Notitiam primosque gradus vicinia fecit;
tempore crevit amor
Proximiti caused their first
acquaintance, and their first advances in love, with time their affection
increased
“Siapa namamu?”, tanyaku
“Annelis, Annelis Chloe”, jawabnya
“hobimu apa?”
“nongkrong, hangout sama temen-temen,
pokoknya nge-hedon lah”, sambungnya sambil terkekeh..
Itulah
sebaris percakapanku saat berakrab pertama kali dengan Annelis, di kursi depan
kantor kami. Karena setelahnya Annelis masih harus menjalani serangkaian test
kelayakan dari mijnheer afdeling
personeelzaken untuk proses penjualan produk sembari menawarkanya ke
masyarakat umum. Sedangkan
aku, aku melanjutkan pekerjaanku meramu
baris demi baris dan merangkumnya dalam sebait tulisan.
Petang menjelang, dan rombongan Annelis beserta
kawan-kawanya telah kembali dari test penjualan produk. Selanjutnya kami semua
berkemas pulang dan melanjutkan pekerjaan keesokan harinya. Beberapa dari kami
memang pulang. Tapi sebagian tetap melanjut bercengkrama dengan komputer
masing-masing. Maklum, deadline bukan hal yang bisa ditinggalkan begitu saja. Hukumnya,
“anda malam ini tidur, kerjaan anda tidak selesai”, makanya jangan tidur. Work hard,
play hard. Het gelijke word door het gelijke genezen.
Esok harinya seperti biasa kami datang ke tempat kerja. Masuk
ke ruangan masing-masing. Aku dan tim masuk ke ruang isolasi. Sedangkan tim
yang lain berada di ruangan yang lebih luas. Kalau boleh, kawan, kusebut mereka
sebagai tim penabur kebahagiaan. Karena memang motto kami adalah menyebarkan
kebahagiaan. Itulah tim dan ruangan dimana Annelis berada. Ditengah para
penabur kebahagiaan yang jumlahnya tak kurang 20 orang. Di ruangan ber AC yang
sejuk. Namun tak sesejuk target yang dibebankan, mengingat standar kerja kami
yang agak romusha. Sudah lama kulihat
wajah Annelis. Sendu. Dengan mata yang penuh misteri, dan tentu saja gelang
kaki. Mulailah kudekati Annelis di ruang ber AC itu. Motifnya adalah, numpang “ngadem”.
That’s all, but it’s effective.
Beberapa waktu sebelum Annelis join dalam niche kami, ada
seorang perempuan. Perempuan berhijab dengan wajah yang sangat eksotis
menurutku. Sama eksotisnya dengan daerah dimana dia berasal. Bau khas Nicotiana tabacum yang dirajang dan
dijemur diatas jalinan bilah bambu di pinggir jalan menjadikan duo Hartono sebagai
taipan superkaya di negeri ini. Ya, koh Budi dan koh Michael itu yang kumaksud,
kawan. Yang setiap tahunya memberikan beasiswa pada ribuan pelajar di negeri
kita. Meskipun banyak menuai pro-kontra, toh parapelantang dan aktivis
anti-tembakau itupun menikmati gelontoran dana duo Hartono. Keras suara mereka
menolak litingan tembakau beredar di masyakarat. Namun uang pendidikan mereka
terima juga. Mereka pikir uang itu berasal dari jualan cilok atau nasi kucing
apa. Ah tapi sudahlah double standar tak jadi soal, toh semua pihak sama-sama
senang. Toh korporasi itu juga makin banyak duitnya. Toh tembakau cap Hartono
juga tetap melanglang buana di saku para mahasiswa. Toh asapnya tetap
memberikan relaksasi dan keluwesan berdialektika. Toh aku juga bisa bertemu
dengan gadis berkerudung dengan gincu merah muda. Yap, rumahnya di lereng
gunung Sumbing.
“hallo, gutten tag”,
sapanya
“hallo, gutten tag”,
balasku
“sprechen Sie
Deutsch?”
“Ja, einen bischen,
einige worte, und du? es ist sehr angenheim”
“hahaha..”,
dibalasnya dengan ketawa renyah.
Ok lah, aku cukup paham kalau gadis ini mencoba mengetes
saja sampai mana kemampuanku menguasai bahasa ibunya paman Fuhrer. Menarik juga orangnya. Tapi belakangan kutahu dia sudah
punya pacar. Tak masalah. Toh dia tetap kuanggap sebagai guru yang akupun
banyak belajar darinya bagaimana Deutsch
zu sprechen.
Tidak banyak aku bicara denganya karena dua hari kemudian
dia bawa pacarnya join di niche kami. Pacarnya ini kulihat pertama kali garang
nampaknya. Tapi kok ya gokil juga setelah kukenal. Rama namanya. Si gadis
berkerudung itu kenal dengan Rama melalui situs jejaring sosial. Batinku, masih
untung kamu ndak jadi korban apa-apa gitu, verdomde
kan kalau terus diculik. Untuk selanjutnya aku tak banyak bicara dengan gadis
pink tersebut, pink kerudungnya, pink pula gincunya. Cukuplah dia sebagai onderwijzeres yang mengajariku beberapa
kata dalam Mein kampf.
Kembali kepada Annelis yang sudah mulai aktif kerja. Kulihat
dia mojok di meja dekat AC. Bersebelahan dengan Rama. Kusapa Rama, basa basi
busuk lah. Menanyakan kabar seputar lereng gunung Sumbing yang permai itu. Menarik
rasanya kalau sekali-sekali main ke rumah Rama yang hawanya sejuk dikelilingi
sawah menghijau. Tapi tentu saja itu hanya modus. Annelislah yang sebenarnya
kudekati. Kusapa dia. “Hai Annelis”. “Halo juga”. Kawan, taukah kau bagaimana
susahnya mencari topik pembicaraan dengan perempuan. Beberapa dari mereka hanya
menjawab sepatah dua patah kata, dan itu skak mat bagi kami kaum adam yang
hanya ingin berkenalan dengan mereka. Rasa penasaran membawaku pada pertanyaan
bagaimana Annelis mendapatkan namanya yang unik. Nama yang belum pernah
kudengar sebelumnya. Nama yang menurutku fusion antara timur dan barat. Annelis
menjawab, “Oh teman mama ada yang dari negerinya Charles de Gaule, jadi namaku ya jadi kayak gini”. “Oh, ok lah”, jawabku.
Sejenak pengejaan nama Annelis mirip dengan bunga
Amarilis. Bunga Amaryllis belladona,
L adalah bunga yang merupakan anggota dari keluarga Amaryllidaceae. Tanaman ini dapat tumbuh di segala musim. Memiliki bunga
yang mekar jatuh dengan tangkai sari atau polen yang menjorok keluar. Kelopak bunganya
berwarna-warni, mulai dari merah cerah, orangye, putih, ungu, pink, dan
sebagainya. Sangat cantik jika dilihat dalam hamparan taman. Kalau kau tahu
kawan, beberapa waktu yang lalu di salah satu perfektur perbukitan di sebelah
timur kota Jogja, ada sepetak taman Amarilis yang diinjak-injak pengunjung
hanya karena ingin berfoto dengan bunga nan cantik tersebut. Sayang seribu
sayang. Hanya karena nafsu nge-hits, rusak taman dan akal manusia dibuatnya. Tapi
aku tidak akan banyak bicara soal tanaman Amaryllis ini karena ini pelajaran
bologi dan aku juga nggak ngefans amat sama om Linnaeus.
Karena nama Annelis yang unik, kusamakan dengan
penyebutan Amarillys si pemilik kelopak bunga cantik tersebut. Sama cantiknya
dengan paras Annelis yang kuketahui dia barusan menyandang status jomblo. Sama merekahnya
juga dengan gincu merah Annelis yang menempel di bibir mungilnya. Pendekatan
yang intens nampaknya mengusik ketenangan Annelis. Lambat laun tak digubrisnya
sapaanku. Baiklah, lu jual mahal, gue gak mau beli. Tak kuhiraukan balik sapaanya
tatkala aku bercengkrama dengan Rama yang duduk tepat di samping Annelis. Cukup
peka dia nampaknya tak kuajak bicara, menyapapun tak kualamatkan padanya. Mulailah
dia yang aktif menyapa balik menyapa, sedikit mengurai rasa bersalah karena
mungkin sudah tak acuh padaku. Sejak saat itu kami menjadi cair. Suatu saat
berkatalah dia padaku dalam bisik. “Kamu sudah kuanggap sebagai kakak-ku
sendiri”. Kalimat klise perempuan yang menolak halus untuk didekati. Dan akupun juga tidak ingin menambah daftar panjang adik-adiku yang sudah banyak dengan memasukan nama Annelis di dalamnya. Tak kalah
akal akupun membalasnya. “Wahai Annelis cantik, kau sudah kuanggap sebagai
cucuku sendiri, tapi tolong jangan minta sangu !”.
Sempat kuajak beberapa kali Annelis untuk menikmati senja
bersama sambil ngopi di salah satu kafe langgananku. Bangunanya yang bertingkat
membuat semua pengunjung di lantai dua bisa melihat senja dengan sempurna tanpa
jeda. Spot yang siapa saja merasa diistimewakan dengan sederet lantunan puisi
bertema senja. Tapi sayangnya Annelis menolak dengan halus karena takut. Oh come
on, takut?, denganku?.
