Jumat, 13 Januari 2017

ANNELIS CHLOE, GADIS BERKULIT GELAP DAN RAMBUT KERITING PART II

Notitiam primosque gradus vicinia fecit;
tempore crevit amor
Proximiti caused their first acquaintance, and their first advances in love, with time their affection increased





Siapa namamu?”, tanyaku

Annelis, Annelis Chloe”, jawabnya

hobimu apa?”

nongkrong, hangout sama temen-temen, pokoknya nge-hedon lah”, sambungnya sambil terkekeh..

Itulah sebaris percakapanku saat berakrab pertama kali dengan Annelis, di kursi depan kantor kami. Karena setelahnya Annelis masih harus menjalani serangkaian test kelayakan dari mijnheer afdeling personeelzaken untuk proses penjualan produk sembari menawarkanya ke masyarakat umum. Sedangkan aku, aku  melanjutkan pekerjaanku meramu baris demi baris dan merangkumnya dalam sebait tulisan.

Petang menjelang, dan rombongan Annelis beserta kawan-kawanya telah kembali dari test penjualan produk. Selanjutnya kami semua berkemas pulang dan melanjutkan pekerjaan keesokan harinya. Beberapa dari kami memang pulang. Tapi sebagian tetap melanjut bercengkrama dengan komputer masing-masing. Maklum, deadline bukan hal yang bisa ditinggalkan begitu saja. Hukumnya, “anda malam ini tidur, kerjaan anda tidak selesai”, makanya jangan tidur. Work hard, play hard. Het gelijke word door het gelijke genezen.

Esok harinya seperti biasa kami datang ke tempat kerja. Masuk ke ruangan masing-masing. Aku dan tim masuk ke ruang isolasi. Sedangkan tim yang lain berada di ruangan yang lebih luas. Kalau boleh, kawan, kusebut mereka sebagai tim penabur kebahagiaan. Karena memang motto kami adalah menyebarkan kebahagiaan. Itulah tim dan ruangan dimana Annelis berada. Ditengah para penabur kebahagiaan yang jumlahnya tak kurang 20 orang. Di ruangan ber AC yang sejuk. Namun tak sesejuk target yang dibebankan, mengingat standar kerja kami yang agak romusha. Sudah lama kulihat wajah Annelis. Sendu. Dengan mata yang penuh misteri, dan tentu saja gelang kaki. Mulailah kudekati Annelis di ruang ber AC itu. Motifnya adalah, numpang “ngadem”. That’s all, but it’s effective.

Beberapa waktu sebelum Annelis join dalam niche kami, ada seorang perempuan. Perempuan berhijab dengan wajah yang sangat eksotis menurutku. Sama eksotisnya dengan daerah dimana dia berasal. Bau khas Nicotiana tabacum yang dirajang dan dijemur diatas jalinan bilah bambu di pinggir jalan menjadikan duo Hartono sebagai taipan superkaya di negeri ini. Ya, koh Budi dan koh Michael itu yang kumaksud, kawan. Yang setiap tahunya memberikan beasiswa pada ribuan pelajar di negeri kita. Meskipun banyak menuai pro-kontra, toh parapelantang dan aktivis anti-tembakau itupun menikmati gelontoran dana duo Hartono. Keras suara mereka menolak litingan tembakau beredar di masyakarat. Namun uang pendidikan mereka terima juga. Mereka pikir uang itu berasal dari jualan cilok atau nasi kucing apa. Ah tapi sudahlah double standar tak jadi soal, toh semua pihak sama-sama senang. Toh korporasi itu juga makin banyak duitnya. Toh tembakau cap Hartono juga tetap melanglang buana di saku para mahasiswa. Toh asapnya tetap memberikan relaksasi dan keluwesan berdialektika. Toh aku juga bisa bertemu dengan gadis berkerudung dengan gincu merah muda. Yap, rumahnya di lereng gunung Sumbing.

hallo, gutten tag”, sapanya

hallo, gutten tag”, balasku

sprechen Sie Deutsch?”

Ja, einen bischen, einige worte, und du? es ist sehr angenheim

hahaha..”, dibalasnya dengan ketawa renyah.

Ok lah, aku cukup paham kalau gadis ini mencoba mengetes saja sampai mana kemampuanku menguasai bahasa ibunya paman Fuhrer. Menarik juga orangnya. Tapi belakangan kutahu dia sudah punya pacar. Tak masalah. Toh dia tetap kuanggap sebagai guru yang akupun banyak belajar darinya bagaimana Deutsch zu sprechen.

Tidak banyak aku bicara denganya karena dua hari kemudian dia bawa pacarnya join di niche kami. Pacarnya ini kulihat pertama kali garang nampaknya. Tapi kok ya gokil juga setelah kukenal. Rama namanya. Si gadis berkerudung itu kenal dengan Rama melalui situs jejaring sosial. Batinku, masih untung kamu ndak jadi korban apa-apa gitu, verdomde kan kalau terus diculik. Untuk selanjutnya aku tak banyak bicara dengan gadis pink tersebut, pink kerudungnya, pink pula gincunya. Cukuplah dia sebagai onderwijzeres yang mengajariku beberapa kata dalam Mein kampf.

Kembali kepada Annelis yang sudah mulai aktif kerja. Kulihat dia mojok di meja dekat AC. Bersebelahan dengan Rama. Kusapa Rama, basa basi busuk lah. Menanyakan kabar seputar lereng gunung Sumbing yang permai itu. Menarik rasanya kalau sekali-sekali main ke rumah Rama yang hawanya sejuk dikelilingi sawah menghijau. Tapi tentu saja itu hanya modus. Annelislah yang sebenarnya kudekati. Kusapa dia. “Hai Annelis”. “Halo juga”. Kawan, taukah kau bagaimana susahnya mencari topik pembicaraan dengan perempuan. Beberapa dari mereka hanya menjawab sepatah dua patah kata, dan itu skak mat bagi kami kaum adam yang hanya ingin berkenalan dengan mereka. Rasa penasaran membawaku pada pertanyaan bagaimana Annelis mendapatkan namanya yang unik. Nama yang belum pernah kudengar sebelumnya. Nama yang menurutku fusion antara timur dan barat. Annelis menjawab, “Oh teman mama ada yang dari negerinya Charles de Gaule, jadi namaku ya jadi kayak gini”. “Oh, ok lah”, jawabku.

Sejenak pengejaan nama Annelis mirip dengan bunga Amarilis. Bunga Amaryllis belladona, L adalah bunga yang merupakan anggota dari keluarga Amaryllidaceae. Tanaman ini dapat tumbuh di segala musim. Memiliki bunga yang mekar jatuh dengan tangkai sari atau polen yang menjorok keluar. Kelopak bunganya berwarna-warni, mulai dari merah cerah, orangye, putih, ungu, pink, dan sebagainya. Sangat cantik jika dilihat dalam hamparan taman. Kalau kau tahu kawan, beberapa waktu yang lalu di salah satu perfektur perbukitan di sebelah timur kota Jogja, ada sepetak taman Amarilis yang diinjak-injak pengunjung hanya karena ingin berfoto dengan bunga nan cantik tersebut. Sayang seribu sayang. Hanya karena nafsu nge-hits, rusak taman dan akal manusia dibuatnya. Tapi aku tidak akan banyak bicara soal tanaman Amaryllis ini karena ini pelajaran bologi dan aku juga nggak ngefans amat sama om Linnaeus.

Karena nama Annelis yang unik, kusamakan dengan penyebutan Amarillys si pemilik kelopak bunga cantik tersebut. Sama cantiknya dengan paras Annelis yang kuketahui dia barusan menyandang status jomblo. Sama merekahnya juga dengan gincu merah Annelis yang menempel di bibir mungilnya. Pendekatan yang intens nampaknya mengusik ketenangan Annelis. Lambat laun tak digubrisnya sapaanku. Baiklah, lu jual mahal, gue gak mau beli. Tak kuhiraukan balik sapaanya tatkala aku bercengkrama dengan Rama yang duduk tepat di samping Annelis. Cukup peka dia nampaknya tak kuajak bicara, menyapapun tak kualamatkan padanya. Mulailah dia yang aktif menyapa balik menyapa, sedikit mengurai rasa bersalah karena mungkin sudah tak acuh padaku. Sejak saat itu kami menjadi cair. Suatu saat berkatalah dia padaku dalam bisik. “Kamu sudah kuanggap sebagai kakak-ku sendiri”. Kalimat klise perempuan yang menolak halus untuk didekati. Dan akupun juga tidak ingin menambah daftar panjang adik-adiku yang sudah banyak dengan memasukan nama Annelis di dalamnya. Tak kalah akal akupun membalasnya. “Wahai Annelis cantik, kau sudah kuanggap sebagai cucuku sendiri, tapi tolong jangan minta sangu !”.

Sempat kuajak beberapa kali Annelis untuk menikmati senja bersama sambil ngopi di salah satu kafe langgananku. Bangunanya yang bertingkat membuat semua pengunjung di lantai dua bisa melihat senja dengan sempurna tanpa jeda. Spot yang siapa saja merasa diistimewakan dengan sederet lantunan puisi bertema senja. Tapi sayangnya Annelis menolak dengan halus karena takut. Oh come on, takut?, denganku?.

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
 
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Karya : Chairil Anwar (1946)

Sebait puisi karya pujangga Chairil Anwar diatas berjudul "Senja di Pelabuhan Kecil". Tak kutahu dimana letak pelabuhanya. Tapi jelaslah itu metafor dari pelabuhan hati sang pujangga sendiri. Mungkin sedikit berbeda dengan kisahku dan Annelis. Puisi “Senja di Kafe Mungil”. Itu kiranya judul yang cocok kusematkan untuk sore itu. Kawan, berhubung Annelis sulit diajak ngopi bareng. Kutanya padanya kenapa!. “Aku takut”, jawabnya, yang di kemudian hari kuketahui dia mencari tahu tentangku dari rekan-rekan yang lain. Aku yang dikiranya garang, tak berperasaan, dan berdarah dingin. Semua hal yang bathil seolah menempel pada diriku sebagai pribadi buruk adanya. Memang mukaku tak rupawan amat. Tapi itu tak ada hubunganya dengan sifatku yang buruk. Bahkan dalam sebuah kitab suci diceritakan ada orang bernama Luqman yang buruk rupa tapi berakhlak surga. Dan kurasa akupun sedikit lebih beruntung dari Luqman ini. Puji syukur ya Tuhan.

Singkat cerita, setelah melalui beberapa minggu dan beberapa ajakan, Annelis sudi kiranya membagi waktu dan cerita bersamaku untuk satu sore yang hangat. Sehangat secangkir kopi diatas meja kayu yang menghadap ufuk barat. Menunggu tenggelamnya senja dalam balutan awan jingga bak selendang bidadari. Saat berkas sinar oranye mentari menghantam meja kami, mengenai wajah Annelis, kusadar yang duduk di depanku inilah seorang bidadari.

Why me?”, tanyanya..

Why not?”, jawabku..

“Apa yang menarik dariku?”, tanyanya lagi..

Kujawab ada sesuatu yang membuatku tak bisa menahan rasa ingin tahu. Hal pribadi yang hanya Annelis dan Tuhan yang tahu. Dia hanya bercerita pada Tuhan. Dan Tuhan membaginya padaku hingga bisa duduk berhadapan denganya. Kuceritakan beberapa hal yang membuat dia terkejut. Bagaimana tidak, kotak pandora yang tersegel rapat dalam hatinya dan dijaga Leviathan, kubuka dengan kunci rahasia. Kawan, sudah kubilang, Leviathan berhasil kusuap. Capit kepitingnya yang besar itu tak kuasa mencabikku karena kutawarkan kepiting betina yang kecantikannya sudah masyhur di seantero samudra Hindia. Bahkan Poseidon pun mengakuinya dan tak habis pikir dibuatnya. Sambil memanggul trisula-nya, Poseidon tepok jidat sembari berujar, “duh dek, kamu kok bego banget sih!”. Begitu katanya pada Leviathan.

Ohya kawan, beberapa hari sebelum Annelis bersedia ngopi bersamaku, dia ingin pertemuan pertamanya denganku dilakukan dengan mediator. Seorang kawan dekat Annelis, laki-laki tambun dengan wajah lucunya menjadi mediator kongkow aku dan Annelis, sebut saja namanya P. Laki-laki ini adalah kawan Annelis semasa kuliah. Namun karena rasa bosan kuliah yang gitu-gitu saja, P memilih jalan pedang mencari pengalaman dengan bekerja. Maklum, karena Annelis masih takut denganku yang garang dipikirnya. Pertemuan kami bertiga memberiku insight baru, cara bermain kartu. Permainan ini menggunakan kartu UNO. Mungkin kalian lebih tahu dan jago dariku, tapi aku belajar dengan cepat dan semangat. Mungkin karena diajari langsung oleh Annelis yang sabar. Dia menjelaskan mekanisme permainan, kutatap wajahnya seksama, dia tak sadar. Dari situ kudapatkan modus yang lebih canggih, bermain UNO sebagai distraksi.

Hari-hari berikutnya hubunganku dengan Annelis makin cair. Di tempat kerja kerap kali aku bercengkrama denganya saat istirahat makan siang. Penat yang bersandar di bahu dari pagi hingga siang seolah sirna dengan tatapan mata nanar Annelis dan senyumanya yang nggak nguatin, tentu dengan bibir mungilnya yang berhias gincu merah. Sejak saat itu, hampir setiap sore aku dan Annelis ngopi bareng di kafe langganan sambil menatap matahari. Tiada bosan kiranya. Annelis adalah perempuan sederhana. Jauh dari kesan glamor yang kerap disematkan pada wanita cantik di luaran sana. Dia tidak banyak menuntut, tapi banyak cerita, aku banyak mendengarkan. Awalnya biasa saja. Tapi lama kelamaan ada yang berbeda diantara kita.
 

Ik voel dat wij kosmisch verbonden zijn
I feel that we are cosmically connected
Dutch proverb


...BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar