Senin, 09 Januari 2017

Sebuah Gundam diatas Bukit Menoreh


VIRI INFORTUNATI PROCUL AMICI
THE FRIENDS OF AN UNFORTUNATE MAN ARE FAR AWAY
 


Banyak dari kita yang punya teman dengan karakter unik dan berbeda. Perbedaan bisa pada hobi, sifat, dan juga latar belakang keluarga. Tapi namanya pertemanan tidak bisa ditakar hitam-putih, kamu siapa-saya siapa, teman ya teman. Titik beratnya ada pada emotional bonding based on particular circumstance and great time, you know lah what I mean..

Saya punya seorang teman, teman dekat, eits, dia laki-laki dan jangan berpikir saya homo!!!. Ada hal unik dari teman saya ini karena memang tidak banyak yang menekuni hobi seperti ini. Teman saya ini hobi mengkoleksi mainan robot-robotan yang familiar kita sebut sebagai gundam. Meskipun gundam adalah produk keluaran jepang, namun secara universal setiap robot-robotan akan disebut demikian karena memang trademarknya sudah menghagemoni.

Saya mengenalnya saat pertama kali gabung dengan salah satu startup di kota Jogjakarta. Pada waktu itu saya masuk sebagai penulis, dan dia juga. Selama bekerja sebagai penulis a.k.a content writer, dia adalah orang yang humoris, lucu sih enggak ya, cuma senang bergaul dan tidak garing. Waktu itu team content writer ada 4 orang, saya beserta 3 lainya. Teman saya kolektor gundam ini adalah salah satu content writer terbaik yang cukup bisa diandalkan. Mengingat kecepatan menulis dan idenya yang terlampau kreatif, semua job “done” dalam waktu singkat, sisa waktunya, jelas youtub-an.


Ohya, saya belum kasih tau namanya. Karena namanya yang sulit diingat saat awal perkenalan (bahkan 5 hari setelah kerja bareng), saya sering salah memanggil. Ok, kita sebut saja teman saya ini sebagai Daniel.
Seiring berjalanya waktu, people come and go, team content writer fix solid dengan formasi 3 orang. Saya, Daniel, dan seorang lagi yang sudah cukup senior, sebut saja namanya Don Sultano, dipanggil begitu karena beliau ini memang fans banget sama Don Vito Corleone dalam serial film “The Godfather”. Sedikit edifikasi Don Sultano ini. Dia terobsesi menjadi orang hebat dengan berbagai cara, termasuk cara kekeluargaan, persis seperti Don Corleone. Orangnya lucu, humoris, dan berjiwa kepemimpinan, tentu saja anda akan berpikir sebaliknya jika bertemu dia langsung. Mukanya yang sangar, sifatnya yang cenderung pendiam, dengan postur tubuh atletis, membuat dia layaknya alpha male yang layang diperhitungkan eksistensinya di kantor.

Beberapa project kami jalani dengan sangat patriotis. Kerja lembur tidak tidur hanya demi deadline. Banyak project kami team content writer yang dipimpin oleh mas Don Corleone ini, eh Don Sultano. Sampai pada suatu saat dia stress karena tekanan kerjaan dan hal lainya. Jargonnya saat stress adalah "wah piye nek ngeneki ckckck.."

Divisi lain menyebut kami para content writer sebagai “orang produksi” yang unik. Bahkan mereka melabeli kami dengan sebutan “sama saja”. Pernah terceletuk dari seorang kolega, “ah orang produksi semua sama”. Kebetulan tim produksi yang terdiri dari content writer semuanya laki-laki. Dengan kalimat langsung bisa dikatakan "semua laki-laki sama saja". Dari situ saya merasa seperti mas Adam Levine..

Mungkin yang dimaksud “sama” adalah karakternya yang aneh, unik, dan cenderung kekanak-kanakan. Percayalah bung, itu bagian dari stress releasing kami yang kadang penat juga kalau nulis. Content writer juga manusia donk.

Sehubungan dengan stress releasing ini, masing-masing dari kami content writer punya pelampiasan berbeda. Mas Don Sultano yang jago main futsal, ya futsal sampai sak lawase. Daniel yang paling senior dari segi usia sibuk dengan gundam-nya. Sedangkan saya, tidur. Ya saya hobi tidur siang di kantor. Tapi bukan berarti kerjaan tidak selesai. Kultur kantor yang kokndusif memberi kami kebebasan yang bertanggung jawab. Yang penting kerjaan selesai. Meet the deadline or dead. Demikian kira-kira.

Sekedar informasi, dilihat dari segi usia, saya berada di tengah. Don Sultano 2 tahun lebih muda dari saya, dan Daniel 2 tahun lebih tua dari saya. Jadi saya nggak tua-tua amat lah. Masih unyu-unyu menggemaskan.
Ada nilai yang saya ambil dari pertemanan dengan kedua orang ini. Don Sultano yang anak gunung ( it is literally so, karena rumahnya di atas punggung Menoreh), dan  Daniel yang remaja gundam. The value is, boys will be boys no matter how old they are. Dalam kondisi serius soal kerjaan, kami orang yang berusaha profesional dengan sentuhan kegilaan yang menjadi pelebur suasana. Maklum, kami memiliki ruangan dan atmosfer sendiri dengan tidak ada gangguan dari divisi lain. Disitulah banyak karya tulis kami hasilkan. Nggak ilmiah sih, tapi cukup bisa dipertanggungjawabkan.

Suatu saat saya menginap di rumah Don Sultano yang berada di salah satu sudut perfektur Menoreh. Suasana desa menyelimuti. Sawah membentang dari ufuk ke ufuk. Suara lenguhan sapi dan bau khas kambing etawa membuat saya ketawa, sedikit bernostalgia. Beberapa tahun yang lalu saya di perfektur yang sama untuk sebuah misi. Lebih remote dari rumah Don Sultano ini. Persis di tengah hutan, selama 20 hari. Jadi sejujurnya saat berkunjung ke rumah Don Sultano saya merasakan atmosfer yang sama seperti saat dalam misi. Sebenarnya itu rumah orang tuanya Don Sultano sih, tapi ya karena pengaruh majas sinekdoke pras pro toto, dan karena Don Sultano juga belum punya rumah sendiri dan masih numpang di rumah il genitore-nya jadi ya untuk mempermudah, saya ceritakan itu rumah Don Sultano. Saya diajak ke puncak gunung tertinggi di perfektur Menoreh. Saat di puncak, saya merasa seperti Zhunge Liang yang sedang tunjuk-tunjuk merapikan shaff batalion sembari kipas-kipas dan nyruput kopi. Setelah itu saya dibawa keliling ke beberapa afiliasi Don Sultano. Sungguh paseduluran yang erat. Bayangpun, satu rumah dengan rumah lainya berjarak tak kurang 100m. Tapi antara satu tetangga dengan tetangga lainya saling kenal. Belum selesai, antara penduduk di sisi bukit yang berbeda bisa jadi saling kenal juga. Jangan kaget jika anda tanya “dimana rumahnya pak Anu”, mereka akan menunjukan jalan dengan detail, dan setelah ketemu, rumahnya sangat jauh dari si pemberi informasi tadi. Luar binasa.



Lain halnya dengan Daniel. Orang ini cerdas, cadas, namun humble. Periang, ceria, dan childish. Sangat menyenangkan berkawan dengannya. Anda mungkin melihatnya sebagai pria yang masih suka mainan anak-anak. Pernah suatu saat datang paket dari pak Pos buat Daniel ini. Isinya gundam. Ealaaahh.. Tapi percayalah, meskipun mainanya gundam dan action figure dia tetap penulis profesional. Pernah suatu kali saya dan Daniel sedang cari makan siang. Kebetulan team content writer sedang dikarantina untuk project tertentu yang deadline-nya sangat padat. Di bilangan brigjen Katamso kami berburu makan siang. Kebetulan di sekitar situ ada toko mainan. Tidak besar sih. Hanya mata elang si Daniel ini mampu menangkap sinyal keberadaan mangsa. Mungkin batinya “enemy spotted”. “Berhenti dulu bro”, katanya. Dia turun dari motor dan menuju toko mainan tersebut lalu keluar lagi. “Yang saya cari nggak ada”, katanya. Ternyata dia lagi cari gundam seri limited edition. Gundam lagi gundam lagi. Ohya, ngomong-ngomong soal hobinya Daniel ini, dia punya komunitas pecinta gundam. Kegiatanya suka ngumpul-ngumpul dan pameran, tentu saja ada edukasi tentang apa dan bagaimana gundam itu. Saya pernah dengar harga gundam seri tertentu mahal, dan Daniel sudah sering make money dari koleksi dan jual beli gundam. Hobi yang menurut saya tidak bisa dipandang sebelah mata.

Itulah keunikan rekan satu team sesama content writer selama saya bekerja di startup. Dikarenakan misi khusus, saya harus meninggalkan mereka beberapa lama. Tapi bukan berarti persahabatan kami renggang. Kami masih sering nongki syantik bareng bersama kolega-kolega yang lain. Berbincang ria pada kekhususan ngrasani konco.

Dan sekarang saya sudah tidak berada di lingkungan yang sama dengan Don Sultano dan Daniel ini, tapi hubungan baik masih terjaga. Semoga sukses selalu.


IS EST AMICUS QUI IN RE DUBIA RE JUVAT, UBI RE EST OPUS 
HE IS A TRUE FRIEND, WHO, UNDER DOUBTFUL CIRCUMSTANCES, AIDS IN DEED WHEN DEEDS ARE NECESSARY
(PLAUTUS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar