VIRI
INFORTUNATI PROCUL AMICI
THE
FRIENDS OF AN UNFORTUNATE MAN ARE FAR AWAY
Banyak dari kita yang punya teman dengan karakter unik
dan berbeda. Perbedaan bisa pada hobi, sifat, dan juga latar belakang keluarga.
Tapi namanya pertemanan tidak bisa ditakar hitam-putih, kamu siapa-saya siapa,
teman ya teman. Titik beratnya ada pada emotional
bonding based on particular circumstance and great time, you know lah what
I mean..
Saya punya seorang teman, teman dekat, eits, dia
laki-laki dan jangan berpikir saya homo!!!.
Ada hal unik dari teman saya ini karena memang tidak banyak yang menekuni hobi
seperti ini. Teman saya ini hobi mengkoleksi mainan robot-robotan yang familiar
kita sebut sebagai gundam. Meskipun gundam adalah produk keluaran jepang, namun
secara universal setiap robot-robotan akan disebut demikian karena memang
trademarknya sudah menghagemoni.
Saya mengenalnya saat pertama kali gabung dengan salah
satu startup di kota Jogjakarta. Pada waktu itu saya masuk sebagai penulis, dan
dia juga. Selama bekerja sebagai penulis a.k.a content writer, dia adalah orang
yang humoris, lucu sih enggak ya, cuma senang bergaul dan tidak garing. Waktu itu
team content writer ada 4 orang, saya beserta 3 lainya. Teman saya kolektor
gundam ini adalah salah satu content writer terbaik yang cukup bisa diandalkan.
Mengingat kecepatan menulis dan idenya yang terlampau kreatif, semua job “done”
dalam waktu singkat, sisa waktunya, jelas youtub-an.
Ohya, saya belum kasih tau namanya. Karena namanya yang
sulit diingat saat awal perkenalan (bahkan 5 hari setelah kerja bareng), saya
sering salah memanggil. Ok, kita sebut saja teman saya ini sebagai Daniel.
Seiring berjalanya waktu, people come and go, team
content writer fix solid dengan formasi 3 orang. Saya, Daniel, dan seorang lagi
yang sudah cukup senior, sebut saja namanya Don Sultano, dipanggil begitu karena beliau ini
memang fans banget sama Don Vito Corleone dalam serial film “The Godfather”. Sedikit
edifikasi Don Sultano ini. Dia terobsesi menjadi orang hebat dengan berbagai
cara, termasuk cara kekeluargaan, persis seperti Don Corleone. Orangnya lucu,
humoris, dan berjiwa kepemimpinan, tentu saja anda akan berpikir sebaliknya
jika bertemu dia langsung. Mukanya yang sangar, sifatnya yang cenderung
pendiam, dengan postur tubuh atletis, membuat dia layaknya alpha male yang
layang diperhitungkan eksistensinya di kantor.
Beberapa project kami jalani dengan sangat patriotis. Kerja
lembur tidak tidur hanya demi deadline. Banyak project kami team content writer
yang dipimpin oleh mas Don Corleone ini, eh Don Sultano. Sampai pada suatu saat dia stress
karena tekanan kerjaan dan hal lainya. Jargonnya saat stress adalah "wah piye nek ngeneki ckckck.."
Divisi lain menyebut kami para content writer sebagai “orang
produksi” yang unik. Bahkan mereka melabeli kami dengan sebutan “sama saja”. Pernah
terceletuk dari seorang kolega, “ah orang produksi semua sama”. Kebetulan tim produksi yang terdiri dari content writer semuanya laki-laki. Dengan kalimat langsung bisa dikatakan "semua laki-laki sama saja". Dari situ saya
merasa seperti mas Adam Levine..
Mungkin yang dimaksud “sama” adalah karakternya yang
aneh, unik, dan cenderung kekanak-kanakan. Percayalah bung, itu bagian dari
stress releasing kami yang kadang penat juga kalau nulis. Content writer juga
manusia donk.
Sehubungan dengan stress releasing ini, masing-masing
dari kami content writer punya pelampiasan berbeda. Mas Don Sultano yang jago
main futsal, ya futsal sampai sak lawase. Daniel yang paling senior dari segi
usia sibuk dengan gundam-nya. Sedangkan saya, tidur. Ya saya hobi tidur siang
di kantor. Tapi bukan berarti kerjaan tidak selesai. Kultur kantor yang
kokndusif memberi kami kebebasan yang bertanggung jawab. Yang penting kerjaan
selesai. Meet the deadline or dead. Demikian kira-kira.
Sekedar informasi, dilihat dari segi usia, saya berada di
tengah. Don Sultano 2 tahun lebih muda dari saya, dan Daniel 2 tahun lebih tua
dari saya. Jadi saya nggak tua-tua amat lah. Masih unyu-unyu menggemaskan.
Ada nilai yang saya ambil dari pertemanan dengan kedua
orang ini. Don Sultano yang anak gunung ( it is literally so, karena rumahnya
di atas punggung Menoreh), dan Daniel
yang remaja gundam. The value is, boys will be boys no matter how old they are.
Dalam kondisi serius soal kerjaan, kami orang yang berusaha profesional dengan
sentuhan kegilaan yang menjadi pelebur
suasana. Maklum, kami memiliki ruangan dan atmosfer sendiri dengan tidak ada
gangguan dari divisi lain. Disitulah banyak karya tulis kami hasilkan. Nggak ilmiah
sih, tapi cukup bisa dipertanggungjawabkan.
Suatu saat saya menginap di rumah Don Sultano yang berada
di salah satu sudut perfektur Menoreh. Suasana desa menyelimuti. Sawah membentang
dari ufuk ke ufuk. Suara lenguhan sapi dan bau khas kambing etawa membuat saya
ketawa, sedikit bernostalgia. Beberapa tahun yang lalu saya di perfektur yang
sama untuk sebuah misi. Lebih remote dari rumah Don Sultano ini. Persis di
tengah hutan, selama 20 hari. Jadi sejujurnya saat berkunjung ke rumah Don
Sultano saya merasakan atmosfer yang sama seperti saat dalam misi. Sebenarnya itu
rumah orang tuanya Don
Sultano sih, tapi ya karena pengaruh majas sinekdoke pras pro toto, dan karena Don Sultano juga belum punya
rumah sendiri dan masih numpang di rumah il
genitore-nya jadi ya untuk mempermudah, saya ceritakan itu rumah Don
Sultano. Saya diajak ke puncak gunung tertinggi di perfektur Menoreh. Saat di
puncak, saya merasa seperti Zhunge Liang yang sedang tunjuk-tunjuk merapikan
shaff batalion sembari kipas-kipas dan nyruput kopi. Setelah itu saya dibawa
keliling ke beberapa afiliasi Don Sultano. Sungguh paseduluran yang erat. Bayangpun, satu rumah dengan rumah lainya
berjarak tak kurang 100m. Tapi antara satu tetangga dengan tetangga lainya
saling kenal. Belum selesai, antara penduduk di sisi bukit yang berbeda bisa
jadi saling kenal juga. Jangan kaget jika anda tanya “dimana rumahnya pak Anu”,
mereka akan menunjukan jalan dengan detail, dan setelah ketemu, rumahnya sangat
jauh dari si pemberi informasi tadi. Luar binasa.
Lain halnya dengan Daniel. Orang ini cerdas, cadas, namun
humble. Periang, ceria, dan childish. Sangat menyenangkan berkawan dengannya. Anda
mungkin melihatnya sebagai pria yang masih suka mainan anak-anak. Pernah suatu
saat datang paket dari pak Pos buat Daniel ini. Isinya gundam. Ealaaahh.. Tapi
percayalah, meskipun mainanya gundam dan action figure dia tetap penulis
profesional. Pernah suatu kali saya dan Daniel sedang cari makan siang. Kebetulan
team content writer sedang dikarantina untuk project tertentu yang deadline-nya
sangat padat. Di bilangan brigjen Katamso kami berburu makan siang. Kebetulan
di sekitar situ ada toko mainan. Tidak besar sih. Hanya mata elang si Daniel
ini mampu menangkap sinyal keberadaan mangsa. Mungkin batinya “enemy spotted”. “Berhenti
dulu bro”, katanya. Dia turun dari motor dan menuju toko mainan tersebut lalu
keluar lagi. “Yang saya cari nggak ada”, katanya. Ternyata dia lagi cari gundam seri limited edition. Gundam lagi gundam lagi. Ohya, ngomong-ngomong soal
hobinya Daniel ini, dia punya komunitas pecinta gundam. Kegiatanya suka
ngumpul-ngumpul dan pameran, tentu saja ada edukasi tentang apa dan bagaimana
gundam itu. Saya pernah dengar harga gundam seri tertentu mahal, dan Daniel
sudah sering make money dari koleksi
dan jual beli gundam. Hobi yang menurut saya tidak bisa dipandang sebelah mata.
Itulah keunikan rekan satu team sesama content writer
selama saya bekerja di startup. Dikarenakan misi khusus, saya harus
meninggalkan mereka beberapa lama. Tapi bukan berarti persahabatan kami
renggang. Kami masih sering nongki syantik bareng bersama kolega-kolega yang
lain. Berbincang ria pada kekhususan ngrasani
konco.
Dan sekarang saya sudah tidak berada di lingkungan yang
sama dengan Don Sultano dan Daniel ini, tapi hubungan baik masih terjaga. Semoga
sukses selalu.
IS
EST AMICUS QUI IN RE DUBIA RE JUVAT, UBI RE EST OPUS
HE IS A TRUE FRIEND, WHO, UNDER DOUBTFUL CIRCUMSTANCES, AIDS IN DEED WHEN DEEDS ARE NECESSARY
(PLAUTUS)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar