Beberapa dari kita mungkin menerapkan kondisi ini,
yaitu double standard terhadap suatu masalah,
masalah yang sedang dihadapi diri sendiri dan masalah yang dihadapi orang lain.
Masalah yang dihadapi diri sendiri belum tentu bisa diselesaikan dan sudah
berani mengambil resiko dengan memberikan nasihat atas masalah orang lain. Sekilas
terlihat normal, wajar, sewajar anda jika sedang dirundung masalah dan juga
meminta saran orang lain. Semudah itu orang lain memberikan saran ini dan itu
kepada anda, sering tanpa mempertimbangkan berbagai sisi yang komprehensif dan
terkesan judgmental subjektif sepihak
dari sudut pandangnya sendiri dengan pertimbangan yang sangat sempit, data yang
sangat minim. Dalam hal ini ada beberapa fenomena unik yang bisa dipelajari
yaitu memberikan saran pada orang lain tanpa mempertimbangkan kapasitas pribadi
orang tersebut. Ilustrasinya begini, jika A memiliki masalah dan meminta
nasihat pada B, maka B akan memberikan nasihat sesuai dengan logika
berfikirnya. Dan A mungkin akan menerima dengan senang hati atau malah
mempertanyakan saran yang diberikan oleh B. Dalam hal ini, B memberikan nasihat
pada A atas masalah hidupnya. Tentu A meminta nasihat pada B bukan tanpa
pertimbangan. Kemungkinan B dianggap berkapasitas atau pernah merasakan hal
yang sama dengan A. Pada titik tertentu mungkin hubungan A dan B adalah teman
diskusi.
Jika kita melihat dari sudut pandang netral, baik
A maupun B sebenarnya pernah sama-sama bermasalah dengan hidupnya, baik dari
sisi sosial, ekonomi, percintaan, maupun akademis. Lebih jauh, ketika B
memberikan saran pada A, maka B menggunakan logikanya, dan bukan logika si A. Dalam
hal ini normal dan kita tidak bisa memaksakan B harus menggunakan logika ala A,
harus berfikir dengan kapasitas seperti A. Paham maksudnya? Jika tidak, maka
kemungkinan anda, dan juga saya sering terlibat dalam lingkaran pertemanan yang
saling memberikan saran pada temanya dengan cara pandang kita yang terlampau
subjektif. Kita lupa mempertimbangkan bahwa saat teman kita punya masalah, itu
adalah masalah yang sedang dihadapi dan akan diselesaikan dengan caranya
sendiri, dan bukan cara kita, dengan kapasitas berfikir dan logikanya, bukan
logika kita. Kesanya adalah, kita memaksakan logika kita kepada orang lain.
Sebenarnya saya juga tidak paham bagaimana
seseorang bisa menakar masalah orang lain menggunakan standar hidupnya sendiri.
Contohnya jika anda meminta saran atas masalah yang sedang dihadapi kepada
orang lain, orang itu serta merta memberikan saran. Hal yang unik adalah, orang
ini memberikan saran sesuai dengan kapasitas dan kemampuan pribadinya. Tidak salah,
wajar malah. Perkembangan ilmu psikologis dewasa ini menjadikan fenomena
semacam ini sebagai proses pendewasaan berfikir, kredo-nya mungkin masih sama “psikologi
untuk anda”. Maksudnya adalah, anda punya masalah. Masalah anda datang tentu
sesuai dengan kemampuan anda menyelesaikanya. Namun ketika anda minta saran
pada orang lain, yang terjadi adalah, anda minta tolong kepada mereka,
menggunakan logika mereka, dengan kapasitas mereka, untuk menyelesaikan masalah
anda. Apa dampaknya?. Seringkali terjadi saran yang disampaikan hanya sesuai
dengan pandangan orang yang memberikan saran. Apakah hal itu menyelesaikan
masalah anda?. Bisa iya bisa tidak. Tapi pada intinya begini, orang yang anda
mintai saran tentu memiliki kapasitas dan logika berbeda dengan anda, begitu
juga dengan langkah konkrit mereka menyelesaikan masalah yang sama dengan anda.
Masalah yang sama bisa jadi berbeda penyelesaianya.
Pun demikian, mereka bisa jadi mengalami masalah
hidup yang berbeda dengan anda. Bisa jadi yang mereka hadapi lebih berat dari
anda, atau malah lebih ringan, atau sama beratnya tapi dengan kondisi berbeda. Otomatis
saran dan nasihat yang diberikan tentu akan sangat subjektif. Tidak jarang anda
akan mendengar frase-frase seperti “kamu
mestinya begini atau begitu”, “kamu
harus melakukan ini dan itu”, dan hal-hal yang senada. Sebenarnya hal ini
adalah gambaran tipis perbandingan antara “sebuah nasihat” dengan “sebuah pembenaran”,
soal ini saya sebutkan nanti.
Sebuah saran akan terlihat berguna jika bisa
menyelesaikan masalah, ini yang harus kita sepakati terlebih dahulu. Menurut pengamatan
pribadi saya, sebuah saran dari seorang kawan akan berguna bagi anda jika
memenuhi beberapa kriteria berikut :
1. pemberi saran adalah orang yang pernah
mengalami masalah seperti yang pernah anda alami, baik dalam skala sama atau
lebih besar. ini penting, karena jika tidak maka yang terjadi adalah
subjektivitas itu tadi. Pemberi saran mendengarkan masalah anda, berfikir
dengan logikanya, dan memberikan saran yang menurut dia baik. Tapi belum tentu
baik dan berguna buat anda. Belum tentu itu akan menyelesaikan masalah anda. Tipe
pemberi saran yang pertama ini berfikir dan berfatwa berdasarkan pengalaman
empiris apa yang pernah dialaminya, dan sekarang terjadi pada anda. Kemungkinan
yang terjadi adalah hitung-hitungan dimulai dari latar belakang terjadinya
masalah tersebut. Jika anda punya masalah terlambat masuk sekolah, maka saran
yang mungkin anda terima adalah, si pemberi saran melihat bagaimana awal mula
anda bisa terlambat masuk sekolah. Dia akan membantu anda mengurai dari awal
sampai akhir. Misalnya anda terlambat masuk sekolah karena bangun kesiangan. Pemberi
saran tipe pertama akan mengoreksi mulai dari bagaimana anda beraktivitas pada
malam hari. Jika anda begadang nonton pertandingan bola atau main game maka dia
akan memberikan saran yang terkait dengan itu, misalkan “paksakan untuk tertib
tidak main game sampai pagi” dan tertib jam tidur (dengan asumsi pemberi saran
juga mengalami masalah yang sama dan berhasil selesai dengan itu).
2. pemberi saran adalah orang yang berkapasitas
dalam bidang keilmuan tertentu dimana masalah anda termasuk dalam kajian
keilmuanya, tapi dia belum pernah mengalaminya. Pada jenis ini, pemberi saran
mungkin tidak akan langsung memberikan saran yang berguna bagi anda, tapi akan
memberikan pandangan dari beberapa sudut pandang yang nyrempet-nyrempet dengan
masalah anda. Jika anda mendengarkan saran dari orang semacam ini, anda akan
mendapatkan penglihatan dengan sudut pandang yang sedikit lebih luas. Mungkin tidak
menyelesaikan masalah anda dengan langsung mengarah ke sasaran yang tepat, tapi
bisa membantu anda mengurai masalah-masalah kecil yang membangun konstruksi
masalah besar anda. Misalnya, anda punya masalah besar terlambat masuk sekolah.
Masalah ini bisa terjadi karena beberapa hal, telat bangun, tidak ada
kendaraan, pekerjaan rumah yang belum beres, dan sebagainya. Orang jenis ke dua
ini mungkin akan membantu anda menyelesaikan masalah “telat bangun” anda
terlebih dahulu meskipun dia tidak bermasalah dengan bangun pagi. Dan jika anda
minta saran orang lain, orang berikutnya mungkin akan membantu anda
menyelesaikan masalah “pekerjaan rumah”, begitu seterusnya.
Sehubungan dengan saran dan pembenaran yang saya
singgung diatas, beberapa orang meminta nasihat pada orang lain bukan untuk
benar-benar karena ingin mencari solusi, tapi lebih pada sekedar mencari
pembenaran atau pandangan saja. Jelek, tidak. Karena ini juga bisa menjadi
referensi atas masalah yang sedang dihadapi. Mungkin di satu sisi orang yang
bermasalah sedang mencari padangan baru, dalam jumlah banyak, untuk mengukur
sebenarnya bagaimana pandangan orang lain terhadap masalahnya. Di sisi lain,
pemilik masalah tersebut memang sedang berburu solusi, tapi ini juga agak
ngeri-ngeri sedap, kenapa?. Berburu solusi agaknya terkesan terburu-buru
target, ingin masalah lekas paripurna. Tapi lupa bahwa terkadang dia datang
pada orang yang kurang tepat sehingga saran yang dihasilkan juga kurang
maksimal. Atau sudah maksimal tapi eksekusinya yang melenceng. Namun jika anda
adalah orang yang tipenya kekeuh dengan pendirian anda, maka yang sedang anda
cari adalah pembenaran. Anda punya masalah, saran yang diberikan kepada anda
bertentangan dengan logika anda, maka spontan anda akan menolak dan berkilah. Yang
terjadi selanjutnya anda akan mencari orang lain yang bisa memberikan saran
sesuai dengan apa yang anda pikirkan, pembenaran lagi. Jika tidak ketemu, anda
akan terus mencarinya. Pada akhirnya yang anda lakukan adalah tindakan yang
sama dalam menyelesaikan masalah anda. Cara lama untuk masalah yang lama,
hasilnya sama saja, gagal.
Begini kawan, saran saya terhadap suatu masalah
(semua orang punya masalah sesuai kapasitasnya, saya mengambil contoh masalah “bangun
pagi”) adalah :
1. petakan masalah anda. Langkah pertama ini
krusial karena pada skala yang lebih besar (lebih kompleks dari sekedar bangun
pagi) seseorang tidak berhasil memetakan letak pangkal permasalahan. Jika anda
tahu masalah anda maka mencari solusinya akan lebih mudah. Misalnya anda
bermasalah dengan terlambat bangun pagi, maka salah satu solusinya adalah
menyetel alarm. Jika tidak cukup, minta bantuan orang lain untuk membangunkan
anda. Jika masih belum cukup, kondisikan diri anda pada keadaan tidak nyaman
tidur sehingga akan mudah pada saat bangun. Pengkondisian semacam ini mungkin
terkesan pemaksaan, tapi efektif. Intinya masalah anda selesai bukan. Dalam hal
ini adalah bagaimana caranya supaya bisa bangun pagi.
2. jujur dengan diri sendiri. Banyak yang tidak mau
mengakui bahwa seseorang bermasalah dengan “bangun pagi”. Mereka dengan
santainya bilang “nggak papa begadang, besok pasti bangun, santai”. Attitude semacam
inilah yang menghambat penyelesaian masalah “bangun pagi”. Jika anda mau jujur
dan mengakui bahwa memang bermasalah dengan bangun pagi, maka akan lebih mudah.
Perkara jujur ini juga merupakan pemetaan masalah terkait dengan cara nomor 1.
3. memaksakan disiplin. Mungkin ini saran klise
yang gampang dilontarkan tapi sulit eksekusinya. Anda bisa menyiasati dengan
memaksa diri untuk tertib waktu. Misalnya tadi, anda bermasalah dengan bangun
pagi dan anda sudah bisa memetakan bahwa itu dimulai dari malam harinya. Jika anda
hobi begadang main game, maka mulailah mengurangi. Alasan refreshing dan
sebagainya itu kuno. Kenapa, karena itu pembenaran. Toh nyatanya anda masih
belum bisa bangun pagi. Disiplin salah satu maknanya adalah memaksakan diri
anda melekat pada sistem yang sudah anda buat sendiri. Jika anda tidak menjalankan
aturan anda sendiri, orang lain tidak akan banyak membantu anda. Mereka tidak
peduli.
4. minta bantuan orang yang bisa diandalkan. Jika anda
tinggal dengan orang tua atau pasangan, akan lebih mudah mendapatkan bantuan
dari orang terdekat. Misalkan anda yang bermasalah dengan bangun pagi, mintalah
bantuan pasangan anda membangunkan anda, kalau perlu dengan paksa. Jika anda
masih tinggal dengan orang tua, tidak usah ditanya, your mother is the best alarm she wakes you up at 5 and tells you it’s
7.
5. menyiasati masalah dengan langkah kecil. Langkah
penyiasatan ini berkaitan dengan pengkondisian tertentu yang membuat anda bisa
cepat bangun pagi. Salah satu model penyiasatan ini dalam kasus bangun pagi
misalnya dengan membuka tirai jendela kamar dan tidur tanpa selimut. Membuka tirai
kamar menyebabkan cahaya matahari masuk dan menyinari ruangan. Silau terkena
siinar matahari membuat anda tidak nyaman dan mau-tidak mau harus membuka mata.
Untuk menutup tirai, anda perlu jalan. Selain itu, cobalah pasang alarm di
tempat yang jauh sehingga anda harus berjalan untuk mematikanya.
Terkait dengan standar ganda, masalah bangun
kesiangan ini terkadang tidak semua orang mengalaminya. Banyak dari mereka yang
sudah mendapatkan tools mengatasi
masalah ini, salah satunya jika masih tinggal dengan orang tua. Nah, mungkin
anda berhadapan dengan orang-orang yang mempermasalahkan ini secara sepihak,
mereka menyalahkan kebiasaan bangun siang anda. “Gimana sih kok telat terus”, “dasar
kebo, tidur mulu”, dan sebagainya. Padahal, mereka tidak paham bahwa anda
sedang berjuang mengatasi masalah ini, benar bukan?. Mereka yang tidak
mengalami masalah yang sama dengan anda mengomentari masalah anda dengan cara
pandang yang subjektif. Semua orang hendaknya sama dengan mereka. Kalau mereka
bisa bangun pagi, orang lain juga bisa. Tentu kerangka berfikir ini latah di
masyarakat kita. Contoh yang saya buat soal “masalah bangun pagi” tadi hanya
soal kecil klise yang semua orang hampir mengalaminya. Mungkin perkara yang
lebih besar bisa terjadi, misal masalah finansial, keretakan keluarga, hubungan
interpersonal, masalah akademik, dan sebagainya, yang orang memandang masalah
tersebut juga berbeda-beda. Tapi kebanyakan melakukan overgeneralisasi. Yang perlu kita lakukan jika berhadapan dengan orang
seperti ini adalah memaklumi dan keep
open mind. Memahami bahwa orang diciptakan dengan kapasitas berbeda bahkan untuk
menghadapi satu masalah yang sama. Jika anda berada di pihak pemberi saran,
usahakan melihat masalah dari sudut pandang orang lain. Anda akan mendapatkan
insight baru dan “dipaksa” berfikir dengan logika yang sama sekali berbeda. Hasilnya,
saran anda mungkin akan lebih mengena dan aplikatif pada orang tersebut.
Ilustrasi :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar