Selasa, 18 April 2017

GAMBAR TANGAN DI PIPI KIRI TETEH ANIS







“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang setengah Eropa atau orang Jawa yang kebarat-baratan”.
(Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 10 Juni 1902)


Suatu saat di tahun 2012, saya masih ingat karena di tahun yang sama saya harus melakukan dua tugas akademik di waktu berdekatan, melaksanakan PKL yang 2 SKS itu, dan mengambil KKN yang 4 SKS itu. Di tahun yang sama pula, saya sudah harus mulai masuk laboratorium supaya bisa lulus tepat waktu dari fakultas pertanian UGM. Kegiatan akademik yang pertama saya lakukan adalah melaksanakan PKL. Saya memasukan permohonan untuk magang di salah satu perusahaan produsen pestisida swasta asal Swiss yang punya research station di Cikampek, tepat di pinggir jalan Pantura. Jalanan begitu ramai oleh truk dan bis antar provinsi, itu belum anak-anak sekolah dan pekerja pabrik yang memang punya residen disana.

Saya tiba di Cikampek jam 3 pagi waktu setempat. Turun dari bis, saya dijemput om yang memang sejak beberapa hari sebelumnya sudah janjian kalau mau numpang nginep di hari pertama mulai magang. Ohya, bagaimana saya bisa dapat kesempatan magang di perusahaan tersebut adalah cerita dimana sebenarnya saya lewat jalur belakang. Pada tahun sebelumnya, sekitar akhir tahun 2011, saya mengikuti kegiatan dimana ada mahasiswa pertanian dari Indonesia dan Australia yang terlibat kampanye, semacam kampanye how to handle pesticide for farmers gitu deh. Lokasinya di Malang. Kegiatan yang saya kira itu bentuk CSR perusahaan kepada kelompok tani yang menjadi langganan menggunakan “obat hama” dari perusahaan tersebut. Di akhir kegiatan yang berlangsung selama 10 hari, saya kemudian dekat dengan salah satu manager komunikasinya, pak Felix namanya. Pak Felix ini orang yang terkenal ramah, karena kalau saya lihat beliau ini sangat jarang tidak senyum.

Waktu duduk santai di guesthouse tempat kami menginap di Malang, pak Felix tanya ke saya, “gimana mas, kuliahnya sudah sampai mana?, sudah penelitian?”. Saya jawab apa adanya kalau saya sedang akan melaksanakan PKL, tapi belum dapat tempat. Waktu itu pak Felix menawarkan untuk melakukan penelitian di research station Cikampek, tapi karena saya sudah engage project skripsi dengan salah satu lembaga riset Australia (kenalan dan projectnya dosen sih, hehe) jadi saya menolak dengan halus, dan menyampaikan kalau sedang galau cari tempat magang. Disitulah substitusi terjadi, “oh boleh saja magang, kalau mau penelitian juga boleh, gratis”, kata pak Felix. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan.

Saya istirahat di rumah om yang letaknya di perumahan para pekerja pabrik. Lokasi research station perusahaan tersebut berada di sebrang jalan, masuk ke desa, melewati selokan besar, dan berada di tengah sawah sebesar kurang lebih 15 hektar. Singkat cerita setelah berkenalan dengan station manager-nya, saya “di-kos-kan” bersama dengan salah satu teknisi. Saya menempati kamar kos berukuran 3 x 4, sedangkan sang teknisi menempati kamar sebelahnya. Sebenarnya itu rumah dengan 3 kamar, 1 ruang keluarga, 1 dapur, dan 2 kamar mandi. Jadi rumah kontrakan untuk kos-kosan, begitu.

Sang teknisi memperkenalkan diri sebagai Dedi. Saya memanggilnya A’a Dedi, sesuai dengan kultur Sunda di daerah tersebut. A’a Dedi tinggal bersama istrinya, teteh Anis, dan anaknya yang masih kecil, saya lupa namanya. Setiap berangkat ke sawah saya nebeng A’a Dedi dengan motornya melewati jalan berbatu di tepi selokan besar. Berangkat pagi pulang sore, itulah yang saya lakukan. Udah mirip orang kerja aja. Tapi memang kerja di sawah cukup melelahkan. Capek tapi puas.

Di rumah, setelah kerja, aktivitas saya adalah mencuci. A’a Dedi sering terlihat bercengkrama dengan istri dan anaknya. Karena saya tidak terlalu paham kultur Sunda, pernah suatu kali saya hampir keceplosan saat mau menyapa teh Anis ini dengan sebutan “neng”. Saya lalu ingat kalau sebutan “neng” mungkin kurang formal untuk menyapa (karena saya non-Sunda) daripada sebutan “teteh” (yang saya kira lebih lazim untuk panggilan “mbak” pada perempuan Sunda).

Sembari santai dan ngobrol di ruang TV bersama keluarga kecil tersebut, saya tahu kalau A’a Dedi berusia 2 tahun diatas saya, dan teh Anis 3 tahun dibawah saya. Mungkin karena kultur masyarakat urban memiliki kredo wanita yang sudah masuk usianya harus cepat-cepat kawin. Saya lihat keluarga kecil ini penuh kebahagiaan.

Hari berlalu sampai pertengahan bulan. Kontrak magang saya dengan perusahaan pestisida tersebut adalah selama satu bulan. Namun karena mepet dengan jadwal dimulainya semester baru, hari kerja konkrit saya hanya 28 hari. Pada hari ke 29 saya cabut pulang ke Jogja.

Di pertengahan bulan, waktu itu weekend, seperti biasa saya menghabiskan hari bercumbu dengan ranjang sambil sesekali melihat media sosial. Lokasi kos-kosan yang berada di desa membuat sinyal internet gamang menjangkau insan kesepian macam saya yang memang dalam kondisi fakir koneksi. Satu-satunya tempat untuk ber-internet ria adalah di research station, tapi yakalik weekend saya harus kesana demi... streaming... eh... maksud saya mencari koneksi wifi. Ya sudah, saya hanya bisa leyeh-leyeh tiduran sambil menerawang ke atas menunggu putaran loading di window mozzila.

Seluruh isi rumah, termasuk A’a Dedi sekeluarga lelap dalam rehat akhir pekan. Baru saat mendekati bedug makan siang mereka terbangun dan mulai aktivitas. A’a Dedi cuci motor, teh Anis di dapur, anaknya ikut ke dapur, dan saya masih rebahan. Demi alasan privasi saya tutup pintu kamar. Saya butuh me time.

Di luar terdengar suara A’a Dedi menelpon dengan suara agak keras dalam bahasa Sunda yang tak saya pahami. Setelah itu dia memanggil teh Anis. Kemudian mereka berbincang. Terdengar beberapa kata dalam bahasa Indonesia. Sepenangkapan saya mereka nampaknya mau buka usaha jualan. Kemudian keduanya masuk ke ruang TV lalu ngobrol. Terdengar suara A’a Dedi yang mulai meninggi dan ditimpali teh Anis yang tak kalah tingginya (masih dalam bahasa Sunda yang tak kupahami). Pikir saya, ah mereka mungkin sedang mau bisnis-bisnis gitu.

Tapi tiba-tiba saya dengar beberapa kosa kata dalam bahasa Indonesia (kalau ini saya paham). “Kalau mau dagang ya jangan kebanyakan ngeluh”, suara A’a Dedi terdengar tinggi. “Ya saya nggak ngeluh, orang ini namanya dagang ya harus gini”, sahut teh Anis. Keduanya masih bernada tinggi dalam bicara. Mungkin karena pintu kamar saya tutup jadi mereka merasa bebas berbual sambil teriak-teriak.

“Udah dibilangin jangan banyak ngeluh...”, lanjut A’a Dedi yang dibalas dengan suara tak kalah tinggi teh Anis. Sejurus kemudian... “plakk...”. Terdengar suara yang sepertinya familiar di telinga. Suara yang menunjukkan kekuatan ayunan momentum, p = m x v, dimana p = momentum, m = massa, dan v = kecepatan. Suara itu terdengar mirip dengan suara tepuk tangan. Kulit beradu dengan kulit pada kecepatan rata-rata sekitar 40 km/jam, dengan jarak sekitar 20cm. Suara itu sering terdengar saat saya dulu masih kecil dan nakal. Tergetnya di pipi sebelah kiri. Menerima momentum dari ayunan tangan sebelah kanan. Tangan kanan yang kuat. Itu suara tamparan.

Saya yang tadinya tidur-tidur ayam dengan mata setengah pejam lalu mendadak terbelalak sambil di dalam hati “mbatin” what the fakk. Saya dengar langkah teh Anis menjauh sembari sesenggukan, keluar rumah entah kemana. A’a Dedi lanjut gendong anaknya yang masih polos tak tahu apa-apa kecuali sang bunda melangkah pergi. Teh Anis keluar, A’a Dedi dan anaknya keluar, saya terbangun dan berfikir, “seperti inikah gambaran sebuah rumah tangga?”, seram sekali sampai main tampar. Beberapa detik kemudian banyak pikiran melayang di kepala, kekhawatiran tak beralasan, tapi setelah mendengar kejadian barusan, alasan-alasan mulai muncul dan semakin menguat. “Akankah saya kelak berkeluarga dan dihadapkan pada hal semacam itu?”, pikir saya.


“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”.
(surat kartini kepada Nyonya Abendanon, Agustus 1900)


Mungkin yang dialami teh Anis bisa dikategorikan sebagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Atau itu teguran dalam bentuk tamparan. Menurut saya keduanya, dalam ranah kehidupan rumah tangga tidak bisa dibenarkan. Itu hanya tamparan ringan tanpa kekuatan. Tapi sebuah tamparan tetaplah luka yang membekas baik fisik maupun psikis. Dari pengamatan saya terhadap kejadian ini, jika seorang suami berani menampar istri untuk pertama kalinya (dengan pikiran kalut dan marah tak tertahan), ada kemungkinan dia berani melakukan untuk yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Tidak menutup kemungkinan itu menjadi kebiasaan. Barulah kalau keseringan menampar, saya kira kekerasan dalam rumah tangga sudah bisa disematkan statusnya. Meskipun tidak sampai ekstrim memukul dan menendang hingga berdarah. Menurut saya bentuk tamparan secara sudut pandang submisif menunjukan dominasi pria. Bisa jadi karena keduanya hidup lama dan menganut budaya patriarki, jadi hal semacam itu lambat laun dikatakan wajar.

Manurut data komnas perempuan, kekerasan dalam rumah tangga pada tahun 2016 terdapat 321.752 kasus. Angka sebanyak itu, meskipun seper seribu dibandingkan jumlah penduduk Indonesia, tidak bisa dikatakan kecil. Artinya hampir 1 dari 1000 orang mengalaminya. Sebuah tamparan kepada wanita/istri sudah bisa menimbulkan trauma. Sebuah tamparan sudah cukup menegaskan dominasi pria terhadap wanita. Lantas, apa hubungan antara pria dan wanita, dan bagaimana pembagian tugasnya di lingkup domestik sehingga KDRT kecil-kecilan sebentuk tamparan bisa terjadi. Bagaimana seharusnya wanita memposisikan diri dalam rumah tangga?. Apakah tamparan punya hak bicara lebih dari mulut yang disetir akal, seolah berkata “saya pria lebih berkuasa dari kamu wanita!”. Jauh-jauh hari di awal abad ke 19, R.A Kartini sudah mulai berkontemplasi dan menghasilkan buah pemikiran. Suatu pemikiran yang bahkan sampai sekarang bisa dikatakan liberal dan out of the box. Tidak heran kalau Kartini mendapat label feminis abad 19. Karena zaman itu sikap patriarkis masih kental mendudukan kaum adam sebagai “yang mengatur” urusan apapun, termasuk keputusan rumah tangga.

Dalam salah satu suratnya kepada Estelle "Stella" Zeehandelaar di tahun 1899, Kartini sudah mengkritisi perihal “keningratan” kaum priyayi pada masa itu. Menurut Kartini, apakah hanya karena orang sedari lahir sudah menjadi bangsawan, lantas bisa dikatakan berbeda dalam hal kapasitas pemikiran, dimana kaum bangsawan waktu itu hanya bisa leha-leha sambil kipasan duit dari hasil keringat bumiputera, rakyatnya, kaum inlander yang menjadi buruh tani kumpeni. Terlebih lagi kaum wanita yang pada kalau itu tak beda layaknya barang dagangan yang bisa dibarter dengan laki-laki melalui perjodohan bermuatan politik.

Masih dalam korespondensinya dengan Stalla Zeehandelaar, Kartini menuliskan, “Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia bumiputra, kalau bukan oleh karena kami, tentu oleh orang lain, kemerdekaan perempuan telah terbayang-bayang di udara, sudah ditakdirkan…” (Surat R.A. Kartini kepada Zeehandelaar, 9 Januari 1901)”. Sebuah tulisan yang menurut saya cukup menggugat ego patriarki abad 19. Potongan surat tersebut menegaskan Kartini ingin hak yang sama bagi para perempuan untuk mendapatkan pendidikan, yang menurut Kartini, jika perempuan sudah terdidik, tidak sulit untuk masuk dan berperan dalam ranah domestik. Bukan untuk apa-apa, tapi untuk sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Kalau anda melihat dari kacamatan patriarki juga (saya menghargai anda yang punya pandangan ini), ada tuntutan kebablasan soal kesetaraan gender macam yang sering digaungkan para feminis.


Saya kira apa yang terjadi pada teh Anis tetap merupakan tindakan kekerasan rumah tangga yang tidak bisa dibenarkan. Saya berharap tidak ada teh Anis lainya yang harus menanggung beban akibat pola pikir patriarkis yang masih terpelihara dan dibenarkan oleh lingkungan. Kuncinya adalah keterbukaan pikiran dan sama-sama tahu hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Dengan ini diharapkan lingkaran setan tersebut bisa diputus.



“...seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami.”
(Surat Kartini kepada Zeehandelaar, 25 Mei 1899)



SELAMAT HARI KARTINI






Ilustrasi : http://nationwideradiojm.com/childrens-advocate-ids-abused-girl/

Minggu, 16 April 2017

BAJINGAN, PEYORASI DIKSI YANG TIDAK SEHARUSNYA DISALAHARTIKAN





 Be careful what you say, you can say something hurtful in ten seconds,
but ten years the wounds are still there
(Joel Osteen)

Paling banyak versi asal muasal kata “bajingan” adalah sebagai suatu profesi yang tugasnya mengendalikan dan mengatur jalanya grobak yang ditarik sapi. Pada zaman dahulu, gerobak sapi adalah alat transportasi umum layaknya delman. Nah, para bajingan ini adalah mereka yang duduk sebagai kusir grobak sapi. Apa bedanya dengan kusir delman atau kereta kencana yang pangkat dan stratanya nampak lebih punya aji? Begini, kusir delman yang ditarik kuda, dibandingkan dengan gerobak yang ditarik sapi, speed-nya tentu lebih cepat yang delman. Oleh karena speednya lebih cepat, waktu tempuh yang dibutuhkan tentu lebih singkat. Masyarakat menakar kehebatan alat transportasi dari kecepatan waktu tempuh, oleh karena itu antara bajingannya grobak sapi dengan kusirnya delman berkuda jelas berbeda dalam hal strata soal kecepatan.

Bagaimana kata bajingan bisa mengalami peyorasi sehingga setiap kemunculanya dalam kalimat diasosiasikan sebagai bentuk umpatan, kemarahan, cacian, dan segala sesuatu yang mengutuki. Dalam beberapa sumber, “bajingan lama sekali munculnya...”, adalah kalimat yang diucapkan oleh mereka para pedagang saat menunggu grobak sapi yang tak kuncung muncul. Namun, perlu digarisbawahi pada pengucapan kalimat diatas menggunakan intonasi datar tanpa ada maksud mencela. Kalaupun kalimat tersebut diucapkan dengan intonasi yang agak dongkol, maka kedongkolan itu ditujukan kepada gerobak sapi yang menjadi alat transportas. Mengingat orang dagang pada masa itu juga ingin lekas buka lapak di pasar, jadi perkara bajingan yang tidak on time ini (sepaket dengan gerobak sapinya) jadi urusan serius.

Tidak diketahui dengan pasti kapan pertama kali “bajingan” menjadi kata yang berubah makna, dari sebuah profesi menjadi umpatan kelas tinggi. Meskipun kata ini berasal dari bahasa Jawa, namun eksistensinya sudah mendapat pengakuan secara nasional. Bagaimana tidak, hampir semua orang dari Sabang sampai Merauke, dari Bitung sampai pulau Rote mengenal kata bajingan sebagai umpatan. “Bajingan lu”, “dasar bajingan”, “dia itu bajingan”, dan sederet kalimat lain yang semakin menegaskan kalau “bajingan” memang sudah berubah makna dan penggunaan sebagai umpatan. Terlebih lagi kata bajingan kerap digunakan untuk men-sifati seseorang yang berperangai buruk macam penjahat.

Entah bagaimana orang mulai bersepakat memasukan kata bajingan sebagai diksi khusus umpatan yang penggunaanya sangat dihati-hati. Ada satu cerita pada saat saya masih anak-anak. Kata bajingan ini adalah umpatan dengan level kekasaran paling tinggi. Ada beberapa umpatan yang sarkasmenya berkedudukan dibawah level “bajingan”. Biasanya penggunaan kata-kata kotor tersebut menyesuaikan suasana hati. Dari skala 1-10, kalau tingkat kedongkolanya 3 ya cukup menggunakan kata “asem ki”. Kalau dongkolnya di level 6, ya pakai “sil*t”/”t*i”/”m*nyuk”, dan yang selevel dengan itu. Kalau sudah benar-benar marah di level 8-10, barulah umpatan sakti “bajingan” ini dirapalkan. Belakangan kata bajingan ditandemkan dengan “A*U”, sebuah umpatan yang berasal dari golongan hewan berkaki empat yang suka menggonggong.

Pertanyaanya, kenapa kata “bajingan” yang dikambinghitamkan, kenapa profesi mulia yang penolong ini, kenapa tidak yang lain? Kalau bicara soal profesi, bajingan tidaklah sendiri. Ada beberapa yang tupoksinya juga supir kendaraan seperti “pilot”, “nahkoda”, “masinis”, dan “tukang becak”. Kenapa harus bajingan? Ini menurut pendapat pribadi dan penerawangan saya. Di atas sudah disebutkan asal muasal kata bajingan dan penggunaanya yang merujuk pada kedongkolan pedagang pasar menunggu gerobak sapi (beserta bajinganya) yang tak kunjung muncul. Namun waktu itu bajingan belum menjadi umpatan seperti sekarang, belum mengalami peyorasi diksi sehingga kalau dulu sudah ada pesawat terbang dan kereta, kalau terlambat datang mungkin juga supir-supirnya bakal kena semprot seperti sang bajingan yang mulia ini. “Dasar pilot”, “dasar masinis”. Begitu kira-kira. Akan tetapi, karena zaman dahulu pesawat dan kereta tidak bisa diakses kaum proletar semudah sekarang, maka bajingan-lah yang berlaku prevalence, dan itu berlangsung dalam waktu yang lama, sehingga orang terbiasa mendengar (dan bahkan mengucap) “dasar bajingan...”.

Dalam KBBI, kata bajingan bermakna “bajingan/ba·jing·an/ 1 n penjahat; pencopet; 2 a kas kurang ajar (kata makian)”. Hal ini mungkin karena KBBI mengadopsi kebiasaan orang yang mengatakan “dasar bajingan...” sebagai umpatan yang ditujukan kepada perorangan, supir gerobak sapi. Telah terjadi penyederhanaan kata bajingan sehingga merujuk pada supir gerobak yang dinilai lamban, lama sampainya. Padahal sebenarnya mereka yang hidup pada zaman –gerobak sapi masih menjadi alat transportasi dan angkutan barang– harusnya mahfum dan maklum karena memang laju sapi tak secepat laju kuda. Sekeras apapun sang bajingan mencambuk sapi tetap saja sapi tak bisa lari cepat. Tapi ungkapan “dasar bajingan...” ini keburu jadi simplifikasi subjektif cara pandang orang melihat orang lain (sang bajingan), dan bukan “bajingan yang sepaket dengan gerobak sapinya”.

Saya sendiri, mendapatkan kosa kata “bajingan” dengan cara yang epic. Waktu itu keluarga saya pertama kali pindah rumah ke daerah sub-urban yang masih kental suasana pedesaanya. Di kampung saya, lebih tepatnya di RW saya, ada mushola yang tiap sore mengadakan pengajian anak-anak, ngaji “iqro’” dan ngaji qur’an kalau bahasanya. Saya berjalan ke mushola untuk ikut mengaji (yang belakangan saya tahu maksud orang tua saya adalah menyuruh untuk bersosialisasi dengan anak-anak kampung). Saat itu menjelang musim giling atau produksi gula. Kebetulan kampung saya dekat dengan sawah/lahan tebu yang dipanen PG Madukismo. Sampai di tikungan terakhir menuju mushola, ada beberapa pemuda desa yang sedang ngobrol sharing pengalamanya “nyolong tebu”. Perilaku nyolong tebu lagi hitz di kalangan pemuda sub-urban waktu itu.

*PM = pemuda
PM1 : wingi aku nyolong tebu neng Mbugisan kae rasane anyep kabeh, ora legi, bajingan..
(kemarin aku nyuri tebu di Bugisan rasanya hambar semua, bajingan..)
PM2 : lha goblok og kowe, neng kulone kae legi-legi malah
(lha bego kamu, di baratnya itu manis-manis)
PM3 : podo wae yo bajingan’i, aku wingi neng sisih njero dioyak petani sambi diatungi arit
(sama saja dasar bajingan, aku kemarin di sisi agak dalam malah dikejar petani sambil diacungi parang)

Bagaimana perasaan anda jika : akan ngaji ke mushola, bawa kitab Al Qur’an, mendengar kata “bajingan”?? Paradoks bukan. Saya sempat berfikir tapi langsung cepat paham bahwa yang para pemuda desa ucapkan tersebut adalah kata umpatan, meskipun kata “bajingan” pada waktu itu adalah hal baru bagi saya.

Setelah pulang ngaji, dirumah saya praktikkan itu kata bajingan. Tidak perlulah saya ceritakan bagaimana pipi saya lebam kena tampar ayah-bunda yang budiman dan sangat saya sayangi.

“KELUAAAARRRRR... BELAJAR BAJINGAN-BAJINGAN LAGI SANAAAA....!!!!!”, kata ibu saya muntab.

Tidak selesai sampai situ, di sekolah saya juga melakukan test market perkara kata “bajingan” ini. Permainan tradisional “mekdok (didemek ndodok)” pasti familiar bagi anda yang tinggal di lingkungan Jawa. Waktu itu saya telat jongkok dan keburu disentuh oleh teman pengejar, alhasil jadilah saya sebagai pengejar. Tak terima jadi pengejar, “bajingan’i, aku wes ndodok yo!”. Sontak semua peserta permainan seolah sepakat membubarkan diri dan berbondong ke ruang guru melaporkan ihwal lisan saya yang tak kenal santun. Itu kali kedua saya “ketanggor” akibat gagal paham penggunaan diksi bajingan. Sejak saat itu saya makin berhati-hati menggunakan kata bajingan, setidaknya di lingkungan yang masih kuat menganut adab.



...SEKIAN...





ilustrasi : http://www.harnas.co/2014/08/24/festival-gerobak-sapi-ikon-baru-yogyakarta

Selasa, 28 Maret 2017

HARUSKAH KITA BERKOMPETISI





Sedari usia dini secara sadar atau tidak kita sudah dibiasakan berkompetisi dalam lingkup terkecil. Mulai dari keluarga, ada saja yang membandingkan kita dengan saudara kita, kakak, atau adik, terutama soal tatakrama dan tuturlaku, sopan santun, cara makan, kebiasaan baik, dan sebagainya. Di tingkat yang sedikit lebih tinggi, masa sekolah membuat suasana persaingan tidak berkurang. Kalau di rumah anda dibandingkan dengan saudara kandung, di sekolah ada banyak teman yang jadi sasaran untuk anda diperbandingkan dengan mereka. Tentu saja dalam lingkup sekolah, prestasi akademik menjadi komoditas yang paling laku. Kompetisi semacam ini akan terus bertambah seiring bertambahnya usia. Semakin tua (karena dewasa adalah pilihan, dan kompetisi yang tidak dewasa juga banyak) kita akan semakin dihadapkan pada kompetisi dan persaingan yang makin runyam ihwalnya. Tidak hanya soal nilai ulangan matematika atau sudah bisa makan dengan tangan kanan, tapi kemampuan akademik, performa sosial, hingga masalah kemapanan finansial seolah tak ada habisnya menjadi objek komparasi..


Anehnya, mereka yang memperbandingkan objek-objek diatas adalah yang kita sebut sebagai penonton. Jadi sebenarnya kita sedang memuaskan penonton yang tidak menanggung resiko apapun. Yang bergulat di dalamnya ya si A dengan si B. Paham maksudnya?. Begini, jika anda sebagai A sedang dibandingkan dengan B untuk nilai ulangan matematika, secara tidak langsung anda sedang berkompetisi dengan B. Lantas apa untungnya buat anda?. Jika anda memang memiliki mental kompetitif itu tidak jadi soal karena anda memang gairah hidup anda berasal dari situ. Tapi kalau tidak??. Haruskah anda berkompetisi untuk nilai ulangan matematika? Atau, haruskah setiap orang memiliki mental kompetitif? Haruskah setiap orang berkompetisi untuk segala hal hanya untuk menyenangkan orang lain?. Mirip gladiator bukan..


Itu baru satu contoh perkara nilai ulangan matematika yang sudah sejak zaman orde baru menjadi tolok ukur “kepintaran” siswa di sekolah, belum soal performa kerja atau paling tidak performa mahasiswa di kampus. Tidak jarang kita lihat ada mahasiswa aktivis yang berapi-api ikut kegiatan kemahasiswaan dengan tetap mempertahankan IPK cemerlang, mengagumkan bukan. Tapi apakah orang seperti itu harus kita ikuti?..


Sekali lagi, kita dilahirkan sebagai manusia dengan bakat berbeda dan kapasitas diri yang berbeda pula. Kita adalah kita, dan tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan pihak-pihak tertentu. Mungkin beberapa dari anda kurang setuju dengan kalimat ini karena untuk mendapatkan prestasi tertentu anda memang dituntut untuk “menyenangkan” pihak-pihak yang berkepentingan. Paham yang saya maksud kan..


Terkait dengan hasrat berkompetisi, sebetulnya ini adalah bawaan manusia sedari zaman prasejarah. Namun apakah harus dengan menjadikan sifat tamak sebagai satu-satunya landasan fundamental manusia untuk saling berkompetisi. Tidakkah cukup dengan makan tiga kali sehari atau mendapat nilai 7 untuk matematika seyogyanya sudah dirasa cukup. Lantas apa untungnya kita saling berkompetisi? Apa untungnya orang tua mengajarkan pada anaknya dan menanamkan hasrat ingin berkompetisi semenjak kecil. Efek didikan kompetitif ini tidak jarang tumbuh subur hingga sang anak dewasa, sialnya konotasi watak kompetitif hadir dalam makna buruk. Selalu akan ada rasa tidak mau dikalahkan oleh orang lain. Lebih parah, orang lain tidak boleh ada yang menyamainya. Dalam hal apapun. Ya, apapun. Bahkan sifat kompetitif ini tumbuh beriringan dengan rasa dengki yang membuat tidak mau disaingi hingga menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan pesaingnya. Sampai pada tahap ini hasrat kompetitif tidak lagi menjadi trigger utama persaingan, tapi lebih kepada kebencian yang menjadi penggerak utama seseorang untuk mempertahankan status quo-nya bercokol di jajaran teratas puncak prestasi. Lebih jauh, timbul sifat jumawa yang tidak bisa dipungkiri menjadi power syndrome dan membuat orang haus sanjungan. Apa saya salah?..


Beberapa kali saya melihat atau seseorang bercerita soal persaingan di tempat kerja. Kalau yang dimaksud adalah persaingan bersih soal prestasi dan jumlah poin yang didapat mungkin masih masuk akal ya. Tapi kalau agak tricky?. Ini soal “bagaimana menjilat atasan” dengan menjegal kolega agar dapat muka dan naik jabatan. Minimal dapat kepercayaan lah dari atasan, atau dihormati senior. Singkatnya, mreeka menang dengan menjatuhkan lawan, bukan dengan naik level. Dinamika tempat kerja semacam ini menarik untuk dikaji. Tentu ada alasan kenapa orang sampai melakukan hal tersebut. Ada semacam ketidakpuasan berada di peringkat prestasi yang selama ini mereka duduki. Ada semacam perasaan (mungkin menggebu) untuk loncat ke jenjang karier yang lebih tinggi dengan cara (maaf) kotor dan tidak fair..


Ada banyak sumber dan motivator yang bilang dengan kompetisi akan meningkatkan kualitas diri karena melihat orang lain yang lebih baik dan terpacu untuk menjadi lebih baik. Itu tidak salah jika kita melihat kompetisi sebagai one on one combat, fair battle, atau apalah yang dirasa kompetisi berjalan diatas kertas putih bersih dengan metode persaingan yang adil. Tapi itu normatifnya. Di dunia ini kita tidak bisa berharap terlalu muluk hal itu akan terjadi. Jujur saja. Kalau persaingan adil diterapkan dengan standar yang sama – dengan asumsi semua orang diciptakan dengan potensi diri berbeda-, pada tahap tertentu akan ada seleksi alam yang mengharuskan sedikit banyak peserta gugur di sesi ini. Tidak semua orang bisa menerima kekalahan/keguguran tersebut. Inilah yang membuat beberapa orang berbuat curang untuk mencapai tujuan. Apa tujuanya? Tentu saja menyenangkan pihak tertentu seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Contoh konkritnya begini; “orang tua ingin anaknya masuk kelas IPA di SMA, tapi sebenarnya potensi anak tidak disitu. Anak tersebut akan lebih melejit saat menggoreskan kuasnya diatas kanvas, menjadi seniman. Tapi apalah arti menjadi seniman hebat di mata orang tua tersebut. Lantas si orang tua sedikit memaksakan anaknya untuk tetap masuk kelas IPA. Alhasil ada beberapa potensi yang dipaksakan. Nilai fisika yang pada dasarnya si anak mendapat 6 adalah hasil terbaik, dipaksakan untuk mendapat 7. Apa yang terjadi, mencontek, curang. Untuk apa? Supaya orang tua senang. Hasilnya? Si anak masuk kelas IPA dengan setengah hati karena memang bukan itu passion-nya. Lebih jauh, si anak tidak enjoy dengan eksistensinya di kelas IPA”. Akankah semua persamaan dan grafik ditorehkanya dengan pamahaman secara mendalam? Tidak juga. Bisa jadi dia lebih berminat menggambar anatomi lekuk tubuh manusia. Salah? Tentu saja tidak. Karena argumen ini berdasarkan pada potensi manusia yang memang tidak sama satu sama lain. Tapi dipaksakan untuk sama. Itulah corak pendidikan kita..


Kembali kepada pertanyaan mendasar, apakah kita harus berkompetisi?. Ini tergantung masing-masing pribadi. Pertama, beberapa orang yang menganggap kompetisi harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas diri. Pada titik tertentu, ketika mereka sudah mengalahkan semua kompetitor dan menjadi nomor satu, lalu apa?. Tidak ada yang tahu. Kedua, bagi mereka yang merasa tidak perlu berkompetisi juga tidak salah. Tidak semua menganggap kompetisi sebagai barang yang enak dinikmati. Sejujurnya hidup lebih tenang tanpa kompetisi. Orang semacam ini memilih bermain di ring aman. Mengamankan sumberdayanya agar tidak terbuang percuma dalam kompetisi berdarah. Namun tidak berkompetisi bukan berarti tidak mau maju. Mereka maju dengan cara lain, tanpa harus berkompetisi. Pernah dengar blue ocean strategy?. Saya rasa ini adalah cara cerdas untuk “mengelak” dari kompetisi. Dimana mereka memulai lebih dahulu, melakukan quantum leap dan membuat kompetitor seolah tertinggal dan tidak bisa mengejar. Kalau harus mengejar, diperlukan waktu dan resource yang cukup banyak. Kita mengenal pionir dalam berbagai bidang yang sekarang memiliki reputasi global. Banyak diceritakan Sir Richard Brandson-nya Virgin co itu sudah melanglang buana dan menguasai blue ocean hingga orang yang mengejarnya perlu waktu dan cost yang setara denganya. Bill Gates juga sama. Ketiga, hasrat ingin menang/berkuasa. Perasaan ini menjadi salah satu pemicu dimana seseorang merasa harus bersaing dengan orang lain untuk suatu alasan. Alasan klasik adalah perebutan sumberdaya yang sampai sekarang masih berkontribusi pada peningkatan suhu di Timur Tengah, atau kenapa paham kapitalis punya paku bumi di hampir seantero jagat. Itu contoh gampangnya..


Bagaimana menyikapi kompetisi ini?. Bagi anda yang merasa kompetisi bukan dunianya, carilah cara cerdas untuk hidup tanpa harus menggusur kepentingan orang lain. Ada banyak cara hidup dan mendapatkan penghidupan dengan tenang. Anda juga bisa mulai menanamkan rasa bersyukur pada diri sendiri terhadap apa yang dimiliki. Sifat tamak umumnya timbul dari rasa tidak puas dan selalu ingin lebih..



..Sekian..




Ilustrasi : https://triuneleadershipservices.com/running-purpose/