Setidaknya ada beberapa alasan mengapa K memilih negeri
diatas awan sebagai tujuan menghabiskan malam tahun baru bersama Annelis. Pertama,
negeri diatas awan memiliki pemandangan memukau, belum lagi tempat itu udaranya
dingin. Kawan, ada banyak yang bisa dijadikan alasan seorang pria kepada
perempuan yang disukainya dengan mengkambinghitamkan udara dingin, seperti
menghangatkan badan. Ayolah, yang sedang kubicarakan disini adalah bakar-bakar
jagung atau menumpuk lemak, kalau yang terjadi ternyata aktivitas yang
berasosiasi dengan selimut ya mohon dimaafkan. Kedua, negeri diatas awan
memiliki beberapa pesona keindahan monumental yaitu candi dan danau, tentu saja
keduanya dikemas apik dengan landscape yang sedemikian rupa sehingga menambah
romantisme percumbuan batin. Ketiga, kombinasi antara udara dingin, makanan
hangat, hujan, dan juga malam tahun baru adalah kondisi sempurna ungkapan hati
dalam diam. Pada kasus ini adalah K kepada Annelis, dan juga sebaliknya, karena
nyatanya Annelis juga tak kuasa menolak tarikan tangan K menuju candi
berselimut kabut lengkap dengan tutup kepala rubahnya.
Bulan Desember, akhir tahun 2015, di selatan cuaca cerah
berawan, pagi hari semua berkumpul di salah satu rumah teman Annelis. K
menahkodai mobil ukuran sedang yang biasa digunakan traveling ke luar kota,
bukan mobil gunung, tapi cukup untuk mendaki bukit. Berdoalah rombongan sebelum
berangkat. Perjalanan memakan waktu sedikitnya tiga jam. Itu baru sampai pom
bensin terakhir, stop site dimana
semua rombongan berhenti untuk menuntaskan hajat yang sedari tadi tertahan
dalam kandung kemih sebelum kembali mendaki lereng Sumbing. Ngarai di kiri-kanan,
kabut awan mulai menutup jalan, padahal waktu itu baru siang hari. Jalanan menemui
datar, gerbang besar bertuliskan plateu menyambut kedatangan rombongan Annelis,
K, dan kawan-kawanya. Belum selesai, mereka harus naik turun jalan yang waktu
itu baru dalam kondisi perbaikan. Untung punggawa jalanan sedang bersahabat dan
trafik naik bukit masih agak lengang, jadi rombongan dengan lancar sampai ke
lokasi tujuan. Penginapan?. Jangan ditanya kawan, peak season new year eve tidak memberi jeda pada
mereka yang datang terlambat. Untungnya salah satu kawan Annelis sudah
jauh-jauh hari memesan penginapan yang tinggal satu kamar besar. Buang sauh
akhirnya. Armada diparkir, muatan dikeluarkan, dan kaki diluruskan. Sejenak rombongan
lelap dalam rehat siang sampai sore menjelang malam.
Tebangun karena bunyi lapar perut yang sudah mencapai
titik nadir, mau tak mau, K dan Annelis serta kawan lainya juga melontarkan
wacana klasik, “kapan kita makan”. Terbangun K oleh tepukan Annelis di pundak, “yuk
makan, ni dari tadi nungguin supirnya lho, masih lelap pejam”, kata Annelis
dengan wajah sayu dan lucunya yang nampak lelah. Kalau sudah menyangkut urusan
perut, akan ada banyak yang dipertimbangkan. Kasus yang sama terjadi pada
Annelis, K, dan rombongan. Sesudah melontarkan wacana waktu makan, isu
selanjutnya yang digodok adalah soal jenis makananya, percayalah kawan,
berdiplomasi soal menu makanan dengan kaum hawa bukan perkara mudah. Jika kau
beri mereka opsi, tiadalah jawaban kau terima, hanya ada kata “terserah”, jelas
itu tak menyelesaikan masalah. Kejadian ini menimpa para pejantan dalam
rombongan, salah satunya K. Untungnya K sudah cukup fasih berada dalam kondisi
seperti ini, K bahkan memiliki protokol “bagaimana meng-counter jawaban
terserah wanita” saat drawing pilihan menu makanan.
Kuberitahu satu hal kawan, soal berdiplomasi dalam hal
menu makanan dengan wanita, ini adalah bocoran protokol yang juga kudapatkan
dari K. Jadi begini:
1. Rule number one, jika dan hanya jika perempuan
bertanya “mau makan dimana?”, pastikan kau tidak memberikan pilihan terlalu
banyak. Langsung saja beri mereka satu jawaban yang tidak dapat dinego. Contoh kasus
:
Pr : “mau makan apa
nih?”
Lk : “nasi... nasi
ayam”
Pr : “wah jangan
lah, ada yang lain”
Lk : “apa?”
Pr : “terserah”
Lk : “yaudah, nasi
ayam itu tadi... nggak mau, cari sendiri!!!”
Pr : “................”
Yang perlu kau lakukan, kawan, langsung putuskan sesuatu,
jangan memberi mereka pilihan karena itu pun tak akan berguna. Jika masih
ngeyel dengan bertanya dan pertanyaan itu pun dijawab dengan “terserah”, maka
segeralah berdiri dan berangkatlah menuju warung tertentu yang kelihatan layak.
Wanita suka tempat yang layak meskipun para pria merasa tidak masalah jika
harus lesehan di warung anyaman bambu dengan kondisi basah tak nyaman, tapi
tidak dengan wanita, perhitungkan hal ini juga. Ohya, tanda seru “!!!!” dalam
contoh dialog diatas bukan hanya hiasan. Itu adalah simbol ketegasan dan
keharusan jika berhadapan dengan “wanita terserah” yang banyak kita temui
semacam diatas.
2. Rule number two, bangkitlah, lawan, segeralah berjalan
ke warung tertentu (lanjutan rule no 1), jika para pria kompak dengan cara ini,
bisa dipastikan wanita akan mengikuti mereka dengan pasrah, dan keluarlah deal
dalam bentuk ucapan “yaudah deh gak papa”.
Setelah sampai di sebuah warung, segeralah pesan, lakukan dengan cepat,
mengingat perut sudah lapar. Jika kau tunda beberapa saat lagi, kawan, mungkin
wanita akan berubah pikiran. Hati-hati jika mereka berubah pikiran dan ngambek.
Kalau sudah ngambek, itu level birokrasi yang sedikit lebih runyam dari urusan
diplomasi menu makanan tadi.
3. Rule number three, ini adalah pengecualian jika dalam
rombongan, kau menjadi satu-satunya pejantan. Posisi tawarmu akan sedikit rendah.
Kemungkinan kau akan kalah voting dengan betina penguasa wilayah yang feromone-nya sudah saling sefrekuensi. Jika
kau berada dalam kondisi kalah dominan seperti ini, kawan, tekanan politikmu
tiada berguna. Sebab para wanita akan dengan senang hati membiarkanmu berjalan
sendiri tanpa mereka. Kalau kau mengaplikasikan rule number two, “langsung
bangkit dan berjalan ke warung untuk cari makan”, ada kemungkinan kau akan
berjalan dalam kesendirian. Para wanita masih merasa secure karena banyak dukungan moril dari sesama betina dalam kawanan
tersebut. Kalau sudah begini, nikmati saja makanmu kawan. Toh kau punya cacing
pita yang harus disantuni tepat waktu. Para wanita, mereka akan tetap
bergerombol menuju warung yang lain. Benar-benar sisterhood. Dan jangan coba melawan dengan diplomasi apapun, kau
sudah kalah veto, walk out-mu tidak berdampak signifikan.
Dalam kasus K beserta pria dalam rombongan, “protokol
diplomasi makanan” dengan wanita-wanita diatas menemui kata sepakat pada poin
nomor 1 dan 2, inkracht. Maka selanjutnya
yang mereka lakukan adalah memilih menu makanan yang tidak terlalu broad ranged. Tentunya nasi untuk menyumpal
perut agar tetap hangat dalam kondisi cuaca yang makin malam suhunya makin
turun, sekitar 59 derajat Fahrenheit. Setelah selesai bersantap, gerimis mulai
mengudara. Namun tak menyurutkan langkah berjalan menikmati udara malam. Rutenya
menuju candi. Tapi karena malam hari candi tidak bisa dikunjungi, pemberhentian
hanya sampai toko suvenir di dekatnya. Teradapat banyak pernak-pernik lucu.
Masyarakat negeri diatas awan nampaknya paham kalau peluang usaha yang
hangat-hangat akan selalu laku. Pasarnya tidak akan sepi peminat meskipun
inflasi dari BI diumumkan mengoyak harga cabai hingga membuat ibu rumah tangga
meraung tak terima. Disitulah Annelis mendapatkan topi rubahnya, warna putih.
Dibawah rintik gerimis, K dan Annelis bercengkrama,
disamping ladang kentang, dibawah temaram lampu jalan, berselimut suhu dingin
yang sudah turun lagi 2 poin. Pada tahap ini, jaket sebaiknya dikancingkan
rapat-rapat. Hanya K saja yang nampaknya berdarah panas, cukup dengan modal
kaos dan topi hangat yang menutup telinga sudah membuatnya tak menggigil. Dalam
cengkrama, K memandang wajah lucu Annelis dibawah lampu jalanan, begitu juga
dengan Annelis yang makin manis di malam hari. Sebenarnya di siang hari pun
Annelis nampak jelita. Entah, mungkin di mata K yang diselimuti hawa dingin dan
dalam kondisi kenyang, melihat Annelis yang cantiknya “biasa saja”, K menjadi
agak bego. Ditatapnya dalam-dalam sang biadari malam itu dengan syahdu. Tiada musik
ala Mozzart, Schubert, atau Strauss mengiringi, hanya deru letupan kembang api
memercik di angkasa yang menyaksikan K dan Annelis membagi rasa. Yang pada
akhirnya dipeluklah Annelis. Tiada menolak, Annelis melingkarkan tanganya
mengelilingi badan K.
“dingin?”,
tanya K...
“iya, tapi anget
peluk kamu yang badanya gede”, jawab Annelis..
“..........”, tiada menjawab, pelukan semakin dieratkan..
“.........”, tiada menolak, kepala semakin dibenamkan
dalam dada K..
Sudah hampir dua jam rombongan berdiri, tanpa duduk
sedikitpun karena memang kondisi bahu jalan yang basah. Dan nampaknya teman
Annelis juga punya urusan sendiri dengan pasangan masing-masing sehingga tidak
terlalu menghiraukan K dan Annelis yang sibuk saling menghangatkan.
Setelah dirasa lelah berdiri dan malam semakin
menampakkan kepekatanya, berjalanlah rombongan ke penginapan. Kamar yang besar sudah
tersedia selimut tebal mengantisipasi hipotermia. Untungnya K juga membawa
sleeping bag jackwolfskin-nya yang
terkenal hangat. Tempat tidur di-setting sedemikian. Sekat batas ditegakkan
dengan jemuran handuk, memisahkan negara tetangga, membuat border perbatasan
bak jalur Gaza yang visanya berbunyi “interupsi”. Karena salah satu negara
tetangga memiliki aset cukup vital, kamar mandi. Dimana negara lainya harus
mengajukan izin eksploitasi jika ingin mengaksesnya, salah-salah bisa mengusik
kedaulatan dalam negeri negara tetangga. Kawan, tak perlulah terlalu detail
kukisahkan bagaimana Annelis dengan K beraktivitas pada malam itu. Memang diluar
hujan akhirnya mengguyur. Sayup-sayup terdengar suara dangdut is the music of my country. Dan Annelis mendapatkan sesuatu
yang berbeda. Sesuatu dari K yang akan mengubah hidupnya dalam beberapa tahun
ke depan. Dan Annelis nampaknya bahagia dengan hal itu. Di kemudian hari
Annelis menyebutnya dengan “tragedi”, tapi dalam kisah ini aku lebih suka
menuliskanya sebagai guitly pleasure.
Sejenak mungkin tampak tabu dilontarkan. Tapi bagaimana perasaanmu, kawan, jika
mendapatkan sesuatu sebagai “yang pertama”. Campur aduk.
Pukul lima pagi, hari pertama di tahun baru. Udara di
dalam kamar tidak terlalu dingin, hangat malah, karena selimut dan sleeping
bag. Annelis dan K sudah terbangun lebih dulu dari rombongan lainya. Annelis
memang orang yang mudah bangun pagi, semudah itu juga dia mengantuk di pagi
hari. Kebiasaan Annelis adalah terjaga di pertengahan malam, clingak-clinguk kiri kanan, melihat
situasi. Diambilnya botol air, lalu minum, kemudian tidur lagi. Tapi tidak di
pagi itu. Setelah membuka mata, Annelis dan K saling mengkode. Tanpa banyak
suara, jaket tebal dipakai, kaos kaki, dan tentu saja topi, ya topi rubahnya
Annelis. Suhu diluar mencapai titik 10oC dan berkabut, cukup syahdu
untuk menyusuri jalan selagi masih sepi. Mungkin karena masih dalam suasana
tahun baru, alasan untuk tidur pagi masyarakat membuat jalanan lengang. Annelis
dan K menikmati udara pagi yang dingin berkabut. Berjalan menyusuri ladang
kentang, bergandengan tangan, berpeluk terkadang, sekedar saling menghangatkan.
Kukatakan sekali lagi kawan, udara dingin memang pantas dijadikan kambinghitam
untuk perkara percintaan menye-menye
semacam ini. Lucu kiranya melihat gelagat K dan Annelis yang saling meng-iya
kan dalam setiap momen. Tiada canda tawa terdengar, hanya percakapan dalam
sebagai ungkapan perasaan setelah semalam terjadi momen awkward. Benteng pertahanan kedua insan ini rata sudah dengan
tanah. Romantika dimulai di negeri para dewa. Nanti sang Arjuna kan menjadi
saksi bisu soal kemesraan picisan insan dimabuk asmara ini. Matahari sudah
sepenggalah naik. Annelis dan K yang sedari tadi menggigil memutuskan kembali
ke penginapan, bersembunyi dibalik selimut tebal masing-masing.
Setiap pelancong mungkin harus berterimakasih pada Oom
Van Kinsbergen atas jasanya mengekskavasi bebatuan ganjil yang di kemudian hari
dinobatkan sebagai kompleks candi di perbukitan negeri diatas awan. Bagaimana tidak,
jika para pejabat EIC waktu itu tidak menyengaja diri piknik ke dataran tinggi
ini, dan mereka tidak menemukan bongkahan mencurigakan, mungkin tidak
adaceritanya Annelis dan K bisa berada di tempat itu sekarang. Matahari yang
sudah semakin tinggi dan ayam jantan yang sudah mulai meraungkan alarm
bilogisnya menandai waktu bersiap bagi semua rombongan. Annelis, K, dan
teman-temanya bersiap untuk rute selanjutnya. Monumen keabadian para dewa. Namun
sebelum itu mereka harus santap pagi terlebih dahulu, mengingat malam hari yang
dingin cukup mengosongkan rongga perut. Kali ini tidak ada diplomasi menu
makanan. Mie Ongklok yang menjadi sajian khas dipilih. Ada banyak kedai yang
menjualnya. Semuanya enak. Karena perut sudah nyaris menempel ke punggung, random sampling pun dilakukan. Apapun,
yang penting makan. Segelas teh tawar panas dan tempe kemul terhidang
prasmanan. Tinggal ambil. Ohya, berkardus-kadrus purwoceng terjajar di etalasi.
Taukah kau kawan, ini adalah ramuan sakti yang terbuat dari tanaman Pimpinella pruatjan, dimana ramuan ini
juga turut bertanggungjawab terhadap padatnya populasi penduduk di pulau Jawa.
Tidak jauh jarak tempuh menuju kompleks monumen para
dewa. Lagian pada hari itu juga berkabut, diiringi gerimis rintik-rintik
langkah rombongan memasuki gerbang kompleks monumen para dewa menemui
pemandangan memanjakan mata. Hamparan rumput hijau yang basah karena hujan,
suhu yang dingin, kabut tebal, dan juga bangunan berstruktur batu. Kalau boleh
beranalogi, kawan, scene ini mirip seperti pada film India yang dulu sering
kita tonton di statisun TV swasta pada jam 10 pagi. Menari, berlari, bernyanyi,
sembunyi di satu pohon, dan keluar di pohon yang lain. Bedanya rombongan
Annelis tidak menggunakan bala bantuan penari latar kolosal yang entah dari
mana datang tiba-tiba dalam jumlah yang naudzubillah, yang bisa langsung hilang
begitu saja setelah musik selesai. Tujhe
dekha to yeh jaana sanam, Pyar hota hai deewana sanam, Ab kahan ye jahan jaye
hum, Teri baahon mein mar jaye hum..
Begitulah rombongan berpencar sendiri-sendiri
mengabadikan momenya, tidak terkecuali dengan Annelis dan K yang asik memadu
romansa dikelilingi kabut. Maklum, kalau orang sedang dimabuk, setengah logika
tanggal sudah. Namun, singkat cerita, ada kesan tersendiri yang membekas di
kalbu Annelis dan K. Keduanya merasakan ada yang berbeda setelah momen berkabut
itu, di hamparan rumput hijau, berkabut, di depan monumen Arjuna.
Menuju jalan pulang, rombongan menemui hambatan yang
tidak mulus. Jalan ditutup karena perbaikan. Macet terjadi hingga hampir empat
jam. Tidak kurang antrian kendaraan sepanjang hampir dua kilometer mengular di
sepanjang lereng. Sampai akhirnya rombongan kembali dengan selamat ke kota
asal. Membawa oleh-oleh, dan juga kenangan.
...BERSAMBUNG...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar