Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 April 2017

GAMBAR TANGAN DI PIPI KIRI TETEH ANIS







“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang setengah Eropa atau orang Jawa yang kebarat-baratan”.
(Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 10 Juni 1902)


Suatu saat di tahun 2012, saya masih ingat karena di tahun yang sama saya harus melakukan dua tugas akademik di waktu berdekatan, melaksanakan PKL yang 2 SKS itu, dan mengambil KKN yang 4 SKS itu. Di tahun yang sama pula, saya sudah harus mulai masuk laboratorium supaya bisa lulus tepat waktu dari fakultas pertanian UGM. Kegiatan akademik yang pertama saya lakukan adalah melaksanakan PKL. Saya memasukan permohonan untuk magang di salah satu perusahaan produsen pestisida swasta asal Swiss yang punya research station di Cikampek, tepat di pinggir jalan Pantura. Jalanan begitu ramai oleh truk dan bis antar provinsi, itu belum anak-anak sekolah dan pekerja pabrik yang memang punya residen disana.

Saya tiba di Cikampek jam 3 pagi waktu setempat. Turun dari bis, saya dijemput om yang memang sejak beberapa hari sebelumnya sudah janjian kalau mau numpang nginep di hari pertama mulai magang. Ohya, bagaimana saya bisa dapat kesempatan magang di perusahaan tersebut adalah cerita dimana sebenarnya saya lewat jalur belakang. Pada tahun sebelumnya, sekitar akhir tahun 2011, saya mengikuti kegiatan dimana ada mahasiswa pertanian dari Indonesia dan Australia yang terlibat kampanye, semacam kampanye how to handle pesticide for farmers gitu deh. Lokasinya di Malang. Kegiatan yang saya kira itu bentuk CSR perusahaan kepada kelompok tani yang menjadi langganan menggunakan “obat hama” dari perusahaan tersebut. Di akhir kegiatan yang berlangsung selama 10 hari, saya kemudian dekat dengan salah satu manager komunikasinya, pak Felix namanya. Pak Felix ini orang yang terkenal ramah, karena kalau saya lihat beliau ini sangat jarang tidak senyum.

Waktu duduk santai di guesthouse tempat kami menginap di Malang, pak Felix tanya ke saya, “gimana mas, kuliahnya sudah sampai mana?, sudah penelitian?”. Saya jawab apa adanya kalau saya sedang akan melaksanakan PKL, tapi belum dapat tempat. Waktu itu pak Felix menawarkan untuk melakukan penelitian di research station Cikampek, tapi karena saya sudah engage project skripsi dengan salah satu lembaga riset Australia (kenalan dan projectnya dosen sih, hehe) jadi saya menolak dengan halus, dan menyampaikan kalau sedang galau cari tempat magang. Disitulah substitusi terjadi, “oh boleh saja magang, kalau mau penelitian juga boleh, gratis”, kata pak Felix. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan.

Saya istirahat di rumah om yang letaknya di perumahan para pekerja pabrik. Lokasi research station perusahaan tersebut berada di sebrang jalan, masuk ke desa, melewati selokan besar, dan berada di tengah sawah sebesar kurang lebih 15 hektar. Singkat cerita setelah berkenalan dengan station manager-nya, saya “di-kos-kan” bersama dengan salah satu teknisi. Saya menempati kamar kos berukuran 3 x 4, sedangkan sang teknisi menempati kamar sebelahnya. Sebenarnya itu rumah dengan 3 kamar, 1 ruang keluarga, 1 dapur, dan 2 kamar mandi. Jadi rumah kontrakan untuk kos-kosan, begitu.

Sang teknisi memperkenalkan diri sebagai Dedi. Saya memanggilnya A’a Dedi, sesuai dengan kultur Sunda di daerah tersebut. A’a Dedi tinggal bersama istrinya, teteh Anis, dan anaknya yang masih kecil, saya lupa namanya. Setiap berangkat ke sawah saya nebeng A’a Dedi dengan motornya melewati jalan berbatu di tepi selokan besar. Berangkat pagi pulang sore, itulah yang saya lakukan. Udah mirip orang kerja aja. Tapi memang kerja di sawah cukup melelahkan. Capek tapi puas.

Di rumah, setelah kerja, aktivitas saya adalah mencuci. A’a Dedi sering terlihat bercengkrama dengan istri dan anaknya. Karena saya tidak terlalu paham kultur Sunda, pernah suatu kali saya hampir keceplosan saat mau menyapa teh Anis ini dengan sebutan “neng”. Saya lalu ingat kalau sebutan “neng” mungkin kurang formal untuk menyapa (karena saya non-Sunda) daripada sebutan “teteh” (yang saya kira lebih lazim untuk panggilan “mbak” pada perempuan Sunda).

Sembari santai dan ngobrol di ruang TV bersama keluarga kecil tersebut, saya tahu kalau A’a Dedi berusia 2 tahun diatas saya, dan teh Anis 3 tahun dibawah saya. Mungkin karena kultur masyarakat urban memiliki kredo wanita yang sudah masuk usianya harus cepat-cepat kawin. Saya lihat keluarga kecil ini penuh kebahagiaan.

Hari berlalu sampai pertengahan bulan. Kontrak magang saya dengan perusahaan pestisida tersebut adalah selama satu bulan. Namun karena mepet dengan jadwal dimulainya semester baru, hari kerja konkrit saya hanya 28 hari. Pada hari ke 29 saya cabut pulang ke Jogja.

Di pertengahan bulan, waktu itu weekend, seperti biasa saya menghabiskan hari bercumbu dengan ranjang sambil sesekali melihat media sosial. Lokasi kos-kosan yang berada di desa membuat sinyal internet gamang menjangkau insan kesepian macam saya yang memang dalam kondisi fakir koneksi. Satu-satunya tempat untuk ber-internet ria adalah di research station, tapi yakalik weekend saya harus kesana demi... streaming... eh... maksud saya mencari koneksi wifi. Ya sudah, saya hanya bisa leyeh-leyeh tiduran sambil menerawang ke atas menunggu putaran loading di window mozzila.

Seluruh isi rumah, termasuk A’a Dedi sekeluarga lelap dalam rehat akhir pekan. Baru saat mendekati bedug makan siang mereka terbangun dan mulai aktivitas. A’a Dedi cuci motor, teh Anis di dapur, anaknya ikut ke dapur, dan saya masih rebahan. Demi alasan privasi saya tutup pintu kamar. Saya butuh me time.

Di luar terdengar suara A’a Dedi menelpon dengan suara agak keras dalam bahasa Sunda yang tak saya pahami. Setelah itu dia memanggil teh Anis. Kemudian mereka berbincang. Terdengar beberapa kata dalam bahasa Indonesia. Sepenangkapan saya mereka nampaknya mau buka usaha jualan. Kemudian keduanya masuk ke ruang TV lalu ngobrol. Terdengar suara A’a Dedi yang mulai meninggi dan ditimpali teh Anis yang tak kalah tingginya (masih dalam bahasa Sunda yang tak kupahami). Pikir saya, ah mereka mungkin sedang mau bisnis-bisnis gitu.

Tapi tiba-tiba saya dengar beberapa kosa kata dalam bahasa Indonesia (kalau ini saya paham). “Kalau mau dagang ya jangan kebanyakan ngeluh”, suara A’a Dedi terdengar tinggi. “Ya saya nggak ngeluh, orang ini namanya dagang ya harus gini”, sahut teh Anis. Keduanya masih bernada tinggi dalam bicara. Mungkin karena pintu kamar saya tutup jadi mereka merasa bebas berbual sambil teriak-teriak.

“Udah dibilangin jangan banyak ngeluh...”, lanjut A’a Dedi yang dibalas dengan suara tak kalah tinggi teh Anis. Sejurus kemudian... “plakk...”. Terdengar suara yang sepertinya familiar di telinga. Suara yang menunjukkan kekuatan ayunan momentum, p = m x v, dimana p = momentum, m = massa, dan v = kecepatan. Suara itu terdengar mirip dengan suara tepuk tangan. Kulit beradu dengan kulit pada kecepatan rata-rata sekitar 40 km/jam, dengan jarak sekitar 20cm. Suara itu sering terdengar saat saya dulu masih kecil dan nakal. Tergetnya di pipi sebelah kiri. Menerima momentum dari ayunan tangan sebelah kanan. Tangan kanan yang kuat. Itu suara tamparan.

Saya yang tadinya tidur-tidur ayam dengan mata setengah pejam lalu mendadak terbelalak sambil di dalam hati “mbatin” what the fakk. Saya dengar langkah teh Anis menjauh sembari sesenggukan, keluar rumah entah kemana. A’a Dedi lanjut gendong anaknya yang masih polos tak tahu apa-apa kecuali sang bunda melangkah pergi. Teh Anis keluar, A’a Dedi dan anaknya keluar, saya terbangun dan berfikir, “seperti inikah gambaran sebuah rumah tangga?”, seram sekali sampai main tampar. Beberapa detik kemudian banyak pikiran melayang di kepala, kekhawatiran tak beralasan, tapi setelah mendengar kejadian barusan, alasan-alasan mulai muncul dan semakin menguat. “Akankah saya kelak berkeluarga dan dihadapkan pada hal semacam itu?”, pikir saya.


“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”.
(surat kartini kepada Nyonya Abendanon, Agustus 1900)


Mungkin yang dialami teh Anis bisa dikategorikan sebagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Atau itu teguran dalam bentuk tamparan. Menurut saya keduanya, dalam ranah kehidupan rumah tangga tidak bisa dibenarkan. Itu hanya tamparan ringan tanpa kekuatan. Tapi sebuah tamparan tetaplah luka yang membekas baik fisik maupun psikis. Dari pengamatan saya terhadap kejadian ini, jika seorang suami berani menampar istri untuk pertama kalinya (dengan pikiran kalut dan marah tak tertahan), ada kemungkinan dia berani melakukan untuk yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Tidak menutup kemungkinan itu menjadi kebiasaan. Barulah kalau keseringan menampar, saya kira kekerasan dalam rumah tangga sudah bisa disematkan statusnya. Meskipun tidak sampai ekstrim memukul dan menendang hingga berdarah. Menurut saya bentuk tamparan secara sudut pandang submisif menunjukan dominasi pria. Bisa jadi karena keduanya hidup lama dan menganut budaya patriarki, jadi hal semacam itu lambat laun dikatakan wajar.

Manurut data komnas perempuan, kekerasan dalam rumah tangga pada tahun 2016 terdapat 321.752 kasus. Angka sebanyak itu, meskipun seper seribu dibandingkan jumlah penduduk Indonesia, tidak bisa dikatakan kecil. Artinya hampir 1 dari 1000 orang mengalaminya. Sebuah tamparan kepada wanita/istri sudah bisa menimbulkan trauma. Sebuah tamparan sudah cukup menegaskan dominasi pria terhadap wanita. Lantas, apa hubungan antara pria dan wanita, dan bagaimana pembagian tugasnya di lingkup domestik sehingga KDRT kecil-kecilan sebentuk tamparan bisa terjadi. Bagaimana seharusnya wanita memposisikan diri dalam rumah tangga?. Apakah tamparan punya hak bicara lebih dari mulut yang disetir akal, seolah berkata “saya pria lebih berkuasa dari kamu wanita!”. Jauh-jauh hari di awal abad ke 19, R.A Kartini sudah mulai berkontemplasi dan menghasilkan buah pemikiran. Suatu pemikiran yang bahkan sampai sekarang bisa dikatakan liberal dan out of the box. Tidak heran kalau Kartini mendapat label feminis abad 19. Karena zaman itu sikap patriarkis masih kental mendudukan kaum adam sebagai “yang mengatur” urusan apapun, termasuk keputusan rumah tangga.

Dalam salah satu suratnya kepada Estelle "Stella" Zeehandelaar di tahun 1899, Kartini sudah mengkritisi perihal “keningratan” kaum priyayi pada masa itu. Menurut Kartini, apakah hanya karena orang sedari lahir sudah menjadi bangsawan, lantas bisa dikatakan berbeda dalam hal kapasitas pemikiran, dimana kaum bangsawan waktu itu hanya bisa leha-leha sambil kipasan duit dari hasil keringat bumiputera, rakyatnya, kaum inlander yang menjadi buruh tani kumpeni. Terlebih lagi kaum wanita yang pada kalau itu tak beda layaknya barang dagangan yang bisa dibarter dengan laki-laki melalui perjodohan bermuatan politik.

Masih dalam korespondensinya dengan Stalla Zeehandelaar, Kartini menuliskan, “Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia bumiputra, kalau bukan oleh karena kami, tentu oleh orang lain, kemerdekaan perempuan telah terbayang-bayang di udara, sudah ditakdirkan…” (Surat R.A. Kartini kepada Zeehandelaar, 9 Januari 1901)”. Sebuah tulisan yang menurut saya cukup menggugat ego patriarki abad 19. Potongan surat tersebut menegaskan Kartini ingin hak yang sama bagi para perempuan untuk mendapatkan pendidikan, yang menurut Kartini, jika perempuan sudah terdidik, tidak sulit untuk masuk dan berperan dalam ranah domestik. Bukan untuk apa-apa, tapi untuk sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Kalau anda melihat dari kacamatan patriarki juga (saya menghargai anda yang punya pandangan ini), ada tuntutan kebablasan soal kesetaraan gender macam yang sering digaungkan para feminis.


Saya kira apa yang terjadi pada teh Anis tetap merupakan tindakan kekerasan rumah tangga yang tidak bisa dibenarkan. Saya berharap tidak ada teh Anis lainya yang harus menanggung beban akibat pola pikir patriarkis yang masih terpelihara dan dibenarkan oleh lingkungan. Kuncinya adalah keterbukaan pikiran dan sama-sama tahu hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Dengan ini diharapkan lingkaran setan tersebut bisa diputus.



“...seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami.”
(Surat Kartini kepada Zeehandelaar, 25 Mei 1899)



SELAMAT HARI KARTINI






Ilustrasi : http://nationwideradiojm.com/childrens-advocate-ids-abused-girl/

Minggu, 22 Januari 2017

MOTHERTONGUE, MISTERI KENAPA MASAKAN RUMAH ITU NGANGENIN






Mungkin anda paham bahwa istilah mothertongue lebih dekat kaitanya dengan ilmu linguistik yang maknanya adalah “bahasa ibu”. Ini berkaitan dengan bahasa yang digunakan seseorang dalam percakapan keseharian. Jika anda orang Indonesia, anda mungkin memiliki mothertongue BUKAN bahasa Indonesia. Secara, Indonesia memiliki banyak suku, ratusan. Dan sebanyak itu pula bahasa daerah yang dituturkan. Mothertongue ini lebih sempit dari hanya sekedar bahasa daerah. Saya memiliki beberapa teman dan kenalan dari berbagai suku, salah satunya suku Batak yang terkenal mendiami wilayah Sumatera Utara dan Riau. Di dalam suku Batak ini sendiri terbagi menjadi beberapa sub-suku seperti Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Simalungun, Batak Pakpak, dan Batak Angkola. Dari sub suku ini masih dibagi menjadi beberapa marga yang menandai bahwa seseorang termasuk dalam entitas Batak tertentu. Yang saya ingin katakan, setiap dari suku Batak ini memiliki bahasa dan dialek yang berbeda. Saya pernah berbincang dengan seorang kakak angkatan, orang Batak bermarga Saragih. Saya bertanya soal ke-Batak-an karena bagi saya yang orang Jawa, menyentuh kultur Batak pun hanya sebatas tahu bahwa si A bermarga Sitepu, si B bermarga Barus, si C itu Sinaga, hanya itu.


Senior saya ini, bang Saragih cerita pada saya bahwa dalam marganya terdapat satu buku, dia menyebutnya sebagai kitab suci. Isi dari kitab suci ini adalah sejarah marga Saragih-nya dan berbagai manuskrip penting yang menceritakan siapa dan bagaiman Saragih itu. Sehubungan dengan ini, bang Saragih juga menceritakan bahwa setiap sub suku Batak menuturkan bahasa yang berbeda. Bisa jadi Saragih di satu tempat akan bicara dengan dialek yang sedikit berbeda dengan Saragih di tempat lain. Pemahaman saya ini terkait dengan isolasi geokultural yang membentuk suatu kelompok yang mendiami wilayah tertentu, bicara dengan bahasa yang mereka pahami secara komunal khusus untuk wilayah itu saja. Seorang teman satu angkatan saya yang bermarga Siregar membenarkan hal tersebut. Menurutnya, memang dalam satu wilayah yang dihuni orang Batak, terjadi sedikit perbedaan pemilihan diksi saat percakapan. Bisa jadi orang Batak satu dengan yang lain di wilayah yang sama tidak saling paham.


Lantas apa hubunganya mothertongue, orang Batak, dengan makanan rumahan. Begini kawan, saya ingin sedikit memelintirkan definisi mothertongue ini sebagai selera makan seseorang yang dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia tinggal, dalam hal ini pada lingkup yang terkecil yaitu keluarga. Mungkin saya ingin mempersempit mothertongue sebagai citarasa makan seseorang yang dipengaruhi oleh masakan ibu dirumah. Ini penting, karena dalam beberapa budaya masyarakat Indonesia, peran wanita tidak jauh dari urusan dapur. Terlebih lagi jika mereka sudah menginjak usia akil baligh. Segala bentuk perkakas dapur sudah mulai diperkenalkan, termasuk hal dasar bagaimana membedakan bumbu rempah semacam merica, ketumbar, lengkuas, jahe, kunyit, dan juga kencur. Lebih jauh, kemampuan itu adalah bekal untuk mengolah makanan. Tentu saja dengan cara hereditas yang diwariskan dari si ibu kepada anak perempuanya. Proses ini berhubungan dengan kaderisasi anak perempuan yang disiapkan untuk menjadi istri kelak. Dalam tataran masayarakat Indonesia, masih jamak ditemukan keluarga yang mengajarkan nilai tradisional semacam ini. Tidak peduli seberapa tinggi pendidikan seorang wanita, dia kelak yang akan menentukan kedaulatan dapur dan memastikan semua anggota keluarga makan dengan kenyang dan enak. Dalam istilah yang agak ekstrim, “supaya kalau ada tamu nggak malu-maluin kalau ndak bisa masak sendiri”. Berawal dari sinilah mothertongue kemudian mempengaruhi lidah seorang anak yang kerap makan masakan ibunya di rumah.


Makan masakan ibu dirumah tidak hanya berarti makan masakan ibu yang dimasak pada kesempatan tertentu seperti syukuran atau quality time weekend. Masakan rumah olahan ibu adalah yang dimakan sehari-hari, 2 atau 3 kali sehari, dominan mempengaruhi lidah seorang anak. Seorang anak yang terbiasa makan masakan rumah ala ibunya, disadari atau tidak akan menjadikan masakan si ibu sebagai standar minimal bagaimana cita rasa masakan seharusnya. Bagaimanapun rasa masakan ibunya adalah yang paling enak menurutnya. Kalau boleh saya contohkan kaitanya dengan keanekaragaman suku di Indonesia diatas, mereka juga adalah seorang anak yang lama dan terbiasa mencecap cita rasa masakan rumah olahan ibu yang  diwariskan dari ibunya, ibu ibunya (nenek), dan seterusnya keatas dalam lingkup kultural tertentu. Ibu Jawa, ibu Padang, ibu Sunda, dan ibu Bali tentu punya resep andalan yang berbeda satu sama lain, dan mereka mewariskan mothertongue dengan standar rasa yang beda pula.


Pernah suatu ketika saya makan bersama teman-teman seangkatan. Dalam grup tersebut terdapat beberapa orang dari suku yang berbeda, ada Betawi, Batak, Sunda, dan Jawa. Dari sini bisa dilihat tiap suku pasti punya standar “masakan ibu” atau mothertongue yang berbeda. Makanlah kita di rumah makan ikan bakar. Kebetulan pemiliki rumah makan tersebut adalah orang Jawa. Setelah makanan terhidang, cuil-cuil ceria dimulai. Banyak komentar yang waktu itu mengagetkan saya. Teman-teman saya yang beda suku tersebut komentar ini dan itu. Beberapa teman yang berasal dari Sumatera –dimana citarasa masakan cenderung pedas, dominan rasa rempah dan santan- mengatakan bahwa ikan bakar ini terlalu manis. Kawan, tidak pernah sebelumnya saya makan dengan rombongan yang berani mengomentari makanan. Bagi saya yang namanya proses makan adalah menikmati semua yang terhidang di meja makan, seperti apapun bentuk dan rasanya. Setidaknya itulah nilai yang diajarkan ibu saya soal table manner di rumah.


Soal teman-teman saya yang berkomentar pada ketidakcocokan lidah mereka terhadap makanan ikan bakar tersebut membuka mata saya bahwa tidak semua orang berpikiran sama seperti saya soal makanan. Ternyata selera orang beda pada satu jenis ikan bakar ini saja. Lantas saya tergelitik untuk bertanya “menurutmu makanan di Jogja ini kek mana rasanya?”. Banyak dari mereka yang menjawab “terlalu manis”. Oke, saya baru tahu bahwa masakan Jogja itu dominan rasa manisnya. Memang saya menggemari masakan Padang terutama semenjak masuk kuliah. Ada rumah makan Padang langganan saya di daerah selokan Mataram. Selain itu saya juga sering safari rumah makan padang hanya untuk mencicipi kuah gulainya yang sedapnya masyaAllah. Tapi masakan Padang di Jogja rasanya juga gitu-gitu aja (gurih, tapi saya tidak punya pembanding waktu itu). Sepulang dari makan bareng tersebut saya kemudian berfikir. Ternyata mothertongue berpengaruh pada penilaian makanan seseorang terhadap rasa makanan yang berada diluar range standar normatif mereka, dalam hal ini acuanya adalah masakan rumah, masakan ibu. Rasa yang melekat begitu mengakar kuat di alam bawah sadar mereka sehingga perbedaan sedikit saja mungkin sudah cukup membuat mereka diare 2 hari karena cultural shock tersebut.


Terkait mothertongue ini saya termasuk orang yang tidak terlalu pilih-pilih soal makanan. Di rumah, saya diajarkan untuk makan apa saja yang ada di meja. Pernah suatu saat saya berkunjung ke rumah saudara di daerah Kelapa Lima, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ada satu ruas jalan yang pada siang hari merupakan daerah pertokoan dengan trafik jalanan yang padat kendaraan bermotor. Tapi di malam hari jalanan itu ditutup dan dufungsikan sebagai pasar malam, istilah setempat untuk pusat jajanan kuliner. Kebetulan saya mengunjungi daerah itu bersama sepupu saya yang juga ber-mothertongue tulen Jawa. Kami pesan ikan bakar dan satu jenis makanan (saya lupa nama makananya). Makanan yang saya pesan ini berbentuk bubur jagung yang terbuat dari pipilan jagung bakar yang direbus (bukan terbuat dari pipilan jagung manis karena rasanya tidak manis) yang diberi kuah santan. Sepaket dengan bubur jagung tersebut disediakan potongan ikan tuna yang dimasak dengan sambal, mungkin rasanya mirip dengan balado tuna tapi pedas. Jadi yang terhidang di hadapan saya adalah bubur jagung bersantan plus tuna balado pedas. Makanlah saya bubur jagung itu. Suapan pertama, hm ok. Suapan kedua, not bad. Suapan ketiga, ok cukup tahu. Saya memutuskan untuk tidak melanjutkan makan karena rasanya yang diluar standar mothertongue saya. Setelah sepupu saya selesai makan, kami pulang. Bubur jagung tersebut saya bunguks, lengkap dengan tuna balado yang baru saya cuil sedikit. Sesampai di rumah saudara saya, saya berkata dengan diplomatis kepada om saya kalau ini saya tidak habis dan bungkus. Om saya makan dengan lahap bubur jagung tesebut bersama ikan tuna, dan saya menunggui di sampingnya dengan tatapan yang masih tak habis pikir bagaimana orang bisa makan makanan yang rasanya nggak jelas itu. Walhasil saya diare selama kurang lebih 2 hari setelah makan 3 suap bubur jagung nggak jelas itu.


Masih di kota Kupang. Saya memutuskan bahwa beberapa hari kedepan, selama saya berada di kota tersebut, saya hanya sudi makan makanan yang range nya masih masuk standar mothertongue. Fix saya sering makan nasi goreng, ayam, dan telur. Hanya itu yang mampu diterima perut saya. Kebetulan daerah Nusa Tenggara Timur terkenal kaya akan masih lautnya, dan saya gemar makan ikan, ikan apapun. Beruntung ketika saya berkunjung ke salah satu pulau di kepulauan Nusa Tenggara Timur, pulau Sabu namanya, kakek saya berbaik hati mengajak saya ke pasar ikan, beli ikan. Puji syukur pada Tuhan, kakek saya membeli gurita dalam jumlah banyak, jadi saya sering makan gurita. Tentu saja gurita masih masuk (sangat masuk) dalam standar mothertongue saya.


Namun dari pada itu, mothertongue saya akan lebih nyaman ketika makan oseng-oseng tempe, sayur lodeh, dan sambal terasi ala rumah, buatan ibu saya. Percayalah kawan, se-tidak enaknya masakan rumahmu, jika kau bandingkan dengan makanan terenak di luar rumah rasanya jauh beda. Lebih enak makanan rumah. Mungkin ini juga yang disebut mothertongue merasuk pada alam bawah sadar kita dan beranggapan masakan rumah adalah citarasa terbaik dan juga ngangenin.




Ilustrasi : http://momitforward.com/wp-content/uploads/2012/01/girl-mom-cooking.jpg