ANNELIS CHLOE, GADIS BERKULIT GELAP DAN RAMBUT KERITING PART
III
De regen die
vandaag valt, valt morgen niet
The rain falls today, never falls tomorrow
Dutch proverb
Sore itu sekitar jam 5. Menjelang petang, di salah satu
bilangan jalan Parangtritis, dekat bangunan besar, putih, berada di sisi pojok
jalan. Sebuah bangunan yang menandai wilayah kerajaan Mataram Islam. Sebuah benteng
yang dahulu dipakai untuk berlindung dari serangan bedil kumpeni yang numpang
tenar lewat kongsi Vereenigde
Oostindische Compagnie. Mungkin karena dulu belum sistem online, jadi
Adriaan Jakobsz harus rela repot-repot mengarungi lautan dengan kapal Batavia-nya yang kondang itu. Gerimis sendu
mengguyur, tidak deras, tapi cukuplah membasahkan, in de week zetten lah. Jalanan yang padat karena jam pulang kantor
dan pulang sekolah, tidak menghalangiku menagih janji dengan Annelis untuk
bertemu. Tatkala kujanjikan padanya soal matahari terbenam nan syahdu,
nampaknya langit berkehendak lain. Hajatnya tak bisa dibendung menyemai badai. Tapi
tak apalah, toh aku dengan Annelis tetap bertemu di kafe itu. Kebetulan waktu
itu bulan November, mendekati akhir tahun. Meski bukan peak season summer holiday, tetap saja banyak bule bersliweran
dengan pakaian minim dan seadanya, tanktop
dan hotpants. Sangat segar dipandang.
Terlebih lagi waktu itu aku barusan pulang kerja. Cuci mata sebentar tak ada
salahnya, veel van de mooie vrouwen.
Segelas besar susu hazlenut
di hadapanku dan coklat panas di depan Annelis menemani bincang sore bertirai
gerimis. Mau dikata syahdu, Annelis bukan miliku. Tapi nyatanya memang begitu. Kartu
UNO diatas meja. Bedak baby dikeluarkan. Canda tawa mulai disulut. Sembari membagi
kartu, kumulai membuka kata. Sepatah dua patah mengungkapkan kekaguman sembari
bercerita soal hidup Annelis. Tentu karena mendekati akhir tahun, pikinik sudah
menjadi wacana. Annelis berujar, “seseorang mengajaku mencumbu negeri diatas
awan”. Oh kawan, kutahu itu pegunungan di Jawa Tengah yang banyak terdapat
tanaman kentang dan juga beberapa candi. Itu tempat yang dingin. Penasaran siapa
pria beruntung yang berhasil mengajak Annelis naik gunung ini. Negeri diatas
awan pulak. Pasti sangat romantis. Tak bisa kubayangkan Annelis muda belia
jelita ini merajut asmara bersama seorang pria. Proposalnya diatas bukit.
Seribu satu alasan akan kucari demi membaitkan kisah
romantika Annelis yang fenomenal ini kawan. Jarang kutemui gadis yang begitu
mudahnya melting karena beberapa bait puisi dan segelas es krim, tapi masih
tetap teguh dengan mata nanar yang tegas. Kutahu Annelis orang baik. Dan kuharap
pria yang mengajaknya mendaki punggung gunung juga baik. Lama kami berbincang. Kukorek
semua yang ada pada Annelis. Sampai pada akhirnya Annelis mati kutu. Keluarlah nama
K. Inisial pria beruntung yang berencana mengajak Annelis menghabiskan malam
tahun baru di puncak bukit. Diatas awan. Negeri para dewa.
Sembari kubanting kartu diatas meja dan mengucap “UNO”,
kutatap mata sendu Annelis. Kulitnya yang putih bersih dengan urat nadi
kehijauan sedikit menonjol di samping mata kananya. Tatapan kami beradu. Kutanya
padanya “berapa lama kau dekat dengan pria K ini?”. “Semenjak pertama kali
kerja”, balasnya. Aku sedikit penasaran dengan selera Annelis memilih
laki-laki. Mungkin aku dan kau, kawan, akan sepakat bahwa Annelis adalah gadis
cantik dengan perangai innocent yang humble. Tapi di mata Annelis, banyak
laki-laki berbulu domba yang menyaru demi meraup hatinya. Banyak yang suka
dengan Annelis. Sayangnya sebanyak itu pula yang ditolaknya secara halus. Kalau
tidak terpaksa, dia tak akan menggubris gurauan dan curhatan laki-laki. Sering terjadi
laki-laki salah paham karena mendapat perhatian Annelis. Hanya karena
curhatanya mendapat terfasilitasi, lantas laki-laki ini meneruskan
penetrasinya. Untung Annelis cukup tahu dengan trik ecek-ecek picisan semacam
ini. Tapi tidak dengan K. Pria cool dengan tampang garang dan berdarah dingin
ini agak diwaspadai di lingkunganya. Banyak rumor mengatakan untuk berhati-hati
terhadap K. Tapi siapa sangka Annelis jatuh juga ke pelukannya, atau malah K yang
takluk dengan Annelis. Annelis mengakui salah paham terhadap K yang dinilainya
dari “apa kata orang”. Terlebih lagi, K adalah seorang penulis. Kadang Annelis tak
berkedip menatap betapa seriusnya wajah K saat menarikan jemarinya diatas keyboard laptop. Saking seriusnya,
melting Annelis dibuatnya.
“Aku udah nyusun rencana anggaran buat ke negeri diatas
awan besok akhir tahun, sama temen-temenku, mama nggak ngebolehin aku jalan
berdua aja sama K”, lanjut Annelis menceritakan rencananya. Aku hanya
mendengarkan dengan seksama, tanpa kedip. Bukan ceritanya, tapi Annelislah yang
entah kenapa tak elak tatapku darinya. “Ini anak kok bisa lucu gini sih”, gumamku
dalam hati. “UNO”, sekali lagi kukalahkan Annelis dalam beberapa babak
permainan kartu. Perasaan baru kemarin dia mengajariku main kartu, sekarang
bedak sudah belepotan di wajahnya. Tapi percayalah kawan, bukan menang atau
kalah yang kucari. Kesempatan berbincang dengan Annelis adalah yang utama.
Malam semakin larut, pongah manusia terselimuti malam
gelap dan rintik hujan yang tak kunjung berkurang, menyeringai bintang di
langit menatap insan culas yang tak berdaya tanpa matahari hadir menerangi
langkah mereka, duisternis omhult mij.
Segelas susu hazlenut sudah hampir habis, pun dengan coklat Annelis. Waktu menunjukan
hampir jam 9 malam. Sudah waktunya para perawan bersiap pulang. Yang tidak
perawan masih dipersilahkan lanjut, tapi itu hak masing-masing. Toh bagiku
perawan atau tidak sama saja. Mereka makhluk Tuhan yang berhak mendapat peluk
dan sayang-Nya. Jam tangan hitam melingkar di pergelangan Annelis. Diliriknya jam.
Kutanya padanya apa sudah mau pulang. “Lanjut besok lagi ya, ngantuk nih”. Kuakhiri
sesi malam itu bersama Annelis. Berbekal segudang cerita, salam perpisahan
mengiringi langkah kami kembali ke rumah masing-masing.
Esok hari kegiatan berjalan seperti biasa. Aku dan timku
di ruang isolasi, Annelis sibuk melayani customer. Sesekali kusamperin Annelis
di ruanganya. Maklum ruanganku tiada ber-AC, jadi sedikit gembrobyos. Rekan se-tim-ku, Don dan juga Daniel menganggapku orang
yang tak bisa lama-lama duduk di kursi. Harus sering jalan supaya dapat
inspirasi. Kawan, ada pepatah berucap, “menulis ibarat kencing, kalau mau
keluar banyak, harus minum banyak juga”. Jadi aku berjalan-jalan sekedar
melemaskan kaki dan mencari udara segar. Kalau inspirasi didapat, langsung
kembali ke cockpit melanjutkan dogfight, meskipun bukan sebagai
frontman di HMS Daedalus, aku tetap
semangat, panas, menguntai kata dalam alinea. Tandem dengan Don Sultano la mafia italiano dan Daniel de robotica werktuigkundinge berasa
seperti pacuan kuda, harus cepat atau kalah cepat.
Sebelum lupa kuceritakan padamu kawan, aku mengenal K ini
juga karena kebetulan. Dia adalah seorang penulis juga di niche kami. Penulis yang
cukup cerdas menurutku. Sekali pernah Don Sultano menuliskan rasa kehilanganya
terhadap si K di sebuah blog miliknya. Kubaca dengan seksama, betapa orang ini
sangat dihormat oleh Don, entah kenapa. Disebutnya memiliki brewok tebal tanpa
Firdaus dan Wakdoyok, mata tajam, perangai garang, dan wawasan yang luas,
begitu ulasan Don Sultano mendeskripsikan K. Segarang itukah?. Tapi pada
kenyataanya, kegarangan pria K ini goyah juga di hadapan Annelis Chloe, gadis
jelita dengan rambut panjang menggelombang bergincu merah dan berkacamata. Haruskah
kukatakan padamu kawan, gadis berkacamata memang memiliki pesona tersendiri. Mungkin
tak lebih cantik dari Aurora dalam
kisah fiksi La Belle au Bois dormant, karya
Charles Perreault. Mungkin Aurora memang tak berkacamata dan gincu merah. Tapi rambut
dan kulit putihnya yang dihiasi bulu halus di bagian siku cukup meluluhlantakan
pertahanan K yang dalam waktu singkat berhasil ngajak ngopi Annelis juga. Dilucutinya
pelan-pelan sanubari Annelis hingga pada akhirnya “iya” adalah jawaban untuk
ajakan berkunjung ke negeri diatas awan, negeri para dewa, berselimut kabut dan
dihiasi kebersahajaan para petani kentang. Tahukah kau kawan, kentang bisa ada
dan nge-hits di negeri kita karena dibawa oleh para pelaut asing. Kentang dibudidayakan
oleh bangsa Portugis yang kemudian diabawa ke Amerika Selatan pada paruh abad
XVI. Mungkin saat menginjakkan kaki di benua antah berantah, Vespucci, Cabral,
dan juga Magelhaens bangkit kegirangan sembari menenggak Rum, Nos achamos, teriaknya.
Dan begitulah ceritanya kentang sampai menyebar ke negara
kita juga karena bapak-bapak pelaut itu. Maka “nenek moyangku seorang pelaut”
layak disematkan kepada para pembawa Solanum
tuberosum tersebut. Dan bongkahan kentang gendut-gendut itu yang kelak
menjadi saksi romantika Annelis bersama K. Yang saat kutahu dia sudah
berulangkali ngopi bareng K di kafe, itupun berpindah-pindah. Annelis seperti
gadis pada umumnya yang menyukai hal-hal berbau romantisme. Salah satu hal yang
menurut Annelis romantis adalah puisi. Gubahan puisi karya K acap kali membuat
Annelis melting tak karuan. Kadang senyum-senyum sendiri sambil kepalanya
tertunduk tiba-tiba. Berat, jatuh, meleleh. Lambat laun antara Annelis dengan K
akrab rupanya. Pada akhirnya Annelis bercerita padaku soal perasaan aneh yang
didapatnya saat dekat dengan K. “Seperti rasa nyaman yang kadang tak butuh
alasan”, begitu katanya. “Mmm... mungkin suka, mungkin sayang”, tambahnya.
Annelis adalah salah satu diantara banyak gadis yang
memiliki pesona memikat. Betapa tidak, sepertinya Tuhan menganugerahkan
kemampuan memetik senar gitar kepadanya bukan tanpa alasan. Terkadan K pun
dibuat terjerembab olehnya. Lantunan Romance de’Amor yang singkat saja membuat
K klepek-klepek. Itu belum Classical Gas-nya Eric Clapton dan sederet melodi
lain yang coba di-cover Annelis. Jadi sebenarnya siapa melting ke siapa??.
Di waktu lain K mengajak Annelis ke sebuah kafe untuk
ngopi sore. Seperti biasa, sore menjelang malam di kafe yang bertingkat, alasan
klasik, matahari terbenam. K sering menanyakan pertanyaan retoris yang dijawab
retoris pula oleh Annelis. “Gimana, romantis kan tempatnya, bisa liat matahari
terbenam”, kata K. “Sukaaaakkk”, jawab Annelis dengan sunggingan bibir khasnya
yang menawan, gincu merahnya pudar setelah seharian bergelut dengan karir. Meskipun
terlihat garang, K luluh dihantam senyum Annelis. Tidak pernah sebelumnya
terjadi. Kawan, taukah kau, bahkan seorang Julius Caesar sang jendral Romawi
pun ditawan oleh jelitanya paras Cleopatra. Mungkin hal yang sama sedang
terjadi pada K yang dihujam perhatian Annelis bak tombak Gungnir milik Odin yang menusuk serigala raksasa Fenrir dalam Ragnarok. Dipeluknya Annelis tanpa
sepatah kata.
“aku takut”,
ujar Annelis..
“Takut kenapa
rupanya?, masih takut padaku yang seram ini?”, tanya K..
“Bukan, aku takut
suka kamu”, balas Annelis..
Kawan, pria mana yang tak gentar mendengar hal macam itu
dari mulut seorang gadis, gadis yang disukai pulak. Tapi karena memang
pembawaan K yang kalem dan stay cool, dalam situasi demikian K dengan tenang
mengangkat dagu Annelis yang sedari tadi terperosok ke dada K karena malu bukan
kepalang. Ditatapnya mata Annelis dalam-dalam, raut wajah sendu, bibir mecucu,
wajah merah merona seperti kepiting rebus. Disibaknya rambut Annelis yang
sedari tadi sengaja dihimpunya menutupi wajah karena malu. Dengan pelan tapi
pasti K membisik di telinga Annelis.
“Eh denger ya, kamu
takut suka sama aku, aku lho yang udah suka sama kamu biasa aja, tetep stay
cool”, kata K..
“Whaaaattt”, Annelis
terkejut..
Annelis tak habis pikir dengan jawaban K. Pria yang
dikenalnya garang, sangar, berdarah dingin ini suka kepadanya. Bagaimana mungkin.
“Kamu, suka sama
aku? What the hell”, Annelis tambah tak percaya..
“Apa yang kamu suka
dari aku yang kek gini, kucel, bodo, gak cantik ?”, tanya Annelis..
“Kadang nggak butuh
alasan kalik buat suka”, jawab K..
Yang di kemudian hari kutahu itu pledoi klise dari K karena
tiada punya alasan konkrit mendukung statement abal-abalnya..
Latet enim
veritas, sed nihil pretiosius veritate
Truth is hidden, but nothing more beautiful than the
truth
Latin proverb
...BERSAMBUNG...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar