Senin, 23 Januari 2017

ANNELIS CHLOE, GADIS BERKULIT GELAP DAN RAMBUT KERITING PART IV







Setidaknya ada beberapa alasan mengapa K memilih negeri diatas awan sebagai tujuan menghabiskan malam tahun baru bersama Annelis. Pertama, negeri diatas awan memiliki pemandangan memukau, belum lagi tempat itu udaranya dingin. Kawan, ada banyak yang bisa dijadikan alasan seorang pria kepada perempuan yang disukainya dengan mengkambinghitamkan udara dingin, seperti menghangatkan badan. Ayolah, yang sedang kubicarakan disini adalah bakar-bakar jagung atau menumpuk lemak, kalau yang terjadi ternyata aktivitas yang berasosiasi dengan selimut ya mohon dimaafkan. Kedua, negeri diatas awan memiliki beberapa pesona keindahan monumental yaitu candi dan danau, tentu saja keduanya dikemas apik dengan landscape yang sedemikian rupa sehingga menambah romantisme percumbuan batin. Ketiga, kombinasi antara udara dingin, makanan hangat, hujan, dan juga malam tahun baru adalah kondisi sempurna ungkapan hati dalam diam. Pada kasus ini adalah K kepada Annelis, dan juga sebaliknya, karena nyatanya Annelis juga tak kuasa menolak tarikan tangan K menuju candi berselimut kabut lengkap dengan tutup kepala rubahnya.


Bulan Desember, akhir tahun 2015, di selatan cuaca cerah berawan, pagi hari semua berkumpul di salah satu rumah teman Annelis. K menahkodai mobil ukuran sedang yang biasa digunakan traveling ke luar kota, bukan mobil gunung, tapi cukup untuk mendaki bukit. Berdoalah rombongan sebelum berangkat. Perjalanan memakan waktu sedikitnya tiga jam. Itu baru sampai pom bensin terakhir, stop site dimana semua rombongan berhenti untuk menuntaskan hajat yang sedari tadi tertahan dalam kandung kemih sebelum kembali mendaki lereng Sumbing. Ngarai di kiri-kanan, kabut awan mulai menutup jalan, padahal waktu itu baru siang hari. Jalanan menemui datar, gerbang besar bertuliskan plateu menyambut kedatangan rombongan Annelis, K, dan kawan-kawanya. Belum selesai, mereka harus naik turun jalan yang waktu itu baru dalam kondisi perbaikan. Untung punggawa jalanan sedang bersahabat dan trafik naik bukit masih agak lengang, jadi rombongan dengan lancar sampai ke lokasi tujuan. Penginapan?. Jangan ditanya kawan, peak season new year eve tidak memberi jeda pada mereka yang datang terlambat. Untungnya salah satu kawan Annelis sudah jauh-jauh hari memesan penginapan yang tinggal satu kamar besar. Buang sauh akhirnya. Armada diparkir, muatan dikeluarkan, dan kaki diluruskan. Sejenak rombongan lelap dalam rehat siang sampai sore menjelang malam.


Tebangun karena bunyi lapar perut yang sudah mencapai titik nadir, mau tak mau, K dan Annelis serta kawan lainya juga melontarkan wacana klasik, “kapan kita makan”. Terbangun K oleh tepukan Annelis di pundak, “yuk makan, ni dari tadi nungguin supirnya lho, masih lelap pejam”, kata Annelis dengan wajah sayu dan lucunya yang nampak lelah. Kalau sudah menyangkut urusan perut, akan ada banyak yang dipertimbangkan. Kasus yang sama terjadi pada Annelis, K, dan rombongan. Sesudah melontarkan wacana waktu makan, isu selanjutnya yang digodok adalah soal jenis makananya, percayalah kawan, berdiplomasi soal menu makanan dengan kaum hawa bukan perkara mudah. Jika kau beri mereka opsi, tiadalah jawaban kau terima, hanya ada kata “terserah”, jelas itu tak menyelesaikan masalah. Kejadian ini menimpa para pejantan dalam rombongan, salah satunya K. Untungnya K sudah cukup fasih berada dalam kondisi seperti ini, K bahkan memiliki protokol “bagaimana meng-counter jawaban terserah wanita” saat drawing pilihan menu makanan.


Kuberitahu satu hal kawan, soal berdiplomasi dalam hal menu makanan dengan wanita, ini adalah bocoran protokol yang juga kudapatkan dari K. Jadi begini:

1. Rule number one, jika dan hanya jika perempuan bertanya “mau makan dimana?”, pastikan kau tidak memberikan pilihan terlalu banyak. Langsung saja beri mereka satu jawaban yang tidak dapat dinego. Contoh kasus :

Pr : “mau makan apa nih?”

Lk : “nasi... nasi ayam

Pr : “wah jangan lah, ada yang lain

Lk : “apa?

Pr : “terserah

Lk : “yaudah, nasi ayam itu tadi... nggak mau, cari sendiri!!!”

Pr : “................”

Yang perlu kau lakukan, kawan, langsung putuskan sesuatu, jangan memberi mereka pilihan karena itu pun tak akan berguna. Jika masih ngeyel dengan bertanya dan pertanyaan itu pun dijawab dengan “terserah”, maka segeralah berdiri dan berangkatlah menuju warung tertentu yang kelihatan layak. Wanita suka tempat yang layak meskipun para pria merasa tidak masalah jika harus lesehan di warung anyaman bambu dengan kondisi basah tak nyaman, tapi tidak dengan wanita, perhitungkan hal ini juga. Ohya, tanda seru “!!!!” dalam contoh dialog diatas bukan hanya hiasan. Itu adalah simbol ketegasan dan keharusan jika berhadapan dengan “wanita terserah” yang banyak kita temui semacam diatas.


2. Rule number two, bangkitlah, lawan, segeralah berjalan ke warung tertentu (lanjutan rule no 1), jika para pria kompak dengan cara ini, bisa dipastikan wanita akan mengikuti mereka dengan pasrah, dan keluarlah deal dalam bentuk ucapan “yaudah deh gak papa”. Setelah sampai di sebuah warung, segeralah pesan, lakukan dengan cepat, mengingat perut sudah lapar. Jika kau tunda beberapa saat lagi, kawan, mungkin wanita akan berubah pikiran. Hati-hati jika mereka berubah pikiran dan ngambek. Kalau sudah ngambek, itu level birokrasi yang sedikit lebih runyam dari urusan diplomasi menu makanan tadi.


3. Rule number three, ini adalah pengecualian jika dalam rombongan, kau menjadi satu-satunya pejantan. Posisi tawarmu akan sedikit rendah. Kemungkinan kau akan kalah voting dengan betina penguasa wilayah yang feromone-nya sudah saling sefrekuensi. Jika kau berada dalam kondisi kalah dominan seperti ini, kawan, tekanan politikmu tiada berguna. Sebab para wanita akan dengan senang hati membiarkanmu berjalan sendiri tanpa mereka. Kalau kau mengaplikasikan rule number two, “langsung bangkit dan berjalan ke warung untuk cari makan”, ada kemungkinan kau akan berjalan dalam kesendirian. Para wanita masih merasa secure karena banyak dukungan moril dari sesama betina dalam kawanan tersebut. Kalau sudah begini, nikmati saja makanmu kawan. Toh kau punya cacing pita yang harus disantuni tepat waktu. Para wanita, mereka akan tetap bergerombol menuju warung yang lain. Benar-benar sisterhood. Dan jangan coba melawan dengan diplomasi apapun, kau sudah kalah veto, walk out-mu tidak berdampak signifikan.


Dalam kasus K beserta pria dalam rombongan, “protokol diplomasi makanan” dengan wanita-wanita diatas menemui kata sepakat pada poin nomor 1 dan 2, inkracht. Maka selanjutnya yang mereka lakukan adalah memilih menu makanan yang tidak terlalu broad ranged. Tentunya nasi untuk menyumpal perut agar tetap hangat dalam kondisi cuaca yang makin malam suhunya makin turun, sekitar 59 derajat Fahrenheit. Setelah selesai bersantap, gerimis mulai mengudara. Namun tak menyurutkan langkah berjalan menikmati udara malam. Rutenya menuju candi. Tapi karena malam hari candi tidak bisa dikunjungi, pemberhentian hanya sampai toko suvenir di dekatnya. Teradapat banyak pernak-pernik lucu. Masyarakat negeri diatas awan nampaknya paham kalau peluang usaha yang hangat-hangat akan selalu laku. Pasarnya tidak akan sepi peminat meskipun inflasi dari BI diumumkan mengoyak harga cabai hingga membuat ibu rumah tangga meraung tak terima. Disitulah Annelis mendapatkan topi rubahnya, warna putih.


Dibawah rintik gerimis, K dan Annelis bercengkrama, disamping ladang kentang, dibawah temaram lampu jalan, berselimut suhu dingin yang sudah turun lagi 2 poin. Pada tahap ini, jaket sebaiknya dikancingkan rapat-rapat. Hanya K saja yang nampaknya berdarah panas, cukup dengan modal kaos dan topi hangat yang menutup telinga sudah membuatnya tak menggigil. Dalam cengkrama, K memandang wajah lucu Annelis dibawah lampu jalanan, begitu juga dengan Annelis yang makin manis di malam hari. Sebenarnya di siang hari pun Annelis nampak jelita. Entah, mungkin di mata K yang diselimuti hawa dingin dan dalam kondisi kenyang, melihat Annelis yang cantiknya “biasa saja”, K menjadi agak bego. Ditatapnya dalam-dalam sang biadari malam itu dengan syahdu. Tiada musik ala Mozzart, Schubert, atau Strauss mengiringi, hanya deru letupan kembang api memercik di angkasa yang menyaksikan K dan Annelis membagi rasa. Yang pada akhirnya dipeluklah Annelis. Tiada menolak, Annelis melingkarkan tanganya mengelilingi badan K.

dingin?”, tanya K...

iya, tapi anget peluk kamu yang badanya gede”, jawab Annelis..

“..........”, tiada menjawab, pelukan semakin dieratkan..

“.........”, tiada menolak, kepala semakin dibenamkan dalam dada K..

Sudah hampir dua jam rombongan berdiri, tanpa duduk sedikitpun karena memang kondisi bahu jalan yang basah. Dan nampaknya teman Annelis juga punya urusan sendiri dengan pasangan masing-masing sehingga tidak terlalu menghiraukan K dan Annelis yang sibuk saling menghangatkan.


Setelah dirasa lelah berdiri dan malam semakin menampakkan kepekatanya, berjalanlah rombongan ke penginapan. Kamar yang besar sudah tersedia selimut tebal mengantisipasi hipotermia. Untungnya K juga membawa sleeping bag jackwolfskin-nya yang terkenal hangat. Tempat tidur di-setting sedemikian. Sekat batas ditegakkan dengan jemuran handuk, memisahkan negara tetangga, membuat border perbatasan bak jalur Gaza yang visanya berbunyi “interupsi”. Karena salah satu negara tetangga memiliki aset cukup vital, kamar mandi. Dimana negara lainya harus mengajukan izin eksploitasi jika ingin mengaksesnya, salah-salah bisa mengusik kedaulatan dalam negeri negara tetangga. Kawan, tak perlulah terlalu detail kukisahkan bagaimana Annelis dengan K beraktivitas pada malam itu. Memang diluar hujan akhirnya mengguyur. Sayup-sayup terdengar suara dangdut is the music of my country. Dan Annelis mendapatkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu dari K yang akan mengubah hidupnya dalam beberapa tahun ke depan. Dan Annelis nampaknya bahagia dengan hal itu. Di kemudian hari Annelis menyebutnya dengan “tragedi”, tapi dalam kisah ini aku lebih suka menuliskanya sebagai guitly pleasure. Sejenak mungkin tampak tabu dilontarkan. Tapi bagaimana perasaanmu, kawan, jika mendapatkan sesuatu sebagai “yang pertama”. Campur aduk.


Pukul lima pagi, hari pertama di tahun baru. Udara di dalam kamar tidak terlalu dingin, hangat malah, karena selimut dan sleeping bag. Annelis dan K sudah terbangun lebih dulu dari rombongan lainya. Annelis memang orang yang mudah bangun pagi, semudah itu juga dia mengantuk di pagi hari. Kebiasaan Annelis adalah terjaga di pertengahan malam, clingak-clinguk kiri kanan, melihat situasi. Diambilnya botol air, lalu minum, kemudian tidur lagi. Tapi tidak di pagi itu. Setelah membuka mata, Annelis dan K saling mengkode. Tanpa banyak suara, jaket tebal dipakai, kaos kaki, dan tentu saja topi, ya topi rubahnya Annelis. Suhu diluar mencapai titik 10oC dan berkabut, cukup syahdu untuk menyusuri jalan selagi masih sepi. Mungkin karena masih dalam suasana tahun baru, alasan untuk tidur pagi masyarakat membuat jalanan lengang. Annelis dan K menikmati udara pagi yang dingin berkabut. Berjalan menyusuri ladang kentang, bergandengan tangan, berpeluk terkadang, sekedar saling menghangatkan. Kukatakan sekali lagi kawan, udara dingin memang pantas dijadikan kambinghitam untuk perkara percintaan menye-menye semacam ini. Lucu kiranya melihat gelagat K dan Annelis yang saling meng-iya kan dalam setiap momen. Tiada canda tawa terdengar, hanya percakapan dalam sebagai ungkapan perasaan setelah semalam terjadi momen awkward. Benteng pertahanan kedua insan ini rata sudah dengan tanah. Romantika dimulai di negeri para dewa. Nanti sang Arjuna kan menjadi saksi bisu soal kemesraan picisan insan dimabuk asmara ini. Matahari sudah sepenggalah naik. Annelis dan K yang sedari tadi menggigil memutuskan kembali ke penginapan, bersembunyi dibalik selimut tebal masing-masing.


Setiap pelancong mungkin harus berterimakasih pada Oom Van Kinsbergen atas jasanya mengekskavasi bebatuan ganjil yang di kemudian hari dinobatkan sebagai kompleks candi di perbukitan negeri diatas awan. Bagaimana tidak, jika para pejabat EIC waktu itu tidak menyengaja diri piknik ke dataran tinggi ini, dan mereka tidak menemukan bongkahan mencurigakan, mungkin tidak adaceritanya Annelis dan K bisa berada di tempat itu sekarang. Matahari yang sudah semakin tinggi dan ayam jantan yang sudah mulai meraungkan alarm bilogisnya menandai waktu bersiap bagi semua rombongan. Annelis, K, dan teman-temanya bersiap untuk rute selanjutnya. Monumen keabadian para dewa. Namun sebelum itu mereka harus santap pagi terlebih dahulu, mengingat malam hari yang dingin cukup mengosongkan rongga perut. Kali ini tidak ada diplomasi menu makanan. Mie Ongklok yang menjadi sajian khas dipilih. Ada banyak kedai yang menjualnya. Semuanya enak. Karena perut sudah nyaris menempel ke punggung, random sampling pun dilakukan. Apapun, yang penting makan. Segelas teh tawar panas dan tempe kemul terhidang prasmanan. Tinggal ambil. Ohya, berkardus-kadrus purwoceng terjajar di etalasi. Taukah kau kawan, ini adalah ramuan sakti yang terbuat dari tanaman Pimpinella pruatjan, dimana ramuan ini juga turut bertanggungjawab terhadap padatnya populasi penduduk di pulau Jawa.


Tidak jauh jarak tempuh menuju kompleks monumen para dewa. Lagian pada hari itu juga berkabut, diiringi gerimis rintik-rintik langkah rombongan memasuki gerbang kompleks monumen para dewa menemui pemandangan memanjakan mata. Hamparan rumput hijau yang basah karena hujan, suhu yang dingin, kabut tebal, dan juga bangunan berstruktur batu. Kalau boleh beranalogi, kawan, scene ini mirip seperti pada film India yang dulu sering kita tonton di statisun TV swasta pada jam 10 pagi. Menari, berlari, bernyanyi, sembunyi di satu pohon, dan keluar di pohon yang lain. Bedanya rombongan Annelis tidak menggunakan bala bantuan penari latar kolosal yang entah dari mana datang tiba-tiba dalam jumlah yang naudzubillah, yang bisa langsung hilang begitu saja setelah musik selesai. Tujhe dekha to yeh jaana sanam, Pyar hota hai deewana sanam, Ab kahan ye jahan jaye hum, Teri baahon mein mar jaye hum..


Begitulah rombongan berpencar sendiri-sendiri mengabadikan momenya, tidak terkecuali dengan Annelis dan K yang asik memadu romansa dikelilingi kabut. Maklum, kalau orang sedang dimabuk, setengah logika tanggal sudah. Namun, singkat cerita, ada kesan tersendiri yang membekas di kalbu Annelis dan K. Keduanya merasakan ada yang berbeda setelah momen berkabut itu, di hamparan rumput hijau, berkabut, di depan monumen Arjuna.


Menuju jalan pulang, rombongan menemui hambatan yang tidak mulus. Jalan ditutup karena perbaikan. Macet terjadi hingga hampir empat jam. Tidak kurang antrian kendaraan sepanjang hampir dua kilometer mengular di sepanjang lereng. Sampai akhirnya rombongan kembali dengan selamat ke kota asal. Membawa oleh-oleh, dan juga kenangan.




...BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar