUKA SEPAKBOLA






"I've never played for a draw in my life."
(Sir Alex Ferguson)



Jika anda termasuk orang yang berfikir kalau semua pria menyuka sepakbola, maaf karena saya mungkin tidak masuk hitungan. Entah kenapa saya tak bisa (atau belum bisa) menemukan kesenangan dalam menikmati pertandingan sepakbola. Kadang saya merasa terkucil kalau sedang kumpul dengan teman-teman kampus atau kerjaan. Mereka membahas dunia persepakbolaan dengan antusias. Semangat sekali hingga saya sering tanya ke mereka. Sebuah pertanyaan bodoh yang mungkin anda pun akan mentertawakan saya. “Broh, Chealsea itu liga Spanyol atau Itali?”.

Bagi anda yang juga tidak penyuka sepakbola, mungkin akan sama-sama bingung dengan banyaknya klub besar di seantero jagat, yang entah asalnya dari mana, main di stadion mana, menang kejuaraan apa. Sama. Saya juga mengalami masalah itu. Lanjut dari pertanyaan tadi, teman saya menjawab dengan sedikit mentertawakan (menjawab sambil terkekeh menghina lebih tetpatnya). “Mmm.. itu liga Inggris broh”. Dengan jelas saya melihat sunggingan senyum di bibrnya yang bernada mengejek. “ah masak gitu aja ndak tahu”. Please, ya memang saya tidak tahu soal perbolaan toh. Entah kenapa sedari SD saya tidak biasa mengikuti perkembangan tim sepakbola eropa atau manapun –ketika banyak teman saya yang mengidolakan Juventus, saya hanya tahu kalau klub sepakbola itu kalau tidak Juventus ya AS Roma–, bahkan di Indonesia sendiri. Saya suka sepakbola hanya pada beberapa poin saja :

1. Piala dunia
Ini jelas sebagai salah satu perhelatan akbar selain pemilu presiden RI atau pemilu Amerika (atau sidang Jessica Kopi Sianida) yang beritanya menghiasi layar kaca selama beberapa hari. Tapi tahukan anda saat perhelatan piala dunia yang menarik bagi saya adalah : seremonial pembukaan, pertandingan pertama, seremoni penutupan, dan pertandingan final. Itu saja saya nikmati dengan setengah hati. Yang lain kok saya tidak begitu menikmatinya. Beberapa kawan saya sampai bertaruh uang receh untuk kemenangan tim andalanya. Pernah suatu ketika saat SMP dua orang kawan saya bertaruh untuk tim nasional Kamerun dan satunya saya lupa. Mereka bertaruh Rp 100,-. Dan akhirnya tim Kamerun kalah. Itu pun sempat terjadi insiden ketika teman saya yang kalah taruhan tidak mau membayar Rp 100,-. Saya melihat sebagai kejadian lucu tapi juga menegangkan. Bagaimana tidak, hampir saja keduanya adu jotos hanya karena perkara uang taruhan Rp 100,-. Alamaaakk..

2. Piala AFF
Sama seperti alasan kenapa saya menonton piala dunia pada sesi tertentu saja. Piala AFF bagi saya spesial karena keterlibatan timnas tertjintah, timnas garuda yang membawa harga diri bangsa Indonesia berlaga di stadion negara tetangga. Mungkin karena rasa bangga ini saya akan merasa bersalah kalau sampai membiarkan timnas tidak ditonton. Saya baru merasakan beberapa tahun terakhir ketika timnas berlaga di piala AFF. Beberapa tahun sebelumnya, saya bahkan tak peduli apa yang sedang terjadi. Waktu itu sempat saya sedang mencari materi tugas kuliah di warnet. Saya “ngenet” di lantai dua. Persis di bawah saya ada warung burjo sedang ramai. Banyak orang nobar piala AFF. Sebanyak itu pula yang teriak saat pemain timnas hendak membobol gawang lawan. Seriuh itu pula suara menggelegar saat skor tambah satu untuk timnas. Dan saya masih tidak peduli.

3. Profil pelatih
Keberadaan pelatih klub atau timnas menjadi ketertarikan sendiri bagi saya. Saya tertarik pada karakter pelatihnya seperti Pep Guardiola dan Alex Ferguson. Setahu saya itu saja. Yang menarik perhatian saya adalah bagaimana para pelatih itu me-manage timnya. Apa saja yang mereka lakukan sehingga moral dan permainan tim bisa menjadi andalan memenangkan pertandingan. Bahkan Sir Alex pun mempunyai reputasi sebagai bapaknya Mancester United. Saya sama sekali tidak mengagumi MU-nya, tapi Sir Alex. Sekali lagi management tim menjadi hal penting dari sekedar berita kemenangan MU di liga ini dan itu. Ada hal yang saya pelajari dari kepemimpinan Alex Ferguson di MU. Sir Alex nampaknya berhasil meletakan pondasi tim hingga mereka menjadi kokoh. Yap, kokoh dari awal hingga tiap pemain tahu apa yang harus dilakukan. Inilah yang diterapkan Sir Alex pada MU. Sir Alex hendak menjadi bapak bagi semua anak asuhnya tanpa terkecuali. Untuk itu beliau juga menerapkan standar tinggi guna menjamin mutu pemain MU. Satu hal yang saya amati dari MU adalah tim ini hampir tidak pernah kalah. “Bagaimana bisa?”. Itulah yang membuat saya tertarik mempelajari gaya manajerial pelatih sepakbola dari pada melihat sebuah kemenangan. Tim bisa menang kalau tiap individunya bagus. Tim MU secara kasat mata setahu saya tidak ada pemain jelek. Atau memang tiap pemainya dibangun menjadi hebat. Tentu oleh manajemen hebat.

Pertanyaan saya, adakah nista kalau seorang pria tidak menyukai sepakbola?. Saya pernah mendapat ejekan dari teman-teman ihwal ketidaksukaan saya terhadap sepakbola. Mungkin karena arus utamanya para lelaki dengan bola adalah jodoh hidup dan mati. Tapi kenyataanya demikian. Saya tidak suka sepakbola. Lalu?

Secara spesifik saya tidak menjelaskan pada teman-teman saya bagian mana dari sepakbola yang tidak saya suka. Mungkin anggapan mereka “tidak ada alasan untuk tidak suka bola”. Bagi saya itu sah-sah saja kalau mereka suka dan saya tidak. Yang menjadi masalah adalah saya merasa tidak bisa masuk dan mengikuti obrolan saat duduk bersama. Jangan tanya apa yang saya lakukan. Ambil HP dari saku dan mulai pencet-pencet. Menu -> exit -> menu -> exit. Atau cek folder sms (yang sebenarnya tak ada sms masuk). Di hari lain, om saya yang tinggal di Surabaya menanyakan kabar saya lewat chat media sosial. “Assalamualaikum, apakabar keluarga Jogja?”. “Waalaikummussalam ami, kabar baik, ami sekeluarga gimana?”. “Nanti malam begadang nonton Barca, kopi siap sudah”. Dan saya hanya bisa memberikan closing statement : “sukses selalu ami”. Lalu obrolan berakhir.

*ami : panggilan om/paman


Saya tidak berani memberikan tanggapan berlebihan soal rencana om saya yang mau nonton pertandingan Barca, klub kesayanganya, karena pertama : saya tida tidak hobi bola, kedua : saya tidak tahu Barca itu bagaimana.

Bagi beberapa orang, sepakbola bak senggama di siang bolong. Penuh debar, tapi memuaskan, dan juga beresiko. Saya pernah berada di tengah perdebatan dengan teman-teman kampus pecinta sepakbola. Waktu itu kalau tidak salah Barca dan Real Madrid mau tanding. Namanya teman kampus yang sudah seperti keluarga, ada saja sumpah serapah dan makian khas brotherhood meluncur keras. Satu kubu menjelek-jelekan Barca, kubu lain tak kalah nyaring hinaanya pada Madrid. Saya tak habis pikir kenapa. Oh God, why?. Siang itu kejadianya di salah satu selasar kampus tempat mahasiswa biasa ber-internet ria. Para gerombolan saling serang meludah kata. Setelah riuh reda, saya lanjut menikmati berselancar di dunia maya tanpa suara bising orang-orang tadi. Seorang teman saya yang memang pendiam yang sedari tadi duduk di samping saya sambil baca komik Naruto, tiba-tiba berdiri dan mengemasi barangnya. Ternyata dia juga mau tidur buat persiapan nonton nanti malam di salah satu kedai di bilangan Seturan. Salah, pikir saya. Orang pendiam macam dia pun fanatik juga ternyata. Yasudah lah.

Setidaknya ada beberapa alasan filosofis kenapa sampai sekarang saya tidak bisa menikmati ranah persepakbolaan. Saya tidak suka bukan berarti saya benci. Ini lebih karena saya belum bisa mendapatkan faedah dari menonton pertandingan sepakbola. Pun dengan ikut meramaikan permainan futsal kawan-kawan di tempat kerja, saya juga hanya niat cari keringat, tidak lebih. Ada beberapa alasan :

1. Kualitas
Sejujurnya saya menyukai olahraga yang memang bisa dinikmati sendiri. Ya, benar-benar sendiri, bukan bergerombol atau bersama tim. Saya menyukai olahraga berenang. Hal ini karena saya bisa mengatur standar saya sendiri mau seberapa cepat dan seberapa kuat saya harus mengayunkan tangan dan kaki untuk bisa meluncur dari ujung ke ujung. Bagi saya ini lebih berkualitas. Dan kualitas tersebut bisa diukur dan dinikmati sendiri. Terlebih lagi pada saat menyelam sampai ke dasar kolam. Saya biasanya berenang di kolam renang FIK UNY pada kolam yang digunakan untuk loncat indah. Kolam dengan kedalaman 7 meter. Mungkin anda akan melihat saya sebagai orang egois yang tidak bisa bekerjasama dalam tim. Saya hargai itu. Namun jika anda mengajak saya bermain futsal, dengan senang hati saya ikut. Tapi tolong dimaafkan kalau permainan saya jelek. Jadi ini soal mengukur kualitas diri sendiri dan menikmati olahraga. Bukanya olahraga adalah soal kualitas.

2. Bertemu banyak orang
Terdengar aneh memang kalau mendengar saya tidak suka olah raga yang mengharuskan bertemu banyak orang. Tapi memang itu kenyataanya. Sebagai orang introvert (saya jujur lho), saya menghargai privasi orang lain, juga ketika berolahraga. Saya orang yang tidak terlalu nyaman dengan berbagai aturan. Dalam sepakbola, kadang ada orang yang mengatur “kamu ke sini, dan kamu ke situ”. Bisa dibilang orang seperti ini kaptennya. Saat bermain futsal, kadang saya merasa sudah mengumpan ke arah yang benar, tapi ternyata salah, sang kapten nampak kecewa. Kan, salah lagi.. duh dek.. Oleh karenanya, saya lebih suka olahraga yang bisa dinikmati sendiri, atau paling tidak bersama sedikit orang. Ya, berenang, fitness, dan bilyard adalah beberapa diantaranya. Konsentrasi saya tidak terpecah, kualitas gerak dan pikiran saya lebih fokus, dan hasil yang diperoleh lebih maksimal. Hasilnya, tentu saya bisa tidur nyenyak.

3. Bersosialisasi
Saya senang bergaul, bersosialisasi, tapi pada saat tertentu. Olahraga bagi saya adalah waktu dan tempat terbaik untuk memusatkan pikiran dan tenaga untuk sesuatu yang berkualitas, pembentukan otot dan berkeringat. Kalau anda berpikir saya orang yang tidak suka olahraga sosial, tunggu dulu. Di kolam renang saya banyak ngobrol dengan para lansia. Lansia ini banyak yang pensiunan perusahaan besar. Dari merekalah saya banyak menimba kebijaksanaan soal pandangan hidup. Ada satu lansia yang memang rutin berenang dan saya sering ketemu tiap pagi. Saya mulai masuk kolam biasanya pukul 5.30 pagi saat matahari belum menampakkan batang tenggorokanya. Kolam 7 meter masih sepi, permukaan air masih rata. Selang setengah jam, mulai bermunculan para lansia. Mereka memang rutin berenang salah satunya untuk alasan terapi, kesehatan tulang belakang yang mulai pegal-pegal hingga pengobatan asma.

Itulah alasan kenapa saya lebih menyukai olah tubuh mandiri dibandingkan dengan yang berkelompok. Memang sepakbola adalah olahraga yang baik, sangat baik, buktinya banyak orang menyukainya dan kompetisi sepakbolah bisa dibilang tidak murah bayaranya. Hanya saja ada hal yang membuat saya memilih prioritas olahraga selain sepakbola karena alasan filosifis diatas.


Bagaimana dengan anda?






Ilustrasi : http://www.allmusic.com/album/i-hate-football-mw0002074229