Selasa, 31 Januari 2017

MENG-ULAMA-KAN MBAH KAUM



Sekitar tujuh tahun yang lalu kalau tidak salah, ada salah seorang ulama senior di kampung saya yang dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Pak Mimin namanya. Beliau adalah orang yang selalu merapalkan ayat suci di malam bulan Ramadhan, sampai khatam, selama 30 hari non stop. Setidaknya sampai beliau sowan Ing Ngarso Dalem Gusti Pangeran. Beliau menghadap sang ilahi pada bulan Januari, dimana waktu itu puasa kalau tidak salah bulan Oktober atau November. Ini kiamat kecil bagi saya. Fix puasa tahun selanjutnya saya tidak mendengar lantunan Al Fatihah sampai An Naas-nya Pak Mimin lagi. Malam-malam Ramadhan terasa senyap tanpa bunyi mikrophone di langgar sebelah. Maklum, pak Mimin selalu ngaji sehabis waktu ibadah tarawih berakhir, kira-kira satu jam lamanya beliau merapal satu juz. Tahun berganti, tiada lagi pak Mimin dengan logat Sundanya yang terkesan dipaksakan bicara dengan bahasa Jawa halus. Jadi pak Mimin ini penutur dwibahasa yang sangat fasih, beliau orang Sunda yang sudah lama di Jawa. Sejujurnya saya rindu dengan suara pak Mimin yang biasa saja tapi selalu menghiasi waktu sebelum naik ke peraduan. Kebiasaan mengaji pak Mimin berakhir kira-kira pada jam 9 tiap malamnya di bulan ramadhan.


Belum lama ini juga ada salah seorang tetangga saya yang meninggal karena menderita gagal ginjal. Membuatnya harus menjalani ritual haemodialisis tiap 4 hari sekali. Namanya pak Mar. Pak Mar adalah seorang pedagang tahu putih. Beliau memiliki pabrik tahu dan setiap pagi anak-anaknya yang sudah pemuda mengantarkan ke pasar ba’da Subuh. Meskipun pak Mar ini bukan dianggap sebagai mbah kaum oleh orang kampung, tapi kehadiranya tiap sholat Jumat sudah cukup memberikan saya inspirasi untuk menuliskan kisah ini. Pak Mar, dengan salah satu kaki-nya yang (maaf) agak pincang karena kecelakaan (atau terjatuh) beberapa tahun sebelumnya, dengan tetap semangat dan murah senyum, mendatangi tiap majelis kerakyatan yang digelar di kampung. Suaranya yang besar, nyaring, sebesar badan dan tanganya, kerap menjadi komando begal sapi saat hari raya kurban. Maklum, RT saya tidak punya masjid, jadi pemotongan hewan kurban dilakukan di salah satu pekarangan kosong, pekarangan miliki pak Mar.


Ada lagi salah seorang mbah kaum yang cukup tersohor dan prominent di kampung saya, namanya pak Nur. Pak Nur memang sudah lama menjadi mbah kaum yang dimuliakan dalam setiap acara, terutama pengajian dan penyembelihan hewan kurban. Peran pak Nur sangat vital, yaitu sebagai orang yang menyembelih hewan kurban lengkap dengan bait do’a penyebutan sohibul dan pekik takbirnya. Sebuah tugas mulia yang dijabat oleh orang tiada duanya di kampung saya, hanya dan hanya pak Nur. Sekarang pak Nur sudah sepuh, sudah uzur. Namun dengan langkahnya yang kalem, masih mengisi khutbah di masjid tiap 2 minggu, pada waktu sholat Jumat. Pak Nur yang sepuh ini nampaknya sudah memilih penerus untuk suksesinya sebagai punggawa gorok sapi.


Sebelum lupa, salah seorang mbah kaum yang juga melegenda lainya adalah pak Pad. Beliau adalah orang yang babat alas di kampung saya. Karena jasa beliaulah kampung kami punya masjid yang bisa melantangkan suara adzan lima kali sehari. Itu belum dengan sederet pengumuman berita kematian si fulan dan fulanah, dengan atau tanpa kalimat Innalillahi wa innailaihi rojiun. Pak Pad di usianya yang 87 tahun masih kuat ngangsu (menimba) di sumur dan memasukan air ke padasan (gentong air untuk pancuran wudhu). Beberapa kali saya sholat maghrib berjamaah di masjidnya pak Pad, beliau nampak kurus dengan hanya kulit membalut belulangnya yang kian hari kian rapuh. Pernah saya harus nyaris batal sholat karena pak Pad terjatuh saat ruku’, dan akhirnya saya dudukkan. Beliau sholat sambil duduk di lantai. Suatu hari saya mendengar adzan dikumandangkan pak Pad. Sampai pada lafaz Ashadu anna Muhammadarrosulullah lalu berhenti. Satu-dua tarikan nafas mungkin masih wajar untuk jeda. Tapi ini lebih dari 7 detik. Tak lama kemudian adzan dikumandangkan dengan berganti suara, yang saya tahu itu adalah suara pak Maryo, anak pak Pad. Baru saya tahu kalau pak Pad sudah tak kuat lagi menarik nafas untuk adzan. Mungkin itulah suara adzan terakhir pak Pad yang saya dengar. Karena beberapa minggu kemudian, dari masjid yang sama, nama pak Pad disebut-sebut tepat setelah kalimat istirja’. Pak Pad sowan ke hadapan Ngarso Dalem Gusti Pangeran.


Dari keempat orang diatas, saat ini saya masih bisa menemui mbah kaum yang bernama pak Nur. Seorang pribadi zuhud yang dresscode-nya hanya itu-itu saja. Sepotong baju koko warna hijau pucat, peci putih, sarung putih, dan sajadah warna pink. Para mbah kaum ini memberi saya contoh bahwa berdakwah itu tidak harus teriak-teriak seperti yang belum lama ini sering kita dengar di media masa. Saya sudah hampir 6 bulan ini tidak menonton TV. Tapi saya tahu dari media sosial yang nampaknya lebih jujur daripada TV milik si anu dan si nganu yang tentu sudah bermuatan politik. Bahasa aborigin-nya “alat propaganda”. Para mbah kaum ini mengajarkan saya bagaimana aplikasi sesungguhnya dari surat An Nahl ayat 125; “Dan serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah bijaksana, dengan cara yang baik, dan berbantahlah dengan cara yang baik pula....”. Setidaknya potongan ayat tersebut sudah banyak dilupakan beberapa golongan umat yang berteriak saling mengkafirkan secara tendensius keterlaluan.


Para mbah kaum ini berdakwah dalam diam. Banyak memberi contoh lewat laku agung, bukan hanya kofar-kafir. Para mbah kaum ini tanpa banyak bicara mereka mendirikan surau untuk beribadah umat, membagikan zakat dan daging kurban untuk siapa saja baik muslim maupun non muslim, melantunkan ayat suci untuk mengingatkan kita atau minimal pengantar tidur bernuansa Islami. Meskipun mereka tidak jago dalam berdakwah, menyampaikan ayat ini dan itu, bagi saya tingkah lakunya jauh lebih berakhlak dan layak dicontoh dari hanya retorika teoritis belaka. Orang boleh hapal ayat ini dan itu, tapi pengamalan nol besar buat saya mubadzir.


Hal yang kontras terlihat dari sisi kehidupan dakwah jalanan lainya. Saya tidak bilang dakwah jalanan itu buruk, tidak. Tapi kerap kali caranya tidak disukai beberapa orang. Dakwah jalanan yang saya maksud contoh kecilnya saja lewat media sosial. Pernahkan kalian dengar tentang propaganda jilbab yang jleb banget. Beberapa ukhti langsung nyinyir pada mereka yang banyak alasan dalam berhijab. “Hatinya dulu yang berhijab, lalu fisiknya”. Yang dinyinyiri dengan “kalau memang muslim ya ndak usah banyak alasan”. Percayalah kalimat seperti ini benar tapi tidak baik, bener ning ora pener. Siapa yang menjamin wanita tanpa hijab bisa terima dinyinyiri seperti ini. Bisa jadi mereka malah makin jauh dari dorongan menutup aurat karena penyampaianya yang tidak humanis.


Pak Nur adalah orang yang menurut saya cukup moderat dalam berdakwah. Beliau tidak nyinyir pada pemudi yang belum bertudung. Tapi sekali ada pemudi yang bertudung di momen bulan Ramadhan, ribuan pujian dan apresiasi dilontarkanya. “Alhamdulillah sekarang sudah berjilbab, subhanallah makin cantik”. Wanita mana yang tidak melting dikatakan cantik. Sesuatu yang saya lihat berbeda dengan ukhti-ukhti nyinyir, meskipun tidak semua ukhti itu nyinyir, ada juga yang moderat macam pak Nur tadi. Mereka lebih sering mencerca ketidak-berhijab-an wanita, dan pada saat berhijab pun tiada apresiasi diucapkan. Bagi mereka yang namanya hijab itu kewajiban. Tidak dilakukan salah, dilakukan ya sudah memang seharusnya. Angel boss..


Padahal yang namanya hijrah menjadi berhijab itu perlu proses yang mematangkan emosi dan religi. Bagi mereka para ukhti yang sudah dari sananya dididik berhijab tentu tidak punya masalah. Mereka tidak mengalami gejolak emosi untuk berubah dari “yang dikatakan jelek” menjadi “yang dikatakan baik” secara agama. Tidak pernah. Setelah mbrojol mereka berhijab. Sudah. Beda dengan wanita penggerai rambut yang selalu tampil dengan bedak dan gincu merahnya. Untuk berhijab diperlukan proses panjang pergolakan batin dengan berbagai pertimbangan terutama soal penampilan yang sangat sensitif buat kaum hawa. Pergolakan batin yang tidak pernah dirasakan para ukhti nyinyir.


Yang saya ingin tekankan adalah peran ulama dalam mengubah masyarakat melalui dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Beberapa orang di luar sana siap membela ulama sampai titik darah penghabisan melalui apa yang mereka sebut sebagai jihad. Menarik, sebenarnya apa makna jihad sendiri?. Dalam bahasa arab, jihad berarti bersungguh-sungguh. Adakah makna jihad itu berperang, seperti yang kebanyakan orang kita pahami?. Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi pada intinya adalah bersungguh-sungguh. Dan sebagai contoh hijrahnya wanita menjadi berhijab juga bagi saya adalah jihad yang tidak bisa dipandang remah. Berjuangnya seorang mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi juga bentuk jihad ragawi, pikiran, dan juga biaya, ini juga jihad. Sebenarnya salah kaprah ini sudah lama mendarah daging diantara orang-orang kita yang menganggap “angkat senjata” itu jihad fi sabilillah. Benarkah ulama mengajarkan memaknai jihad sebagai perang?. Mungkin karena pengaruh konflik timur tengah yang tak berkesudahan hingga fenomena impor ideologi transnasional dimana kajianya banyak mengangkat tema perjuangan berdarah bangsa palestina menjadi mindset yang kadung jamak. Mungkin karena ini juga akal kita tanggal dihadapan taqlid buta pada pimpinan jamaah yang dianggap ulama dan bisa bicara seenaknya dengan dalih jihad itu tadi. Kasihan..


Bagi saya, pak Mimin, pak Pad, pak Nur, dan pak Mar adalah sebenar-benarnya ulama amar ma’ruf nahi munkar. Mereka punya ilmu, mengamalkan, mencontohkan, dan bijak dalam menasihati. Salah satu nasihat yang sampai sekarang masih menjadi panduan hidup saya adalah surat Al Ma’un. Surat ini berkisah tentang kewajiban menolong orang miskin, menyantuni anak yatim, dan berderma dengan harta kita. Dalam hidup saya sejujurnya tidak banyak ulama yang menjadi panutan. Yang paling tinggi (tidak termasuk Rasulullah karena beliau utusan, tidak saya golongkan sebagai ulama) bagi saya adalah mbah Dahlan. Beliau, pak Muhammad Darwis, mengajarkan kepada saya tidak perlulah banyak mengaji kalau hanya sebatas lisan. Lakukan perintah satu ayat dengan istiqomah, konsisten terus menerus, dan tunggulah keajaiban Tuhan menyertaimu. Secara pribadi saya tidak pernah bertatap muka dengan mbah Dahlan ini karena beliau sudah lama wafat pada 1923. Inti pelajaran yang saya ambil soal berdakwah adalah “kenyangkan dulu perutnya lalu isi hatinya dengan hikmah (agama)”...




Tidak ada komentar:

Posting Komentar