Senin, 16 Januari 2017

ANNELIS CHLOE, GADIS BERKULIT GELAP DAN RAMBUT KERITING PART III



ANNELIS CHLOE, GADIS BERKULIT GELAP DAN RAMBUT KERITING PART III







De regen die vandaag valt, valt morgen niet
The rain falls today, never falls tomorrow
Dutch proverb



Sore itu sekitar jam 5. Menjelang petang, di salah satu bilangan jalan Parangtritis, dekat bangunan besar, putih, berada di sisi pojok jalan. Sebuah bangunan yang menandai wilayah kerajaan Mataram Islam. Sebuah benteng yang dahulu dipakai untuk berlindung dari serangan bedil kumpeni yang numpang tenar lewat kongsi Vereenigde Oostindische Compagnie. Mungkin karena dulu belum sistem online, jadi Adriaan Jakobsz harus rela repot-repot mengarungi lautan dengan kapal Batavia-nya yang kondang itu. Gerimis sendu mengguyur, tidak deras, tapi cukuplah membasahkan, in de week zetten lah. Jalanan yang padat karena jam pulang kantor dan pulang sekolah, tidak menghalangiku menagih janji dengan Annelis untuk bertemu. Tatkala kujanjikan padanya soal matahari terbenam nan syahdu, nampaknya langit berkehendak lain. Hajatnya tak bisa dibendung menyemai badai. Tapi tak apalah, toh aku dengan Annelis tetap bertemu di kafe itu. Kebetulan waktu itu bulan November, mendekati akhir tahun. Meski bukan peak season summer holiday, tetap saja banyak bule bersliweran dengan pakaian minim dan seadanya, tanktop dan hotpants. Sangat segar dipandang. Terlebih lagi waktu itu aku barusan pulang kerja. Cuci mata sebentar tak ada salahnya, veel van de mooie vrouwen.

Segelas besar susu hazlenut di hadapanku dan coklat panas di depan Annelis menemani bincang sore bertirai gerimis. Mau dikata syahdu, Annelis bukan miliku. Tapi nyatanya memang begitu. Kartu UNO diatas meja. Bedak baby dikeluarkan. Canda tawa mulai disulut. Sembari membagi kartu, kumulai membuka kata. Sepatah dua patah mengungkapkan kekaguman sembari bercerita soal hidup Annelis. Tentu karena mendekati akhir tahun, pikinik sudah menjadi wacana. Annelis berujar, “seseorang mengajaku mencumbu negeri diatas awan”. Oh kawan, kutahu itu pegunungan di Jawa Tengah yang banyak terdapat tanaman kentang dan juga beberapa candi. Itu tempat yang dingin. Penasaran siapa pria beruntung yang berhasil mengajak Annelis naik gunung ini. Negeri diatas awan pulak. Pasti sangat romantis. Tak bisa kubayangkan Annelis muda belia jelita ini merajut asmara bersama seorang pria. Proposalnya diatas bukit.

Seribu satu alasan akan kucari demi membaitkan kisah romantika Annelis yang fenomenal ini kawan. Jarang kutemui gadis yang begitu mudahnya melting karena beberapa bait puisi dan segelas es krim, tapi masih tetap teguh dengan mata nanar yang tegas. Kutahu Annelis orang baik. Dan kuharap pria yang mengajaknya mendaki punggung gunung juga baik. Lama kami berbincang. Kukorek semua yang ada pada Annelis. Sampai pada akhirnya Annelis mati kutu. Keluarlah nama K. Inisial pria beruntung yang berencana mengajak Annelis menghabiskan malam tahun baru di puncak bukit. Diatas awan. Negeri para dewa.

Sembari kubanting kartu diatas meja dan mengucap “UNO”, kutatap mata sendu Annelis. Kulitnya yang putih bersih dengan urat nadi kehijauan sedikit menonjol di samping mata kananya. Tatapan kami beradu. Kutanya padanya “berapa lama kau dekat dengan pria K ini?”. “Semenjak pertama kali kerja”, balasnya. Aku sedikit penasaran dengan selera Annelis memilih laki-laki. Mungkin aku dan kau, kawan, akan sepakat bahwa Annelis adalah gadis cantik dengan perangai innocent yang humble. Tapi di mata Annelis, banyak laki-laki berbulu domba yang menyaru demi meraup hatinya. Banyak yang suka dengan Annelis. Sayangnya sebanyak itu pula yang ditolaknya secara halus. Kalau tidak terpaksa, dia tak akan menggubris gurauan dan curhatan laki-laki. Sering terjadi laki-laki salah paham karena mendapat perhatian Annelis. Hanya karena curhatanya mendapat terfasilitasi, lantas laki-laki ini meneruskan penetrasinya. Untung Annelis cukup tahu dengan trik ecek-ecek picisan semacam ini. Tapi tidak dengan K. Pria cool dengan tampang garang dan berdarah dingin ini agak diwaspadai di lingkunganya. Banyak rumor mengatakan untuk berhati-hati terhadap K. Tapi siapa sangka Annelis jatuh juga ke pelukannya, atau malah K yang takluk dengan Annelis. Annelis mengakui salah paham terhadap K yang dinilainya dari “apa kata orang”. Terlebih lagi, K adalah seorang penulis. Kadang Annelis tak berkedip menatap betapa seriusnya wajah K saat menarikan jemarinya diatas keyboard laptop. Saking seriusnya, melting Annelis dibuatnya.

“Aku udah nyusun rencana anggaran buat ke negeri diatas awan besok akhir tahun, sama temen-temenku, mama nggak ngebolehin aku jalan berdua aja sama K”, lanjut Annelis menceritakan rencananya. Aku hanya mendengarkan dengan seksama, tanpa kedip. Bukan ceritanya, tapi Annelislah yang entah kenapa tak elak tatapku darinya. “Ini anak kok bisa lucu gini sih”, gumamku dalam hati. “UNO”, sekali lagi kukalahkan Annelis dalam beberapa babak permainan kartu. Perasaan baru kemarin dia mengajariku main kartu, sekarang bedak sudah belepotan di wajahnya. Tapi percayalah kawan, bukan menang atau kalah yang kucari. Kesempatan berbincang dengan Annelis adalah yang utama.

Malam semakin larut, pongah manusia terselimuti malam gelap dan rintik hujan yang tak kunjung berkurang, menyeringai bintang di langit menatap insan culas yang tak berdaya tanpa matahari hadir menerangi langkah mereka, duisternis omhult mij. Segelas susu hazlenut sudah hampir habis, pun dengan coklat Annelis. Waktu menunjukan hampir jam 9 malam. Sudah waktunya para perawan bersiap pulang. Yang tidak perawan masih dipersilahkan lanjut, tapi itu hak masing-masing. Toh bagiku perawan atau tidak sama saja. Mereka makhluk Tuhan yang berhak mendapat peluk dan sayang-Nya. Jam tangan hitam melingkar di pergelangan Annelis. Diliriknya jam. Kutanya padanya apa sudah mau pulang. “Lanjut besok lagi ya, ngantuk nih”. Kuakhiri sesi malam itu bersama Annelis. Berbekal segudang cerita, salam perpisahan mengiringi langkah kami kembali ke rumah masing-masing.

Esok hari kegiatan berjalan seperti biasa. Aku dan timku di ruang isolasi, Annelis sibuk melayani customer. Sesekali kusamperin Annelis di ruanganya. Maklum ruanganku tiada ber-AC, jadi sedikit gembrobyos. Rekan se-tim-ku, Don dan juga Daniel menganggapku orang yang tak bisa lama-lama duduk di kursi. Harus sering jalan supaya dapat inspirasi. Kawan, ada pepatah berucap, “menulis ibarat kencing, kalau mau keluar banyak, harus minum banyak juga”. Jadi aku berjalan-jalan sekedar melemaskan kaki dan mencari udara segar. Kalau inspirasi didapat, langsung kembali ke cockpit melanjutkan dogfight, meskipun bukan sebagai frontman di HMS Daedalus, aku tetap semangat, panas, menguntai kata dalam alinea. Tandem dengan Don Sultano la mafia italiano dan Daniel de robotica werktuigkundinge berasa seperti pacuan kuda, harus cepat atau kalah cepat.

Sebelum lupa kuceritakan padamu kawan, aku mengenal K ini juga karena kebetulan. Dia adalah seorang penulis juga di niche kami. Penulis yang cukup cerdas menurutku. Sekali pernah Don Sultano menuliskan rasa kehilanganya terhadap si K di sebuah blog miliknya. Kubaca dengan seksama, betapa orang ini sangat dihormat oleh Don, entah kenapa. Disebutnya memiliki brewok tebal tanpa Firdaus dan Wakdoyok, mata tajam, perangai garang, dan wawasan yang luas, begitu ulasan Don Sultano mendeskripsikan K. Segarang itukah?. Tapi pada kenyataanya, kegarangan pria K ini goyah juga di hadapan Annelis Chloe, gadis jelita dengan rambut panjang menggelombang bergincu merah dan berkacamata. Haruskah kukatakan padamu kawan, gadis berkacamata memang memiliki pesona tersendiri. Mungkin tak lebih cantik dari Aurora dalam kisah fiksi La Belle au Bois dormant, karya Charles Perreault. Mungkin Aurora memang tak berkacamata dan gincu merah. Tapi rambut dan kulit putihnya yang dihiasi bulu halus di bagian siku cukup meluluhlantakan pertahanan K yang dalam waktu singkat berhasil ngajak ngopi Annelis juga. Dilucutinya pelan-pelan sanubari Annelis hingga pada akhirnya “iya” adalah jawaban untuk ajakan berkunjung ke negeri diatas awan, negeri para dewa, berselimut kabut dan dihiasi kebersahajaan para petani kentang. Tahukah kau kawan, kentang bisa ada dan nge-hits di negeri kita karena dibawa oleh para pelaut asing. Kentang dibudidayakan oleh bangsa Portugis yang kemudian diabawa ke Amerika Selatan pada paruh abad XVI. Mungkin saat menginjakkan kaki di benua antah berantah, Vespucci, Cabral, dan juga Magelhaens bangkit kegirangan sembari menenggak Rum, Nos achamos, teriaknya.

Dan begitulah ceritanya kentang sampai menyebar ke negara kita juga karena bapak-bapak pelaut itu. Maka “nenek moyangku seorang pelaut” layak disematkan kepada para pembawa Solanum tuberosum tersebut. Dan bongkahan kentang gendut-gendut itu yang kelak menjadi saksi romantika Annelis bersama K. Yang saat kutahu dia sudah berulangkali ngopi bareng K di kafe, itupun berpindah-pindah. Annelis seperti gadis pada umumnya yang menyukai hal-hal berbau romantisme. Salah satu hal yang menurut Annelis romantis adalah puisi. Gubahan puisi karya K acap kali membuat Annelis melting tak karuan. Kadang senyum-senyum sendiri sambil kepalanya tertunduk tiba-tiba. Berat, jatuh, meleleh. Lambat laun antara Annelis dengan K akrab rupanya. Pada akhirnya Annelis bercerita padaku soal perasaan aneh yang didapatnya saat dekat dengan K. “Seperti rasa nyaman yang kadang tak butuh alasan”, begitu katanya. “Mmm... mungkin suka, mungkin sayang”, tambahnya.

Annelis adalah salah satu diantara banyak gadis yang memiliki pesona memikat. Betapa tidak, sepertinya Tuhan menganugerahkan kemampuan memetik senar gitar kepadanya bukan tanpa alasan. Terkadan K pun dibuat terjerembab olehnya. Lantunan Romance de’Amor yang singkat saja membuat K klepek-klepek. Itu belum Classical Gas-nya Eric Clapton dan sederet melodi lain yang coba di-cover Annelis. Jadi sebenarnya siapa melting ke siapa??.


Di waktu lain K mengajak Annelis ke sebuah kafe untuk ngopi sore. Seperti biasa, sore menjelang malam di kafe yang bertingkat, alasan klasik, matahari terbenam. K sering menanyakan pertanyaan retoris yang dijawab retoris pula oleh Annelis. “Gimana, romantis kan tempatnya, bisa liat matahari terbenam”, kata K. “Sukaaaakkk”, jawab Annelis dengan sunggingan bibir khasnya yang menawan, gincu merahnya pudar setelah seharian bergelut dengan karir. Meskipun terlihat garang, K luluh dihantam senyum Annelis. Tidak pernah sebelumnya terjadi. Kawan, taukah kau, bahkan seorang Julius Caesar sang jendral Romawi pun ditawan oleh jelitanya paras Cleopatra. Mungkin hal yang sama sedang terjadi pada K yang dihujam perhatian Annelis bak tombak Gungnir milik Odin yang menusuk serigala raksasa Fenrir dalam Ragnarok. Dipeluknya Annelis tanpa sepatah kata.

aku takut”, ujar Annelis..

Takut kenapa rupanya?, masih takut padaku yang seram ini?”, tanya K..

Bukan, aku takut suka kamu”, balas Annelis..

Kawan, pria mana yang tak gentar mendengar hal macam itu dari mulut seorang gadis, gadis yang disukai pulak. Tapi karena memang pembawaan K yang kalem dan stay cool, dalam situasi demikian K dengan tenang mengangkat dagu Annelis yang sedari tadi terperosok ke dada K karena malu bukan kepalang. Ditatapnya mata Annelis dalam-dalam, raut wajah sendu, bibir mecucu, wajah merah merona seperti kepiting rebus. Disibaknya rambut Annelis yang sedari tadi sengaja dihimpunya menutupi wajah karena malu. Dengan pelan tapi pasti K membisik di telinga Annelis.

Eh denger ya, kamu takut suka sama aku, aku lho yang udah suka sama kamu biasa aja, tetep stay cool”, kata K..

Whaaaattt”, Annelis terkejut..

Annelis tak habis pikir dengan jawaban K. Pria yang dikenalnya garang, sangar, berdarah dingin ini suka kepadanya. Bagaimana mungkin.

Kamu, suka sama aku? What the hell”, Annelis tambah tak percaya..

Apa yang kamu suka dari aku yang kek gini, kucel, bodo, gak cantik ?”, tanya Annelis..

Kadang nggak butuh alasan kalik buat suka”, jawab K..

Yang di kemudian hari kutahu itu pledoi klise dari K karena tiada punya alasan konkrit mendukung statement abal-abalnya..



Latet enim veritas, sed nihil pretiosius veritate


Truth is hidden, but nothing more beautiful than the truth
Latin proverb
 

...BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar