Selasa, 24 Januari 2017

TABLE MANNER, MAKSUD BAIK DALAM KEPALSUAN KOLEKTIF





Sebenarnya bagaimana awal mula disepakatinya tatakrama diatas meja makan?. Mungkin saya akan mempersempit ruang bahasan dimana table manner digunakan. Kita akan membicarakan wilayah Asia saja dimana negara kita berada dalam ruang lingkupnya, karena pada dasarnya setiap budaya di dunia ini memiliki aturan table mannernya masing-masing. Jika kita bicara wilayah nusantara saja, ada banyak cara orang menyantap makanan, dan saat acara resmi kita bisa melihat perbedaan sebenarnya bagaimana table manner dalam beberapa budaya terjadi. Lantas pertanyaanya adalah, apakah ada table manner standar yang digunakan sebagai acuan?. Kalaupun ada, apakah kita harus tunduk pada aturan itu atau tetap mempertahankan table manner lokal yang sudah dipakai saat ini, tentu saja tergantung dari budaya dan adat mana kita berasal.

Kalau boleh saya membagi secara subjektif, tiga budaya yang melahirkan acuan table manner Asia dibedakan berdasarkan jenis makanan, kebiasaan, dan juga alat makan yang digunakan. Dari klasifikasi pembagian tersebut negara kita termasuk dalam wilayah Asia tapi bukan asia daratan. Di benua Asia sendiri aturan table manner didominasi oleh setidaknya tiga kultur besar, Asia timur atau oriental, timur tengah yang kebanyakan negara berbahasa arab, dan juga Asia tenggara yang tidak termasuk dari keduanya. Jika kita melihat table manner negara timur tengah, coraknya berhubungan dengan jenis makanan yang cenderung berbentuk satuan, besar, atau disajikan dalam piring besar. Sedangkan dalam budaya Asia timur yang oriental, table manner berkelindan dengan jenis makanan yang cenderung terukur dengan porsi kecil-kecil tapi dalam jumlah banyak. Lain halnya dengan table manner yang berlaku di Asia tenggara. Beberapa negara Asia tenggara termasuk Indonesia menyajikan makanan dengan porsi yang sudah ditentukan dan umumnya berupa nasi dan juga lauk pauk, rijsttafel. Bedanya dengan sajian di Asia timur, masyarakat oriental menyajikan nasi dan lauk dalam porsi tertentu untuk setiap orang, sedangkan di asia tenggara, nasi sudah terporsi dan lauk bisa diambil sesuai selera.

Kalau kita melihat lebih jauh, budaya timur tengah memiliki table manernya dalam bentuk yang boleh dibilang kekeluargaan. Tata cara makan mereka adalah dengan menggunakan tangan. Penggunaan sendok, garpu, dan pisau sangat minimal. Hal ini karena menyesuaikan jenis makananya yang lebih mudah dikonsumsi dengan tangan. Beberapa acara jamuan makan besar dalam budaya arab terlihat menggunakan nampan besar yang berisi nasi dalam jumlah banyak. Bersamaan dengan nasi tersebut terdapat beberapa potong daging dengan bentuk besar dan juga acar khas timur tengah. Cara makannya adalah, orang duduk di lantai melingkari nampan besar tersebut dan langsung mengambil nasi dan menyuapkanya ke mulut. Tidak lupa mereka mencuil potongan daging besar tersebut. Tanpa garpu, pisau, dan sendok. Pembagian porsi makanya bebas, orang bisa mengambil sesuka hati dan sekenyangnya.

Bagaimana dengan orang Indonesia sendiri saat makan, table manner mana yang dijadikan acuan. Begini, orang Indonesia cenderung makan dengan tangan. Awalnya mereka tidak familiar dengan penggunaan sendok dan garpu. Tapi perkembangan zaman menuntut orang untuk “beradab” menggunakan table manner yang terkesan dibuat-buat. Kenapa saya katakan dibuat-buat. Seperti yang saya bilang tadi, orang Indonesia lebih familiar makan dengan tangan, sudah itu saja. Penggunaan sendok dan garpu adalah improvisasi table manner yang biasanya digunakan saat makan di restoran dan acara jamuan makan resmi. Kesannya supaya lebih sopan dan tidak terkesan kampungan, norak. Benarkah?. Tidak juga, karena pada dasarnya orang-orang yang makan dengan sendok dan garpu itu sebenarnya juga tidak masalah jika makan dengan tangan. Dan mereka yang makan dengan tangan juga tetap dianggap sopan dalam koridor table manner yang berbeda. Saya sebut ini sebagai fenomena kepalsuan dalam ihwal per-table manner-an.

Berkaitan dengan table manner ini, saya ingin membagi cerita. Ketika kecil saya juga sudah mulai diperkenalkan table manner oleh orang tua. Pada dasarnya saya bisa makan dengan tangan dan sendok, hanya sendok, belum kombinasi antara sendok-garpu, karena saya (dan kita semua) diajarkan makan harus dengan tangan kanan, dan garpu digunakan di tangan kiri. Orang tua saya memperkenalkan table manner makan menggunakan sendok dan garpu dengan istilah “makan secara sopan santun”. Waktu itu saya belum bisa kritis bertanya. Kalau dipikir sekarang saya ingin bertanya, “penting ya makan dengan sendok-garpu?”. Saya bisa makan kenyang tanpa kedua alat itu. Lantas kenapa harus repot-repot dengan kedua alat merepotkan tersebut. Beberapa hari kemudian, orang tua saya mengajak ke jamuan makan siang resmi di suatu tempat, saya tidak ingat dimana, tapi cara makannya menggunakan sendok dan garpu. Sial pikir saya, ini hal yang saya tidak bisa. Selama makan orang tua saya kerap melihat saya dengan tatapan mengintimidasi. Mungkin karena perkara sendok-garpu yang tak fasih saya gunakan. Mereka kerap mengarahkan saya dalam bisikan begini-begitu soal cara memegang garpu. Secara garpu digunakan di tangan kiri, dan tangan kiri saya tidak terlatih untuk bekerja. Alhasil tangan kiri saya lebih banyak diam dan tangan kanan menyuap makanan masuk ke mulut. Garpu yang seharusnya digunakan untuk mendorong butiran nasi dan lauk ke dalam sendok fix tidak berfungsi. Akhirnya baru saya ketahui bahwa pengenalan table manner makan dengan sendok-garpu tersebut digunakan untuk acara jamuan resmi.

Table manner lain yang saya dapatkan adalah training makan dengan sumpit. Waktu itu kami kedatangan tamu orang jepang, sepasang kakek dan nenek. Jamuan makan diadakan lagi. Kali ini di rumah makan bernuansa oriental. Alat makan yang digunakan tidak hanya sendok-garpu, tapi juga sumpit. Saya tidak habis pikir bagaimana kakek nenek yang bicara dengan bahasa aneh tersebut makan dengan alat yang tak kalah aneh, dua bilah kayu silinder yang runcing pada salah satu ujungnya, panjangnya mungkin seukuran dengan pensil. Mereka makan dengan cepat dan sangat piawai mengapit makanan yang terhidang. Yang lebih aneh lagi, orang tua saya juga bisa menggunakan sepasang bilah coklat tersebut. Tidak pernah sebelumnya saya tahu mereka bisa mengoperasikan benda tak jelas itu. Sepulang dari jamuan makan, saya bertanya soal bilah coklat runcing tersebut. Dijawablah namanya sumpit. Baru saya tahu itu alat makan jenis baru.

Kawan, saya bersyukur karena sejak kecil sudah diperkenalkan dengan jenis makanan aneh. Salah satunya adalah jenis mie yang dimasak menggunakan jus tomat. Yang di kemudian hari saya tahu Spaghetti namanya. Sekali lagi aneh. Karena makanan yang saya kenal (dan saya tahu bisa dimakan) adalah nasi, mie instant, tempe-tahu, ikan, dan telur. Nah Spaghetti ini kelihatan berasal dari keluarga yang sama dengan mie, tapi lebih kaku. Ketika orang tua saya masak Spaghetti, mereka makan dengan garpu, tanpa sendok. Saya kepikiran untuk mencoba sumpit. Itu kali pertama saya benar-benar memegang sumpit tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Sumpit yang sepasang itu saya pegang satu di tangan kanan dan satu di tangan kiri. Sekali lagi tatapan intimidasi tak enak membayangi. Itulah awal mula saya training keras menggunakan sumpit. Saya baru ngeh kalau sumpit, dua buah, digunakan pada satu tangan, diapit dengan dua-tiga jari. Saya ingat, setiap hari saya belajar makan dengan sumpit. Apapun jenis makananya saya menggunakan sumpit. Termasuk ketika saya makan nasi dengan sayur bayam dan ikan goreng. Butuh perjuangan mengambil butiran nasi yang berenang dalam kuah sayur bayam. Belakangan baru saya tahu tidak semua makanan bisa dimakan menggunakan sumpit. Alamaaaakkk.

Sebenarnya orang Indonesia tidak punya acuan baku bagaimana cara makan yang dianggap paling benar. Table manner ala Eropa, kalau boleh saya definisikan secara subjektif sempit adalah standar etika makan yang dianggap paling sopan selama ini, diluar itu akan dianggap tak beradab. Tapi tidak juga. Setelah dipikir, kita sering menggunakan table manner dengan sendok, garpu, dan bahkan pisau tersebut hanya untuk gaya-gayaan. Saya tidak bilang bahwa table manner semacam itu salah, tidak baik. Tidak. Dalam budaya kita, table manner dengan sendok, garpu, dan pisau tersebut adalah serapan dari budaya barat yang sudah kadung jamak dituturlakukan masyarakat. Beberapa orang mungkin merasa wah atau beradab jika makan dengan garpu dan pisau seperti saat makan steak. Lagi-lagi, ini soal jenis makanan dan alat yang digunakan untuk makan sebagai cerminan strata sosial. Pertanyaan saya, apakah salah kalau kita makan steak dengan tangan atau sendok?, saya rasa tidak. Hanya memang tidak lazim. Namun hal ini bukan berarti makan steak dengan pisau dan garpu akan membuat kita menjadi lebih bermartabat dari pada makan pecel lele dengan tangan sambil lesehan. Namun tetap saja, dengan mengetahui table manner ala barat kita akan menjadi tahu bahwa ada perbedaan kebudayaan yang salah satunya tercermin dari etika sopan santun di meja makan.

Sekali lagi perkara table manner ini adalah soal kesepakatan. Kita sepakat bahwa makan steak akan lebih ergonomis dengan pisau dan garpu, dimana daging steak harus dipotong sebelum disuap, dan bukan dicuil-cuil. Atau makan pecel lele yang menggunakan tangan, mencuci tangan dengan air kobokan, dan duduk lesehan. Semuanya sama saja. Kalau boleh saya katakan, table manner ini sebenarnya bersifat spesifik lokasi. Bisa saja sebenarnya kita makan pecel lele dengan sendok-garpu, tapi karena banyak orang yang melakukan dengan tangan, lantas cara makan dengan tangan tersebut adalah table manner yang disepakati sebagai kebenaran saat makan pecel lele. Berkaitan dengan fenomena kemunafikan atau dengan bahasa halus saya sebut sebagai kepalsuan ber-table manner, adalah cara makan dengan tools yang sebenarnya sangat “bukan kita”. Seperti yang saya bilang tadi, orang Indonesia pada dasarnya makan menggunakan tangan, dan bukan sendok-garpu apalagi pisau. Ini lebih kepada degradasi jati diri kita sebagai bangsa yang makan dengan tangan. Kalau anda melihat budaya Eropa (dimana table manner internasional berasal), cara makan dengan sendok, garpu, dan pisau tersebut adalah jati diri mereka. Kalau mereka makan menggunakan tangan, di lingkungan endemiknya, tentu akan dianggap tidak beradab, mendegradasi jati diri mereka sebagai bangsa Eropa. Bedanya kita tidak berani terang-terangan berkomentar bahwa makan dengan sendok-garpu dan pisau adalah perilaku degradasi jati diri dan budaya, apalagi menganggapnya sebagai perilaku tak beradab. Itu karena nilai gengsinya lebih tinggi dibandingkan perkara mempertahankan jati diri semata. Apalagi kalau bukan soal kepalsuan di meja makan.

Ada beberapa hal yang selama ini dianggap sebagai kebenaran mutlak ber-table manner baik dengan cara Eropa atau Indonesia. Pertama, makan dengan tangan kanan. Ini hampir menjadi kebenaran mutlak, terlebih bagi mereka yang bertangan kidal, aturan makan dengan tangan kanan tetap diberlakukan atas mereka. Kedua, makan dengan mulut tertutup, mengunyah makanan dengan tidak mencecap atau berbunyi. Satu lagi yang penting soal sopan santun di meja makan adalah posisi duduk. Ini adalah hal yang banyak orang bersepakat bahwa posisi duduk disesuaikan dengan kondisi budaya dimana table manner tersebut berlaku. Bisa duduk di kursi, bisa lesehan.

Kita patut bersyukur terlahir sebagai bangsa Indonesia yang memiliki akar budaya table manner kuat dan juga fleksible. Kuat karena dalam lingkup terkecil keluarga, table manner masih dipertahankan seperti apa adanya. Makan dengan tangan. Di sisi lain, budaya barat yang masuk dan banyak diadopsi memberi khazanah baru soal table manner internasional yang makan dengan sendok-garpu dan juga pisau. Belum lagi soal sumpit-menyumpit ala Asia timur yang sempat saya singgung tadi. Dengan banyaknya table manner yang dipelajari kita menjadi lebih fleksible dalam kondisi apapun, berbagai aturan table manner tetap fasih kita gunakan. Jika memang kita bisa makan dengan table manner ala Eropa, tak perlulah lantas memalsukan identitas kita yang sejatinya bisa makan dengan table manner lokal, makan dengan tangan.




Ilustrasi : http://www.frenchtoday.com/blog/how-to-place-your-hands-and-silverware-at-the-french-table

Tidak ada komentar:

Posting Komentar