Sebenarnya bagaimana awal mula disepakatinya
tatakrama diatas meja makan?. Mungkin saya akan mempersempit ruang bahasan
dimana table manner digunakan. Kita akan
membicarakan wilayah Asia saja dimana negara kita berada dalam ruang lingkupnya,
karena pada dasarnya setiap budaya di dunia ini memiliki aturan table mannernya
masing-masing. Jika kita bicara wilayah nusantara saja, ada banyak cara orang
menyantap makanan, dan saat acara resmi kita bisa melihat perbedaan sebenarnya
bagaimana table manner dalam beberapa budaya terjadi. Lantas pertanyaanya
adalah, apakah ada table manner standar yang digunakan sebagai acuan?. Kalaupun
ada, apakah kita harus tunduk pada aturan itu atau tetap mempertahankan table
manner lokal yang sudah dipakai saat ini, tentu saja tergantung dari budaya dan
adat mana kita berasal.
Kalau boleh saya membagi secara subjektif, tiga
budaya yang melahirkan acuan table manner Asia dibedakan berdasarkan jenis
makanan, kebiasaan, dan juga alat makan yang digunakan. Dari klasifikasi
pembagian tersebut negara kita termasuk dalam wilayah Asia tapi bukan asia
daratan. Di benua Asia sendiri aturan table manner didominasi oleh setidaknya
tiga kultur besar, Asia timur atau oriental, timur tengah yang kebanyakan
negara berbahasa arab, dan juga Asia tenggara yang tidak termasuk dari
keduanya. Jika kita melihat table manner negara timur tengah, coraknya berhubungan
dengan jenis makanan yang cenderung berbentuk satuan, besar, atau disajikan
dalam piring besar. Sedangkan dalam budaya Asia timur yang oriental, table
manner berkelindan dengan jenis makanan yang cenderung terukur dengan porsi
kecil-kecil tapi dalam jumlah banyak. Lain halnya dengan table manner yang
berlaku di Asia tenggara. Beberapa negara Asia tenggara termasuk Indonesia
menyajikan makanan dengan porsi yang sudah ditentukan dan umumnya berupa nasi
dan juga lauk pauk, rijsttafel. Bedanya
dengan sajian di Asia timur, masyarakat oriental menyajikan nasi dan lauk dalam
porsi tertentu untuk setiap orang, sedangkan di asia tenggara, nasi sudah
terporsi dan lauk bisa diambil sesuai selera.
Kalau kita melihat lebih jauh, budaya timur tengah
memiliki table manernya dalam bentuk yang boleh dibilang kekeluargaan. Tata cara
makan mereka adalah dengan menggunakan tangan. Penggunaan sendok, garpu, dan
pisau sangat minimal. Hal ini karena menyesuaikan jenis makananya yang lebih
mudah dikonsumsi dengan tangan. Beberapa acara jamuan makan besar dalam budaya
arab terlihat menggunakan nampan besar yang berisi nasi dalam jumlah banyak. Bersamaan
dengan nasi tersebut terdapat beberapa potong daging dengan bentuk besar dan
juga acar khas timur tengah. Cara makannya adalah, orang duduk di lantai
melingkari nampan besar tersebut dan langsung mengambil nasi dan menyuapkanya
ke mulut. Tidak lupa mereka mencuil potongan daging besar tersebut. Tanpa garpu,
pisau, dan sendok. Pembagian porsi makanya bebas, orang bisa mengambil sesuka
hati dan sekenyangnya.
Bagaimana dengan orang Indonesia sendiri saat
makan, table manner mana yang dijadikan acuan. Begini, orang Indonesia
cenderung makan dengan tangan. Awalnya mereka tidak familiar dengan penggunaan
sendok dan garpu. Tapi perkembangan zaman menuntut orang untuk “beradab” menggunakan
table manner yang terkesan dibuat-buat. Kenapa saya katakan dibuat-buat. Seperti
yang saya bilang tadi, orang Indonesia lebih familiar makan dengan tangan,
sudah itu saja. Penggunaan sendok dan garpu adalah improvisasi table manner yang biasanya digunakan saat makan di
restoran dan acara jamuan makan resmi. Kesannya supaya lebih sopan dan tidak
terkesan kampungan, norak. Benarkah?. Tidak juga, karena pada dasarnya
orang-orang yang makan dengan sendok dan garpu itu sebenarnya juga tidak
masalah jika makan dengan tangan. Dan mereka yang makan dengan tangan juga
tetap dianggap sopan dalam koridor table manner yang berbeda. Saya sebut ini
sebagai fenomena kepalsuan dalam ihwal per-table manner-an.
Berkaitan dengan table manner ini, saya ingin
membagi cerita. Ketika kecil saya juga sudah mulai diperkenalkan table manner
oleh orang tua. Pada dasarnya saya bisa makan dengan tangan dan sendok, hanya sendok,
belum kombinasi antara sendok-garpu, karena saya (dan kita semua) diajarkan
makan harus dengan tangan kanan, dan garpu digunakan di tangan kiri. Orang tua
saya memperkenalkan table manner makan menggunakan sendok dan garpu dengan
istilah “makan secara sopan santun”. Waktu
itu saya belum bisa kritis bertanya. Kalau dipikir sekarang saya ingin
bertanya, “penting ya makan dengan
sendok-garpu?”. Saya bisa makan kenyang tanpa kedua alat itu. Lantas kenapa
harus repot-repot dengan kedua alat merepotkan tersebut. Beberapa hari
kemudian, orang tua saya mengajak ke jamuan makan siang resmi di suatu tempat,
saya tidak ingat dimana, tapi cara makannya menggunakan sendok dan garpu. Sial
pikir saya, ini hal yang saya tidak bisa. Selama makan orang tua saya kerap
melihat saya dengan tatapan mengintimidasi. Mungkin karena perkara sendok-garpu
yang tak fasih saya gunakan. Mereka kerap mengarahkan saya dalam bisikan
begini-begitu soal cara memegang garpu. Secara garpu digunakan di tangan kiri,
dan tangan kiri saya tidak terlatih untuk bekerja. Alhasil tangan kiri saya
lebih banyak diam dan tangan kanan menyuap makanan masuk ke mulut. Garpu yang
seharusnya digunakan untuk mendorong butiran nasi dan lauk ke dalam sendok fix
tidak berfungsi. Akhirnya baru saya ketahui bahwa pengenalan table manner makan
dengan sendok-garpu tersebut digunakan untuk acara jamuan resmi.
Table manner lain yang saya dapatkan adalah
training makan dengan sumpit. Waktu itu kami kedatangan tamu orang jepang,
sepasang kakek dan nenek. Jamuan makan diadakan lagi. Kali ini di rumah makan bernuansa
oriental. Alat makan yang digunakan tidak hanya sendok-garpu, tapi juga sumpit.
Saya tidak habis pikir bagaimana kakek nenek yang bicara dengan bahasa aneh
tersebut makan dengan alat yang tak kalah aneh, dua bilah kayu silinder yang
runcing pada salah satu ujungnya, panjangnya mungkin seukuran dengan pensil. Mereka
makan dengan cepat dan sangat piawai mengapit makanan yang terhidang. Yang lebih
aneh lagi, orang tua saya juga bisa menggunakan sepasang bilah coklat tersebut.
Tidak pernah sebelumnya saya tahu mereka bisa mengoperasikan benda tak jelas
itu. Sepulang dari jamuan makan, saya bertanya soal bilah coklat runcing
tersebut. Dijawablah namanya sumpit. Baru saya tahu itu alat makan jenis baru.
Kawan, saya bersyukur karena sejak kecil sudah
diperkenalkan dengan jenis makanan aneh. Salah satunya adalah jenis mie yang
dimasak menggunakan jus tomat. Yang di kemudian hari saya tahu Spaghetti
namanya. Sekali lagi aneh. Karena makanan yang saya kenal (dan saya tahu bisa
dimakan) adalah nasi, mie instant, tempe-tahu, ikan, dan telur. Nah Spaghetti
ini kelihatan berasal dari keluarga yang sama dengan mie, tapi lebih kaku. Ketika
orang tua saya masak Spaghetti, mereka makan dengan garpu, tanpa sendok. Saya kepikiran
untuk mencoba sumpit. Itu kali pertama saya benar-benar memegang sumpit tanpa
tahu apa yang harus dilakukan. Sumpit yang sepasang itu saya pegang satu di
tangan kanan dan satu di tangan kiri. Sekali lagi tatapan intimidasi tak enak
membayangi. Itulah awal mula saya training keras menggunakan sumpit. Saya baru ngeh kalau sumpit, dua buah, digunakan
pada satu tangan, diapit dengan dua-tiga jari. Saya ingat, setiap hari saya
belajar makan dengan sumpit. Apapun jenis makananya saya menggunakan sumpit. Termasuk
ketika saya makan nasi dengan sayur bayam dan ikan goreng. Butuh perjuangan
mengambil butiran nasi yang berenang dalam kuah sayur bayam. Belakangan baru
saya tahu tidak semua makanan bisa dimakan menggunakan sumpit. Alamaaaakkk.
Sebenarnya orang Indonesia tidak punya acuan baku
bagaimana cara makan yang dianggap paling benar. Table manner ala Eropa, kalau
boleh saya definisikan secara subjektif sempit adalah standar etika makan yang
dianggap paling sopan selama ini, diluar itu akan dianggap tak beradab. Tapi tidak
juga. Setelah dipikir, kita sering menggunakan table manner dengan sendok,
garpu, dan bahkan pisau tersebut hanya untuk gaya-gayaan. Saya tidak bilang
bahwa table manner semacam itu salah, tidak baik. Tidak. Dalam budaya kita,
table manner dengan sendok, garpu, dan pisau tersebut adalah serapan dari
budaya barat yang sudah kadung jamak dituturlakukan masyarakat. Beberapa orang
mungkin merasa wah atau beradab jika makan dengan garpu dan pisau seperti saat
makan steak. Lagi-lagi, ini soal jenis makanan dan alat yang digunakan untuk
makan sebagai cerminan strata sosial. Pertanyaan saya, apakah salah kalau kita
makan steak dengan tangan atau sendok?, saya rasa tidak. Hanya memang tidak
lazim. Namun hal ini bukan berarti makan steak dengan pisau dan garpu akan
membuat kita menjadi lebih bermartabat dari pada makan pecel lele dengan tangan
sambil lesehan. Namun tetap saja, dengan mengetahui table manner ala barat kita
akan menjadi tahu bahwa ada perbedaan kebudayaan yang salah satunya tercermin
dari etika sopan santun di meja makan.
Sekali lagi perkara table manner ini adalah soal
kesepakatan. Kita sepakat bahwa makan steak akan lebih ergonomis dengan pisau
dan garpu, dimana daging steak harus dipotong sebelum disuap, dan bukan
dicuil-cuil. Atau makan pecel lele yang menggunakan tangan, mencuci tangan
dengan air kobokan, dan duduk lesehan. Semuanya sama saja. Kalau boleh saya
katakan, table manner ini sebenarnya bersifat spesifik lokasi. Bisa saja
sebenarnya kita makan pecel lele dengan sendok-garpu, tapi karena banyak orang
yang melakukan dengan tangan, lantas cara makan dengan tangan tersebut adalah table manner yang disepakati sebagai
kebenaran saat makan pecel lele. Berkaitan dengan fenomena kemunafikan atau dengan
bahasa halus saya sebut sebagai kepalsuan ber-table manner, adalah cara makan
dengan tools yang sebenarnya sangat “bukan kita”. Seperti yang saya bilang
tadi, orang Indonesia pada dasarnya makan menggunakan tangan, dan bukan
sendok-garpu apalagi pisau. Ini lebih kepada degradasi jati diri kita sebagai
bangsa yang makan dengan tangan. Kalau anda melihat budaya Eropa (dimana table
manner internasional berasal), cara makan dengan sendok, garpu, dan pisau
tersebut adalah jati diri mereka. Kalau mereka makan menggunakan tangan, di
lingkungan endemiknya, tentu akan dianggap tidak beradab, mendegradasi jati
diri mereka sebagai bangsa Eropa. Bedanya kita tidak berani terang-terangan
berkomentar bahwa makan dengan sendok-garpu dan pisau adalah perilaku degradasi
jati diri dan budaya, apalagi menganggapnya sebagai perilaku tak beradab. Itu karena
nilai gengsinya lebih tinggi dibandingkan perkara mempertahankan jati diri
semata. Apalagi kalau bukan soal kepalsuan di meja makan.
Ada beberapa hal yang selama ini dianggap sebagai
kebenaran mutlak ber-table manner baik dengan cara Eropa atau Indonesia. Pertama,
makan dengan tangan kanan. Ini hampir menjadi kebenaran mutlak, terlebih bagi
mereka yang bertangan kidal, aturan makan dengan tangan kanan tetap
diberlakukan atas mereka. Kedua, makan dengan mulut tertutup, mengunyah makanan
dengan tidak mencecap atau berbunyi. Satu
lagi yang penting soal sopan santun di meja makan adalah posisi duduk. Ini adalah
hal yang banyak orang bersepakat bahwa posisi duduk disesuaikan dengan kondisi
budaya dimana table manner tersebut berlaku. Bisa duduk di kursi, bisa lesehan.
Kita patut bersyukur terlahir sebagai bangsa
Indonesia yang memiliki akar budaya table manner kuat dan juga fleksible. Kuat karena
dalam lingkup terkecil keluarga, table manner masih dipertahankan seperti apa
adanya. Makan dengan tangan. Di sisi lain, budaya barat yang masuk dan banyak diadopsi
memberi khazanah baru soal table manner internasional yang makan dengan
sendok-garpu dan juga pisau. Belum lagi soal sumpit-menyumpit ala Asia timur
yang sempat saya singgung tadi. Dengan banyaknya table manner yang dipelajari
kita menjadi lebih fleksible dalam kondisi apapun, berbagai aturan table manner
tetap fasih kita gunakan. Jika memang kita bisa makan dengan table manner ala
Eropa, tak perlulah lantas memalsukan identitas kita yang sejatinya bisa makan
dengan table manner lokal, makan dengan tangan.
Ilustrasi : http://www.frenchtoday.com/blog/how-to-place-your-hands-and-silverware-at-the-french-table

Tidak ada komentar:
Posting Komentar