Mungkin anda paham bahwa istilah mothertongue lebih dekat kaitanya dengan
ilmu linguistik yang maknanya adalah “bahasa
ibu”. Ini berkaitan dengan bahasa yang digunakan seseorang dalam percakapan
keseharian. Jika anda orang Indonesia, anda mungkin memiliki mothertongue BUKAN
bahasa Indonesia. Secara, Indonesia memiliki banyak suku, ratusan. Dan sebanyak
itu pula bahasa daerah yang dituturkan. Mothertongue ini lebih sempit dari
hanya sekedar bahasa daerah. Saya memiliki beberapa teman dan kenalan dari
berbagai suku, salah satunya suku Batak yang terkenal mendiami wilayah Sumatera
Utara dan Riau. Di dalam suku Batak ini sendiri terbagi menjadi beberapa
sub-suku seperti Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Simalungun, Batak Pakpak,
dan Batak Angkola. Dari sub suku ini masih dibagi menjadi beberapa marga yang
menandai bahwa seseorang termasuk dalam entitas Batak tertentu. Yang saya ingin
katakan, setiap dari suku Batak ini memiliki bahasa dan dialek yang berbeda. Saya
pernah berbincang dengan seorang kakak angkatan, orang Batak bermarga Saragih. Saya
bertanya soal ke-Batak-an karena bagi saya yang orang Jawa, menyentuh kultur
Batak pun hanya sebatas tahu bahwa si A bermarga Sitepu, si B bermarga Barus,
si C itu Sinaga, hanya itu.
Senior saya ini, bang Saragih cerita pada saya
bahwa dalam marganya terdapat satu buku, dia menyebutnya sebagai kitab suci. Isi
dari kitab suci ini adalah sejarah marga Saragih-nya dan berbagai manuskrip
penting yang menceritakan siapa dan bagaiman Saragih itu. Sehubungan dengan
ini, bang Saragih juga menceritakan bahwa setiap sub suku Batak menuturkan
bahasa yang berbeda. Bisa jadi Saragih di satu tempat akan bicara dengan dialek
yang sedikit berbeda dengan Saragih di tempat lain. Pemahaman saya ini terkait
dengan isolasi geokultural yang membentuk suatu kelompok yang mendiami wilayah
tertentu, bicara dengan bahasa yang mereka pahami secara komunal khusus untuk
wilayah itu saja. Seorang teman satu angkatan saya yang bermarga Siregar
membenarkan hal tersebut. Menurutnya, memang dalam satu wilayah yang dihuni
orang Batak, terjadi sedikit perbedaan pemilihan diksi saat percakapan. Bisa jadi
orang Batak satu dengan yang lain di wilayah yang sama tidak saling paham.
Lantas apa hubunganya mothertongue, orang Batak, dengan
makanan rumahan. Begini kawan, saya ingin sedikit memelintirkan definisi
mothertongue ini sebagai selera makan seseorang yang dipengaruhi oleh
lingkungan dimana dia tinggal, dalam hal ini pada lingkup yang terkecil yaitu
keluarga. Mungkin saya ingin mempersempit mothertongue sebagai citarasa makan
seseorang yang dipengaruhi oleh masakan ibu dirumah. Ini penting, karena dalam
beberapa budaya masyarakat Indonesia, peran wanita tidak jauh dari urusan
dapur. Terlebih lagi jika mereka sudah menginjak usia akil baligh. Segala bentuk
perkakas dapur sudah mulai diperkenalkan, termasuk hal dasar bagaimana
membedakan bumbu rempah semacam merica, ketumbar, lengkuas, jahe, kunyit, dan
juga kencur. Lebih jauh, kemampuan itu adalah bekal untuk mengolah makanan. Tentu
saja dengan cara hereditas yang diwariskan dari si ibu kepada anak perempuanya.
Proses ini berhubungan dengan kaderisasi anak perempuan yang disiapkan untuk
menjadi istri kelak. Dalam tataran masayarakat Indonesia, masih jamak ditemukan
keluarga yang mengajarkan nilai tradisional semacam ini. Tidak peduli seberapa
tinggi pendidikan seorang wanita, dia kelak yang akan menentukan kedaulatan
dapur dan memastikan semua anggota keluarga makan dengan kenyang dan enak. Dalam
istilah yang agak ekstrim, “supaya kalau ada tamu nggak malu-maluin kalau ndak
bisa masak sendiri”. Berawal dari sinilah mothertongue kemudian mempengaruhi
lidah seorang anak yang kerap makan masakan ibunya di rumah.
Makan masakan ibu dirumah tidak hanya berarti
makan masakan ibu yang dimasak pada kesempatan tertentu seperti syukuran atau
quality time weekend. Masakan rumah olahan ibu adalah yang dimakan sehari-hari,
2 atau 3 kali sehari, dominan mempengaruhi lidah seorang anak. Seorang anak yang
terbiasa makan masakan rumah ala ibunya, disadari atau tidak akan menjadikan
masakan si ibu sebagai standar minimal bagaimana cita rasa masakan seharusnya. Bagaimanapun
rasa masakan ibunya adalah yang paling enak menurutnya. Kalau boleh saya
contohkan kaitanya dengan keanekaragaman suku di Indonesia diatas, mereka juga
adalah seorang anak yang lama dan terbiasa mencecap cita rasa masakan rumah
olahan ibu yang diwariskan dari ibunya,
ibu ibunya (nenek), dan seterusnya keatas dalam lingkup kultural tertentu. Ibu
Jawa, ibu Padang, ibu Sunda, dan ibu Bali tentu punya resep andalan yang
berbeda satu sama lain, dan mereka mewariskan mothertongue dengan standar rasa
yang beda pula.
Pernah suatu ketika saya makan bersama teman-teman
seangkatan. Dalam grup tersebut terdapat beberapa orang dari suku yang berbeda,
ada Betawi, Batak, Sunda, dan Jawa. Dari sini bisa dilihat tiap suku pasti
punya standar “masakan ibu” atau mothertongue yang berbeda. Makanlah kita di
rumah makan ikan bakar. Kebetulan pemiliki rumah makan tersebut adalah orang
Jawa. Setelah makanan terhidang, cuil-cuil ceria dimulai. Banyak komentar yang
waktu itu mengagetkan saya. Teman-teman saya yang beda suku tersebut komentar
ini dan itu. Beberapa teman yang berasal dari Sumatera –dimana citarasa masakan
cenderung pedas, dominan rasa rempah dan santan- mengatakan bahwa ikan bakar
ini terlalu manis. Kawan, tidak pernah sebelumnya saya makan dengan rombongan
yang berani mengomentari makanan. Bagi saya yang namanya proses makan adalah menikmati
semua yang terhidang di meja makan, seperti apapun bentuk dan rasanya. Setidaknya
itulah nilai yang diajarkan ibu saya soal table
manner di rumah.
Soal teman-teman saya yang berkomentar pada
ketidakcocokan lidah mereka terhadap makanan ikan bakar tersebut membuka mata
saya bahwa tidak semua orang berpikiran sama seperti saya soal makanan. Ternyata
selera orang beda pada satu jenis ikan bakar ini saja. Lantas saya tergelitik
untuk bertanya “menurutmu makanan di Jogja ini kek mana rasanya?”. Banyak dari
mereka yang menjawab “terlalu manis”. Oke, saya baru tahu bahwa masakan Jogja
itu dominan rasa manisnya. Memang saya menggemari masakan Padang terutama
semenjak masuk kuliah. Ada rumah makan Padang langganan saya di daerah selokan
Mataram. Selain itu saya juga sering safari rumah makan padang hanya untuk
mencicipi kuah gulainya yang sedapnya masyaAllah. Tapi masakan Padang di Jogja
rasanya juga gitu-gitu aja (gurih, tapi saya tidak punya pembanding waktu itu).
Sepulang dari makan bareng tersebut saya kemudian berfikir. Ternyata mothertongue
berpengaruh pada penilaian makanan seseorang terhadap rasa makanan yang berada
diluar range standar normatif mereka,
dalam hal ini acuanya adalah masakan rumah, masakan ibu. Rasa yang melekat
begitu mengakar kuat di alam bawah sadar mereka sehingga perbedaan sedikit saja
mungkin sudah cukup membuat mereka diare 2 hari karena cultural shock tersebut.
Terkait mothertongue ini saya termasuk orang yang
tidak terlalu pilih-pilih soal makanan. Di rumah, saya diajarkan untuk makan
apa saja yang ada di meja. Pernah suatu saat saya berkunjung ke rumah saudara
di daerah Kelapa Lima, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ada satu ruas jalan yang
pada siang hari merupakan daerah pertokoan dengan trafik jalanan yang padat
kendaraan bermotor. Tapi di malam hari jalanan itu ditutup dan dufungsikan
sebagai pasar malam, istilah setempat untuk pusat jajanan kuliner. Kebetulan saya
mengunjungi daerah itu bersama sepupu saya yang juga ber-mothertongue tulen
Jawa. Kami pesan ikan bakar dan satu jenis makanan (saya lupa nama makananya). Makanan
yang saya pesan ini berbentuk bubur jagung yang terbuat dari pipilan jagung
bakar yang direbus (bukan terbuat dari pipilan jagung manis karena rasanya
tidak manis) yang diberi kuah santan. Sepaket dengan bubur jagung tersebut
disediakan potongan ikan tuna yang dimasak dengan sambal, mungkin rasanya mirip
dengan balado tuna tapi pedas. Jadi yang terhidang di hadapan saya adalah bubur
jagung bersantan plus tuna balado pedas. Makanlah saya bubur jagung itu. Suapan
pertama, hm ok. Suapan kedua, not bad. Suapan ketiga, ok cukup tahu. Saya memutuskan
untuk tidak melanjutkan makan karena rasanya yang diluar standar mothertongue
saya. Setelah sepupu saya selesai makan, kami pulang. Bubur jagung tersebut
saya bunguks, lengkap dengan tuna balado yang baru saya cuil sedikit. Sesampai di
rumah saudara saya, saya berkata dengan diplomatis kepada om saya kalau ini
saya tidak habis dan bungkus. Om saya makan dengan lahap bubur jagung tesebut
bersama ikan tuna, dan saya menunggui di sampingnya dengan tatapan yang masih
tak habis pikir bagaimana orang bisa makan makanan yang rasanya nggak jelas
itu. Walhasil saya diare selama kurang lebih 2 hari setelah makan 3 suap bubur
jagung nggak jelas itu.
Masih di kota Kupang. Saya memutuskan bahwa
beberapa hari kedepan, selama saya berada di kota tersebut, saya hanya sudi
makan makanan yang range nya masih masuk standar mothertongue. Fix saya sering
makan nasi goreng, ayam, dan telur. Hanya itu yang mampu diterima perut saya. Kebetulan
daerah Nusa Tenggara Timur terkenal kaya akan masih lautnya, dan saya gemar
makan ikan, ikan apapun. Beruntung ketika saya berkunjung ke salah satu pulau
di kepulauan Nusa Tenggara Timur, pulau Sabu namanya, kakek saya berbaik hati
mengajak saya ke pasar ikan, beli ikan. Puji syukur pada Tuhan, kakek saya
membeli gurita dalam jumlah banyak, jadi saya sering makan gurita. Tentu saja
gurita masih masuk (sangat masuk) dalam standar mothertongue saya.
Namun dari pada itu, mothertongue saya akan lebih
nyaman ketika makan oseng-oseng tempe, sayur lodeh, dan sambal terasi ala
rumah, buatan ibu saya. Percayalah kawan, se-tidak enaknya masakan rumahmu,
jika kau bandingkan dengan makanan terenak di luar rumah rasanya jauh beda. Lebih
enak makanan rumah. Mungkin ini juga yang disebut mothertongue merasuk pada
alam bawah sadar kita dan beranggapan masakan rumah adalah citarasa terbaik dan
juga ngangenin.
Ilustrasi : http://momitforward.com/wp-content/uploads/2012/01/girl-mom-cooking.jpg
Tidak ada komentar:
Posting Komentar