Ini
kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Karya : Chairil Anwar (1946)
Sebait puisi karya pujangga Chairil Anwar diatas berjudul
"Senja di Pelabuhan Kecil". Tak kutahu dimana letak pelabuhanya. Tapi jelaslah
itu metafor dari pelabuhan hati sang pujangga sendiri. Mungkin sedikit berbeda
dengan kisahku dan Annelis. Puisi “Senja di Kafe Mungil”. Itu kiranya judul
yang cocok kusematkan untuk sore itu. Kawan, berhubung Annelis sulit diajak
ngopi bareng. Kutanya padanya kenapa!. “Aku takut”, jawabnya, yang di kemudian
hari kuketahui dia mencari tahu tentangku dari rekan-rekan yang lain. Aku yang
dikiranya garang, tak berperasaan, dan berdarah dingin. Semua hal yang bathil
seolah menempel pada diriku sebagai pribadi buruk adanya. Memang mukaku tak
rupawan amat. Tapi itu tak ada hubunganya dengan sifatku yang buruk. Bahkan dalam
sebuah kitab suci diceritakan ada orang bernama Luqman yang buruk rupa tapi berakhlak
surga. Dan kurasa akupun sedikit lebih beruntung dari Luqman ini. Puji syukur
ya Tuhan.
Singkat cerita, setelah melalui beberapa minggu dan
beberapa ajakan, Annelis sudi kiranya membagi waktu dan cerita bersamaku untuk
satu sore yang hangat. Sehangat secangkir kopi diatas meja kayu yang menghadap
ufuk barat. Menunggu tenggelamnya senja dalam balutan awan jingga bak selendang
bidadari. Saat berkas sinar oranye mentari menghantam meja kami, mengenai wajah
Annelis, kusadar yang duduk di depanku inilah seorang bidadari.
“Why me?”,
tanyanya..
“Why not?”,
jawabku..
“Apa yang menarik dariku?”, tanyanya lagi..
Kujawab ada sesuatu yang membuatku tak bisa menahan rasa
ingin tahu. Hal pribadi yang hanya Annelis dan Tuhan yang tahu. Dia hanya
bercerita pada Tuhan. Dan Tuhan membaginya padaku hingga bisa duduk berhadapan
denganya. Kuceritakan beberapa hal yang membuat dia terkejut. Bagaimana tidak,
kotak pandora yang tersegel rapat dalam hatinya dan dijaga Leviathan, kubuka
dengan kunci rahasia. Kawan, sudah kubilang, Leviathan berhasil kusuap. Capit kepitingnya
yang besar itu tak kuasa mencabikku karena kutawarkan kepiting betina yang kecantikannya
sudah masyhur di seantero samudra Hindia. Bahkan Poseidon pun mengakuinya dan
tak habis pikir dibuatnya. Sambil memanggul trisula-nya, Poseidon tepok jidat
sembari berujar, “duh dek, kamu kok bego banget sih!”. Begitu katanya pada
Leviathan.
Ohya kawan, beberapa hari sebelum Annelis bersedia ngopi
bersamaku, dia ingin pertemuan pertamanya denganku dilakukan dengan mediator. Seorang
kawan dekat Annelis, laki-laki tambun dengan wajah lucunya menjadi mediator
kongkow aku dan Annelis, sebut saja namanya P. Laki-laki ini adalah kawan
Annelis semasa kuliah. Namun karena rasa bosan kuliah yang gitu-gitu saja, P
memilih jalan pedang mencari pengalaman dengan bekerja. Maklum, karena Annelis
masih takut denganku yang garang dipikirnya. Pertemuan kami bertiga memberiku
insight baru, cara bermain kartu. Permainan ini menggunakan kartu UNO. Mungkin kalian
lebih tahu dan jago dariku, tapi aku belajar dengan cepat dan semangat. Mungkin
karena diajari langsung oleh Annelis yang sabar. Dia menjelaskan mekanisme
permainan, kutatap wajahnya seksama, dia tak sadar. Dari situ kudapatkan modus
yang lebih canggih, bermain UNO sebagai distraksi.
Hari-hari berikutnya hubunganku dengan Annelis makin
cair. Di tempat kerja kerap kali aku bercengkrama denganya saat istirahat makan
siang. Penat yang bersandar di bahu dari pagi hingga siang seolah sirna dengan
tatapan mata nanar Annelis dan senyumanya yang nggak nguatin, tentu dengan
bibir mungilnya yang berhias gincu merah. Sejak saat itu, hampir setiap sore
aku dan Annelis ngopi bareng di kafe langganan sambil menatap matahari. Tiada bosan
kiranya. Annelis adalah perempuan sederhana. Jauh dari kesan glamor yang kerap
disematkan pada wanita cantik di luaran sana. Dia tidak banyak menuntut, tapi
banyak cerita, aku banyak mendengarkan. Awalnya biasa saja. Tapi lama kelamaan
ada yang berbeda diantara kita.
Ik voel dat wij
kosmisch verbonden zijn
I feel that we are cosmically connected
Dutch proverb
...BERSAMBUNG...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar