amor animi arbitrio sumitur, non ponitur
we choose to love, we do not choose to cease loving
Singkatnya, ini adalah sebuah kisah tetang seorang gedis
kecil berambut keriting dengan kulit gelapnya nan lusuh. Dibawah guyuran sinar
matahari, dengan kaos singlet putih, gadis kecil kriting ini berlari mengejar
anjing. Tak dihiraukanya panas dan keringat menetes, yang penting tetap bisa tertawa
bahagia.
Pada medio 90an, Annelis hidup di salah satu kota besar. Seorang
gadis mungil yang mewarisi darah Sunda dan Jawa dari kedua orang tuanya. Tampilanya
sederhana, namun siapa sangka di masa depan dialah yang mampu meluluhlantakkan
kalbu seorang pria garang dengan tatapan mata yang ganas, buas, tak kenal ampun.
Tidak banyak yang tahu seluk beluk masa kecil gadis kulit
gelap ini. Annelis kecil bermain anjing dengan sepedanya. Di rumah neneknya,
dia bersama sang ibu memutuskan merantau ke salah satu kota di tengah pulau
jawa. Dari sinilah kehidupan Annelis kecil bermula hingga beranjak remaja.
Annelis remaja tinggal di salah satu distrik bagian selatan kota itu. Dikelilingi
sawah menghijau, menatap senja di sore hari dan berkawan dengan angin timur
yang hangat. Mengiringi kepergian sang mentari menuju bilik peraduanya. Beranjak
remaja, Annelis masuk ke salah satu sekolah tak jauh dari rumahnya. Dikayuhnya sepeda
berangkat-pulang, pagi hingga sore hari. Peluh keringat kembali menetes, kuyup
membasuh wajah legamnya yang penuh jerawat. Tidak banyak teman Annelis selama
masa sekolah. Setahuku dia hanya berteman dengan beberapa orang saja. Mungkin karena
memang Annelis yang pendiam dan orang juga berpikir dua kali untuk berteman
denganya.
Aku menuliskan kisah ini sebagai memoar fragmen hidup
Annelis Chloe. Kukenal dirinya setelah beranjak dewasa dengan paras menawan
yang Tuhan berikan tuk menyenangkan hamba-Nya yang taat dan rendah hati. Aku terpaku
pada tatapan matanya yang innocent, nyaris kosong, namun sedikit nakal di
lisan. Sedikit banyak bisa kubaca pada air mukanya tentang masa lalu hidupnya
yang penuh perjuangan. Tentu Annelis tidak banyak bercerita pada siapapun,
bahkan pada orang-orang terdekatnya, ring satu-nya. Tapi aku tahu. Aku paham
apa yang dirasakan. Dengan kalimat langsung kukatakan padanya “I know you so well Annelis”, dan dia
kaget, tersipu malu campur melting. Begitulah kira-kira.
Ibunda Annelis seorang Sunda tulen dengan kulit putihnya
dan pembawaan yang ramah, khas tatar Sunda. Murah senyum dan riang gembira
menyapa setiap teman Annelis yang tandang ke rumahnya. Baik laki maupun
perempuan, ibunya menyambut dengan tangan terbuka. Dengan niat baik atau tak
baik, senyum tetap tersungging mekar di wajah mama. Mama, demikian Annelis
memanggil ibunya. Sedangkan sang ayah, jawa totok dengan perawakan langsing dan
tatapan mata yang tajam. Bola mata yang besar menyiratkan kekejaman dan
ketegasan urat nadi seorang pria. Terlebih jika sudah menenteng parang, tak ada
laki-laki yang tak merunduk saat diajak beradu muka denganya. Tapi itu hanyalah
mitos. Seorang ayah tentu menyayangi anak-anaknya, begitu juga dengan ayah
Annelis. Parang dan tatapan mata yang tajam mungkin manifestasi kegarangan seorang
ayah yang terlihat menyeringai pada tiap laki-laki yang hendak nekat
mempermainkan hati anak gadisnya. Tapi sekali aku menjabat tanganya, senyuman
mengembang di bibirnya. Seketika runtuhlah hipotesisku tentang sosok yang
kukira menyeramkan ini. Hanya sepersekian detik, dengan parang di tangan kiri,
kukira pria paruh baya ini akan menyayatku. Namun tidak. Atau aku yang terlalu
percaya diri. Mungkin saja didalam hatinya pria ini berujar, “tidak malam ini
anak muda!!”. Matilah aku kalau benar sampai disayatnya. Belakangan kutahu
parang dalam genggamanya ditebaskan pada bilah rumpun bambu. Kerja bakti
kampung rupanya..
Berlanjut ke masa remaja Annelis yang beranjak dewasa. Selepas
sekolah Algemeene Metddelbare School,
Annelis melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi mengambil jurusan yang kupikir
sangat unik. Aku tidak tahu apa motif Annelis mengambil konsentrasi studi ini. Aku
menduga Annelis adalah fans berat dari Zhunge
Liang, atau mungkin saja dia pembaca setia Romance of Three Kingdom gubahan
Luo Guangzhong. Ah tidak, mungkin
perkiraanku salah. Jikalau memang peminat sastra oriental, dia pasti sudah
banyak mendiskusikan ihwal romantika legendaris Liang Shanbo dan Zhu Yingfai
atau kisah legendaris perjalanan 500 tahun yang ditulis Wu Cheng’en dalam sastra klasik Journey to the West. Tapi selama
kami berkawan, dia tidak banyak bicara soal itu. Atau mungkin Annelis hanya
menutupi kepiawaiannya saja. Memang ia adalah gadis yang rendah hati. Namun dibaliknya,
dia menguasai hampir fasih baca tulis aksara Hanzi.
Aku sampai lupa belum menceritakan kepadamu wahai
sahabat, bagaimana aku bertemu dan mengenalnya. Sedikit lucu memang. Tapi Annelis
menarik perhatianku pada pandangan pertama. Di suatu pagi yang dingin berkabut,
Annelis datang mengetuk pintu ruang kerja kami. Dia duduk sembari menunggu
seseorang. Tidak kutahu siapa gadis mungil dengan gelang kaki dan baju merah jambu
ini. Tapi kamerad-ku bilang dia akan menjalani tes wawancara dengan salah satu mijnheer afdeling personeelzaken kami. Tidak
perlu banyak waktu, aku melihat matanya selama beberapa detik. Dan kupastikan
gadis ini menyimpan sesuatu yang misterius. Tapi aku tak tahu itu apa.
Kawan, satu hal yang belum kulakukan padamu adalah
memperkenalkan diri. Hahaha, tidak sopan memang berpanjang lebar menjabarkan kisah
seorang gadis tanpa tahu siapa penulisnya. Aku.. hm, aku tak tahu harus
memperkenalkan diri sebagai apa. Yang jelas aku penulis di salah satu
perusahaan publising di pulau Jawa. Memang belum terlalu terkenal. Tapi lambat
laun orang akan mengenal kami dari apa yang sudah kami hasilkan. Sebagai penulis,
aku cukup sadar diri untuk menahan ego edifikasi. Sebenarnya akupun malu
menyebut diriku ini penulis. Tidak banyak tulisan yang kuhasilkan. Hanya coretan
sederhana tanpa makna, pun tidak ada orang yang bertanya itu apa. Namun pertemuanku
dengan Annelis ini memberiku hawa baru. Cukup sejuk untuk bahan goresan dalam
selembar kertas, sebuah kisah sarat makna tapi tak sehebat roman dialektika. Pun
aku tak paham bagaimana memaknai kisah ini karena memang kutuliskan dengan
mengalir apa adanya. Begitu juga dengan Annelis. Mungkin dia tak tahu kalau
sebagian mozaik hidupnya sedang kukisahkan dengan pena metafora.
Pagi itu, Annelis dan sederet kawan-kawanya duduk dalam
penantian singkat bertemu dengan mas-mas mijnheer
afdeling personeelzaken yang hendak
berbincang seputar pekerjaan dalam sesi vraaggesprek.
Kebetulan timku menempati ruang kerja yang berdekatan dengan ruang vraaggesprek. Dan seperti biasa setiap
pagi sebelum memulai kerja, aku selalu menabur bubuk arabika dalam kucuran air
panas. Sedap memang menyeruput een kopje
koffie sebelum memeras otak, menyair bebas, diiringi kegilaan tim yang tak
ada habisnya. Jadi pagi itu, saat aku hendak menuju dispenser, aku lewat di
depan ruang vraaggesprek yang
pintunya terbuka, dan kulihat Annelis duduk melingkar selama sesi tes. Rekan setimku
ini orang gila semua. Mereka adalah mercenary tangguh dan berdedikasi
menyelesaikan misi. Persis seperti Fallschirmjager
saat mengejar buruanya dengan gaya tempur blietzkrieg
yang fanatis itu. Tentu kau tahu kawan, bagaimana melegendanya mereka. Pada tulisan
sebelumya aku juga pernah mengupas sedikit profil mereka. Namun tentu saja
karena ini adalah classified information, aku tak bisa banyak membocorkan
identitas mereka disini. Dan tidak dimanapun.
Sejujurnya aku merasa tertarik mengupas lebih jauh soal
Annelis ini. Meskipun baru kulihat selama tak lebih dari sepuluh detik, dari
matanya cukup memberiku gambaran hidupnya yang penuh kelok tak berkesudahan. Sambil
menggenggam cangkir arabika menuju arbeidplaats
melewati ruang interview, kutengok sejenak aktivitas mereka. Kulihat wajah
sendu Annelis yang menawan. Tiba-tiba dikagetkan aku dengan tepukan seorang
kawan. Oh ternyata kamerad mijnheer afdeling personeelzaken yang sedang in
charge. “Ngapai vroh?”, tanyanya. Entah apa yang merasukiku, tanpa banyak ba bi
bu, kukatakan pada kamerad-ku ini, “vroh, aku mau dia masuk”, “yang mana vroh?”,
“merah muda dengan gelang kaki”, “deal”.
Kawan, kami bekerja dengan standar tinggi dari hari ke
hari, menganut snelle vooruitgang mogelijk
yang mengharuskan setiap orang belajar dengan cepat. Jika ingin
merekomendasikan seseorang untuk bergabung dengan niche kami, orang itu pastilah sudah diseleksi sedemikian sehingga
layak mengikuti sistem. Maaf, bukan bermaksud congkak, tapi sudah banyak yang
undur diri karena tekanan mental tanpa ampun. Imbas dari sistem maraton
tersebut. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku minta gadis baju merah muda
bergelang kaki tersebut masuk tanpa pertimbangan apapun, yang di kemudian hari
kuketahui Annelis namanya. Untunglah Annelis mampu membuktikan dirinya pantas
duduk sejajar dengan punggawa-punggawa senior maatschappij dan membuat penjualan produk kami meningkat. Dalam hati
kubilang “tidak salah aku minta dia masuk”.
Aku melihat dalam bingkai, seorang gadis kecil menaiki
sepeda dengan kaos dan celana pendek. Kulit gelap dan rambut keritingnya yang
dikucir dua di sisi kiri dan kanan kepala mirip Harley Quinn. Usianya mungkin
delapan tahun waktu itu. Nampak lusuh tak berdosa. Bayanganku anak kecil ini
pastilah bandel. Tapi siapa sangka dia tumbuh menjadi gadis dewasa nyaris
sempurna. Kulit putih bersih dengan gincu merah bersarang di bibirnya yang
selalu tersungging murah senyum. Terkadang kacamata bertengger di matanya,
menutupi keelokan parasnya. Tuhan benar-benar membuat ciptaan terindah untuk
mereka yang kesepian. Namun Tuhan juga maha adil. Dibalik sempurnanya Annelis
Chloe ini tersimpan kisah tak terduga. Tak patutlah jika kuceritakan padamu
disini. Cukup aku, dia, dan Tuhan yang tahu. Ohya, Annelis ini punya hobi
berkaca setiap saat. Intinya, dia tidak akan membiarkan tampil di publik unpolished. Bedak, gincu, dan tentu saja
cermi. Itu senjatanya bersolek.
Sedikit menerawang ke belakang bagaimana pertemuanku
dengan Annelis adalah seperti bait yang kuceritakan diatas, kawan. Yang kuketahui
ternyata Annelis ini memang banyak penggemarnya. Maklum, laki-laki mana yang
tidak jatuh diujung senyumanya yang menghujam, tajam, menusuk tanpa ampun.
Kawan, lain waktu kuceritakan kepadamu bagaimana akupun ditawan
dengan senyumanya.. tidak.. tatapan matanya yang nanar menyimpan misteri. Dia pun
sadar, pertemuanya denganku membuka kotak pandora yang selama ini tersimpan jauh
dalam dasar palung hatinya, dijaga Leviathan besar dengan capitnya yang tajam. Tapi
sudahlah, Leviathan juga sudah kusuap dengan iming-iming yang tak bisa
ditolaknya..
Aku
tak tahu itu apa
Pun
kau menyimpanya dalam dusta
Kulihat
melalui hati dalam tatap diam
Kalbumu
menyeringai terkejut memburam
Ah
kutahu akhirnya itu sebongkah kisah
Kubantu
kau menguntai, kau hanya bisa pasrah
I
know you so well, You know me so well
Let’s
the story be stored deep under the well
Quid
me nutrit destruit
What nourishes me also destroys me
...BERSAMBUNG...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar