Minggu, 22 Januari 2017

MOTHERTONGUE, MISTERI KENAPA MASAKAN RUMAH ITU NGANGENIN






Mungkin anda paham bahwa istilah mothertongue lebih dekat kaitanya dengan ilmu linguistik yang maknanya adalah “bahasa ibu”. Ini berkaitan dengan bahasa yang digunakan seseorang dalam percakapan keseharian. Jika anda orang Indonesia, anda mungkin memiliki mothertongue BUKAN bahasa Indonesia. Secara, Indonesia memiliki banyak suku, ratusan. Dan sebanyak itu pula bahasa daerah yang dituturkan. Mothertongue ini lebih sempit dari hanya sekedar bahasa daerah. Saya memiliki beberapa teman dan kenalan dari berbagai suku, salah satunya suku Batak yang terkenal mendiami wilayah Sumatera Utara dan Riau. Di dalam suku Batak ini sendiri terbagi menjadi beberapa sub-suku seperti Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Simalungun, Batak Pakpak, dan Batak Angkola. Dari sub suku ini masih dibagi menjadi beberapa marga yang menandai bahwa seseorang termasuk dalam entitas Batak tertentu. Yang saya ingin katakan, setiap dari suku Batak ini memiliki bahasa dan dialek yang berbeda. Saya pernah berbincang dengan seorang kakak angkatan, orang Batak bermarga Saragih. Saya bertanya soal ke-Batak-an karena bagi saya yang orang Jawa, menyentuh kultur Batak pun hanya sebatas tahu bahwa si A bermarga Sitepu, si B bermarga Barus, si C itu Sinaga, hanya itu.


Senior saya ini, bang Saragih cerita pada saya bahwa dalam marganya terdapat satu buku, dia menyebutnya sebagai kitab suci. Isi dari kitab suci ini adalah sejarah marga Saragih-nya dan berbagai manuskrip penting yang menceritakan siapa dan bagaiman Saragih itu. Sehubungan dengan ini, bang Saragih juga menceritakan bahwa setiap sub suku Batak menuturkan bahasa yang berbeda. Bisa jadi Saragih di satu tempat akan bicara dengan dialek yang sedikit berbeda dengan Saragih di tempat lain. Pemahaman saya ini terkait dengan isolasi geokultural yang membentuk suatu kelompok yang mendiami wilayah tertentu, bicara dengan bahasa yang mereka pahami secara komunal khusus untuk wilayah itu saja. Seorang teman satu angkatan saya yang bermarga Siregar membenarkan hal tersebut. Menurutnya, memang dalam satu wilayah yang dihuni orang Batak, terjadi sedikit perbedaan pemilihan diksi saat percakapan. Bisa jadi orang Batak satu dengan yang lain di wilayah yang sama tidak saling paham.


Lantas apa hubunganya mothertongue, orang Batak, dengan makanan rumahan. Begini kawan, saya ingin sedikit memelintirkan definisi mothertongue ini sebagai selera makan seseorang yang dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia tinggal, dalam hal ini pada lingkup yang terkecil yaitu keluarga. Mungkin saya ingin mempersempit mothertongue sebagai citarasa makan seseorang yang dipengaruhi oleh masakan ibu dirumah. Ini penting, karena dalam beberapa budaya masyarakat Indonesia, peran wanita tidak jauh dari urusan dapur. Terlebih lagi jika mereka sudah menginjak usia akil baligh. Segala bentuk perkakas dapur sudah mulai diperkenalkan, termasuk hal dasar bagaimana membedakan bumbu rempah semacam merica, ketumbar, lengkuas, jahe, kunyit, dan juga kencur. Lebih jauh, kemampuan itu adalah bekal untuk mengolah makanan. Tentu saja dengan cara hereditas yang diwariskan dari si ibu kepada anak perempuanya. Proses ini berhubungan dengan kaderisasi anak perempuan yang disiapkan untuk menjadi istri kelak. Dalam tataran masayarakat Indonesia, masih jamak ditemukan keluarga yang mengajarkan nilai tradisional semacam ini. Tidak peduli seberapa tinggi pendidikan seorang wanita, dia kelak yang akan menentukan kedaulatan dapur dan memastikan semua anggota keluarga makan dengan kenyang dan enak. Dalam istilah yang agak ekstrim, “supaya kalau ada tamu nggak malu-maluin kalau ndak bisa masak sendiri”. Berawal dari sinilah mothertongue kemudian mempengaruhi lidah seorang anak yang kerap makan masakan ibunya di rumah.


Makan masakan ibu dirumah tidak hanya berarti makan masakan ibu yang dimasak pada kesempatan tertentu seperti syukuran atau quality time weekend. Masakan rumah olahan ibu adalah yang dimakan sehari-hari, 2 atau 3 kali sehari, dominan mempengaruhi lidah seorang anak. Seorang anak yang terbiasa makan masakan rumah ala ibunya, disadari atau tidak akan menjadikan masakan si ibu sebagai standar minimal bagaimana cita rasa masakan seharusnya. Bagaimanapun rasa masakan ibunya adalah yang paling enak menurutnya. Kalau boleh saya contohkan kaitanya dengan keanekaragaman suku di Indonesia diatas, mereka juga adalah seorang anak yang lama dan terbiasa mencecap cita rasa masakan rumah olahan ibu yang  diwariskan dari ibunya, ibu ibunya (nenek), dan seterusnya keatas dalam lingkup kultural tertentu. Ibu Jawa, ibu Padang, ibu Sunda, dan ibu Bali tentu punya resep andalan yang berbeda satu sama lain, dan mereka mewariskan mothertongue dengan standar rasa yang beda pula.


Pernah suatu ketika saya makan bersama teman-teman seangkatan. Dalam grup tersebut terdapat beberapa orang dari suku yang berbeda, ada Betawi, Batak, Sunda, dan Jawa. Dari sini bisa dilihat tiap suku pasti punya standar “masakan ibu” atau mothertongue yang berbeda. Makanlah kita di rumah makan ikan bakar. Kebetulan pemiliki rumah makan tersebut adalah orang Jawa. Setelah makanan terhidang, cuil-cuil ceria dimulai. Banyak komentar yang waktu itu mengagetkan saya. Teman-teman saya yang beda suku tersebut komentar ini dan itu. Beberapa teman yang berasal dari Sumatera –dimana citarasa masakan cenderung pedas, dominan rasa rempah dan santan- mengatakan bahwa ikan bakar ini terlalu manis. Kawan, tidak pernah sebelumnya saya makan dengan rombongan yang berani mengomentari makanan. Bagi saya yang namanya proses makan adalah menikmati semua yang terhidang di meja makan, seperti apapun bentuk dan rasanya. Setidaknya itulah nilai yang diajarkan ibu saya soal table manner di rumah.


Soal teman-teman saya yang berkomentar pada ketidakcocokan lidah mereka terhadap makanan ikan bakar tersebut membuka mata saya bahwa tidak semua orang berpikiran sama seperti saya soal makanan. Ternyata selera orang beda pada satu jenis ikan bakar ini saja. Lantas saya tergelitik untuk bertanya “menurutmu makanan di Jogja ini kek mana rasanya?”. Banyak dari mereka yang menjawab “terlalu manis”. Oke, saya baru tahu bahwa masakan Jogja itu dominan rasa manisnya. Memang saya menggemari masakan Padang terutama semenjak masuk kuliah. Ada rumah makan Padang langganan saya di daerah selokan Mataram. Selain itu saya juga sering safari rumah makan padang hanya untuk mencicipi kuah gulainya yang sedapnya masyaAllah. Tapi masakan Padang di Jogja rasanya juga gitu-gitu aja (gurih, tapi saya tidak punya pembanding waktu itu). Sepulang dari makan bareng tersebut saya kemudian berfikir. Ternyata mothertongue berpengaruh pada penilaian makanan seseorang terhadap rasa makanan yang berada diluar range standar normatif mereka, dalam hal ini acuanya adalah masakan rumah, masakan ibu. Rasa yang melekat begitu mengakar kuat di alam bawah sadar mereka sehingga perbedaan sedikit saja mungkin sudah cukup membuat mereka diare 2 hari karena cultural shock tersebut.


Terkait mothertongue ini saya termasuk orang yang tidak terlalu pilih-pilih soal makanan. Di rumah, saya diajarkan untuk makan apa saja yang ada di meja. Pernah suatu saat saya berkunjung ke rumah saudara di daerah Kelapa Lima, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ada satu ruas jalan yang pada siang hari merupakan daerah pertokoan dengan trafik jalanan yang padat kendaraan bermotor. Tapi di malam hari jalanan itu ditutup dan dufungsikan sebagai pasar malam, istilah setempat untuk pusat jajanan kuliner. Kebetulan saya mengunjungi daerah itu bersama sepupu saya yang juga ber-mothertongue tulen Jawa. Kami pesan ikan bakar dan satu jenis makanan (saya lupa nama makananya). Makanan yang saya pesan ini berbentuk bubur jagung yang terbuat dari pipilan jagung bakar yang direbus (bukan terbuat dari pipilan jagung manis karena rasanya tidak manis) yang diberi kuah santan. Sepaket dengan bubur jagung tersebut disediakan potongan ikan tuna yang dimasak dengan sambal, mungkin rasanya mirip dengan balado tuna tapi pedas. Jadi yang terhidang di hadapan saya adalah bubur jagung bersantan plus tuna balado pedas. Makanlah saya bubur jagung itu. Suapan pertama, hm ok. Suapan kedua, not bad. Suapan ketiga, ok cukup tahu. Saya memutuskan untuk tidak melanjutkan makan karena rasanya yang diluar standar mothertongue saya. Setelah sepupu saya selesai makan, kami pulang. Bubur jagung tersebut saya bunguks, lengkap dengan tuna balado yang baru saya cuil sedikit. Sesampai di rumah saudara saya, saya berkata dengan diplomatis kepada om saya kalau ini saya tidak habis dan bungkus. Om saya makan dengan lahap bubur jagung tesebut bersama ikan tuna, dan saya menunggui di sampingnya dengan tatapan yang masih tak habis pikir bagaimana orang bisa makan makanan yang rasanya nggak jelas itu. Walhasil saya diare selama kurang lebih 2 hari setelah makan 3 suap bubur jagung nggak jelas itu.


Masih di kota Kupang. Saya memutuskan bahwa beberapa hari kedepan, selama saya berada di kota tersebut, saya hanya sudi makan makanan yang range nya masih masuk standar mothertongue. Fix saya sering makan nasi goreng, ayam, dan telur. Hanya itu yang mampu diterima perut saya. Kebetulan daerah Nusa Tenggara Timur terkenal kaya akan masih lautnya, dan saya gemar makan ikan, ikan apapun. Beruntung ketika saya berkunjung ke salah satu pulau di kepulauan Nusa Tenggara Timur, pulau Sabu namanya, kakek saya berbaik hati mengajak saya ke pasar ikan, beli ikan. Puji syukur pada Tuhan, kakek saya membeli gurita dalam jumlah banyak, jadi saya sering makan gurita. Tentu saja gurita masih masuk (sangat masuk) dalam standar mothertongue saya.


Namun dari pada itu, mothertongue saya akan lebih nyaman ketika makan oseng-oseng tempe, sayur lodeh, dan sambal terasi ala rumah, buatan ibu saya. Percayalah kawan, se-tidak enaknya masakan rumahmu, jika kau bandingkan dengan makanan terenak di luar rumah rasanya jauh beda. Lebih enak makanan rumah. Mungkin ini juga yang disebut mothertongue merasuk pada alam bawah sadar kita dan beranggapan masakan rumah adalah citarasa terbaik dan juga ngangenin.




Ilustrasi : http://momitforward.com/wp-content/uploads/2012/01/girl-mom-cooking.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar