Selasa, 10 Januari 2017

ANNELIS CHLOE, GADIS BERKULIT GELAP DAN RAMBUT KERITING PART I


amor animi arbitrio sumitur, non ponitur
we choose to love, we do not choose to cease loving

Singkatnya, ini adalah sebuah kisah tetang seorang gedis kecil berambut keriting dengan kulit gelapnya nan lusuh. Dibawah guyuran sinar matahari, dengan kaos singlet putih, gadis kecil kriting ini berlari mengejar anjing. Tak dihiraukanya panas dan keringat menetes, yang penting tetap bisa tertawa bahagia.

Pada medio 90an, Annelis hidup di salah satu kota besar. Seorang gadis mungil yang mewarisi darah Sunda dan Jawa dari kedua orang tuanya. Tampilanya sederhana, namun siapa sangka di masa depan dialah yang mampu meluluhlantakkan kalbu seorang pria garang dengan tatapan mata yang ganas, buas, tak kenal ampun.

Tidak banyak yang tahu seluk beluk masa kecil gadis kulit gelap ini. Annelis kecil bermain anjing dengan sepedanya. Di rumah neneknya, dia bersama sang ibu memutuskan merantau ke salah satu kota di tengah pulau jawa. Dari sinilah kehidupan Annelis kecil bermula hingga beranjak remaja. Annelis remaja tinggal di salah satu distrik bagian selatan kota itu. Dikelilingi sawah menghijau, menatap senja di sore hari dan berkawan dengan angin timur yang hangat. Mengiringi kepergian sang mentari menuju bilik peraduanya. Beranjak remaja, Annelis masuk ke salah satu sekolah tak jauh dari rumahnya. Dikayuhnya sepeda berangkat-pulang, pagi hingga sore hari. Peluh keringat kembali menetes, kuyup membasuh wajah legamnya yang penuh jerawat. Tidak banyak teman Annelis selama masa sekolah. Setahuku dia hanya berteman dengan beberapa orang saja. Mungkin karena memang Annelis yang pendiam dan orang juga berpikir dua kali untuk berteman denganya.

Aku menuliskan kisah ini sebagai memoar fragmen hidup Annelis Chloe. Kukenal dirinya setelah beranjak dewasa dengan paras menawan yang Tuhan berikan tuk menyenangkan hamba-Nya yang taat dan rendah hati. Aku terpaku pada tatapan matanya yang innocent, nyaris kosong, namun sedikit nakal di lisan. Sedikit banyak bisa kubaca pada air mukanya tentang masa lalu hidupnya yang penuh perjuangan. Tentu Annelis tidak banyak bercerita pada siapapun, bahkan pada orang-orang terdekatnya, ring satu-nya. Tapi aku tahu. Aku paham apa yang dirasakan. Dengan kalimat langsung kukatakan padanya “I know you so well Annelis”, dan dia kaget, tersipu malu campur melting. Begitulah kira-kira.

Ibunda Annelis seorang Sunda tulen dengan kulit putihnya dan pembawaan yang ramah, khas tatar Sunda. Murah senyum dan riang gembira menyapa setiap teman Annelis yang tandang ke rumahnya. Baik laki maupun perempuan, ibunya menyambut dengan tangan terbuka. Dengan niat baik atau tak baik, senyum tetap tersungging mekar di wajah mama. Mama, demikian Annelis memanggil ibunya. Sedangkan sang ayah, jawa totok dengan perawakan langsing dan tatapan mata yang tajam. Bola mata yang besar menyiratkan kekejaman dan ketegasan urat nadi seorang pria. Terlebih jika sudah menenteng parang, tak ada laki-laki yang tak merunduk saat diajak beradu muka denganya. Tapi itu hanyalah mitos. Seorang ayah tentu menyayangi anak-anaknya, begitu juga dengan ayah Annelis. Parang dan tatapan mata yang tajam mungkin manifestasi kegarangan seorang ayah yang terlihat menyeringai pada tiap laki-laki yang hendak nekat mempermainkan hati anak gadisnya. Tapi sekali aku menjabat tanganya, senyuman mengembang di bibirnya. Seketika runtuhlah hipotesisku tentang sosok yang kukira menyeramkan ini. Hanya sepersekian detik, dengan parang di tangan kiri, kukira pria paruh baya ini akan menyayatku. Namun tidak. Atau aku yang terlalu percaya diri. Mungkin saja didalam hatinya pria ini berujar, “tidak malam ini anak muda!!”. Matilah aku kalau benar sampai disayatnya. Belakangan kutahu parang dalam genggamanya ditebaskan pada bilah rumpun bambu. Kerja bakti kampung rupanya..

Berlanjut ke masa remaja Annelis yang beranjak dewasa. Selepas sekolah Algemeene Metddelbare School, Annelis melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi mengambil jurusan yang kupikir sangat unik. Aku tidak tahu apa motif Annelis mengambil konsentrasi studi ini. Aku menduga Annelis adalah fans berat dari Zhunge Liang, atau mungkin saja dia pembaca setia Romance of Three Kingdom gubahan Luo Guangzhong. Ah tidak, mungkin perkiraanku salah. Jikalau memang peminat sastra oriental, dia pasti sudah banyak mendiskusikan ihwal romantika legendaris Liang Shanbo dan Zhu Yingfai atau kisah legendaris perjalanan 500 tahun yang ditulis Wu Cheng’en dalam sastra klasik Journey to the West. Tapi selama kami berkawan, dia tidak banyak bicara soal itu. Atau mungkin Annelis hanya menutupi kepiawaiannya saja. Memang ia adalah gadis yang rendah hati. Namun dibaliknya, dia menguasai hampir fasih baca tulis aksara Hanzi.

Aku sampai lupa belum menceritakan kepadamu wahai sahabat, bagaimana aku bertemu dan mengenalnya. Sedikit lucu memang. Tapi Annelis menarik perhatianku pada pandangan pertama. Di suatu pagi yang dingin berkabut, Annelis datang mengetuk pintu ruang kerja kami. Dia duduk sembari menunggu seseorang. Tidak kutahu siapa gadis mungil dengan gelang kaki dan baju merah jambu ini. Tapi kamerad-ku bilang dia akan menjalani tes wawancara dengan salah satu mijnheer afdeling personeelzaken kami. Tidak perlu banyak waktu, aku melihat matanya selama beberapa detik. Dan kupastikan gadis ini menyimpan sesuatu yang misterius. Tapi aku tak tahu itu apa.

Kawan, satu hal yang belum kulakukan padamu adalah memperkenalkan diri. Hahaha, tidak sopan memang berpanjang lebar menjabarkan kisah seorang gadis tanpa tahu siapa penulisnya. Aku.. hm, aku tak tahu harus memperkenalkan diri sebagai apa. Yang jelas aku penulis di salah satu perusahaan publising di pulau Jawa. Memang belum terlalu terkenal. Tapi lambat laun orang akan mengenal kami dari apa yang sudah kami hasilkan. Sebagai penulis, aku cukup sadar diri untuk menahan ego edifikasi. Sebenarnya akupun malu menyebut diriku ini penulis. Tidak banyak tulisan yang kuhasilkan. Hanya coretan sederhana tanpa makna, pun tidak ada orang yang bertanya itu apa. Namun pertemuanku dengan Annelis ini memberiku hawa baru. Cukup sejuk untuk bahan goresan dalam selembar kertas, sebuah kisah sarat makna tapi tak sehebat roman dialektika. Pun aku tak paham bagaimana memaknai kisah ini karena memang kutuliskan dengan mengalir apa adanya. Begitu juga dengan Annelis. Mungkin dia tak tahu kalau sebagian mozaik hidupnya sedang kukisahkan dengan pena metafora.

Pagi itu, Annelis dan sederet kawan-kawanya duduk dalam penantian singkat bertemu dengan mas-mas mijnheer afdeling personeelzaken yang hendak berbincang seputar pekerjaan dalam sesi vraaggesprek. Kebetulan timku menempati ruang kerja yang berdekatan dengan ruang vraaggesprek. Dan seperti biasa setiap pagi sebelum memulai kerja, aku selalu menabur bubuk arabika dalam kucuran air panas. Sedap memang menyeruput een kopje koffie sebelum memeras otak, menyair bebas, diiringi kegilaan tim yang tak ada habisnya. Jadi pagi itu, saat aku hendak menuju dispenser, aku lewat di depan ruang vraaggesprek yang pintunya terbuka, dan kulihat Annelis duduk melingkar selama sesi tes. Rekan setimku ini orang gila semua. Mereka adalah mercenary tangguh dan berdedikasi menyelesaikan misi. Persis seperti Fallschirmjager saat mengejar buruanya dengan gaya tempur blietzkrieg yang fanatis itu. Tentu kau tahu kawan, bagaimana melegendanya mereka. Pada tulisan sebelumya aku juga pernah mengupas sedikit profil mereka. Namun tentu saja karena ini adalah classified information, aku tak bisa banyak membocorkan identitas mereka disini. Dan tidak dimanapun.

Sejujurnya aku merasa tertarik mengupas lebih jauh soal Annelis ini. Meskipun baru kulihat selama tak lebih dari sepuluh detik, dari matanya cukup memberiku gambaran hidupnya yang penuh kelok tak berkesudahan. Sambil menggenggam cangkir arabika menuju arbeidplaats melewati ruang interview, kutengok sejenak aktivitas mereka. Kulihat wajah sendu Annelis yang menawan. Tiba-tiba dikagetkan aku dengan tepukan seorang kawan. Oh ternyata kamerad mijnheer afdeling personeelzaken yang sedang in charge. “Ngapai vroh?”, tanyanya. Entah apa yang merasukiku, tanpa banyak ba bi bu, kukatakan pada kamerad-ku ini, “vroh, aku mau dia masuk”, “yang mana vroh?”, “merah muda dengan gelang kaki”, “deal”.

Kawan, kami bekerja dengan standar tinggi dari hari ke hari, menganut snelle vooruitgang mogelijk yang mengharuskan setiap orang belajar dengan cepat. Jika ingin merekomendasikan seseorang untuk bergabung dengan niche kami, orang itu pastilah sudah diseleksi sedemikian sehingga layak mengikuti sistem. Maaf, bukan bermaksud congkak, tapi sudah banyak yang undur diri karena tekanan mental tanpa ampun. Imbas dari sistem maraton tersebut. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku minta gadis baju merah muda bergelang kaki tersebut masuk tanpa pertimbangan apapun, yang di kemudian hari kuketahui Annelis namanya. Untunglah Annelis mampu membuktikan dirinya pantas duduk sejajar dengan punggawa-punggawa senior maatschappij dan membuat penjualan produk kami meningkat. Dalam hati kubilang “tidak salah aku minta dia masuk”.

Aku melihat dalam bingkai, seorang gadis kecil menaiki sepeda dengan kaos dan celana pendek. Kulit gelap dan rambut keritingnya yang dikucir dua di sisi kiri dan kanan kepala mirip Harley Quinn. Usianya mungkin delapan tahun waktu itu. Nampak lusuh tak berdosa. Bayanganku anak kecil ini pastilah bandel. Tapi siapa sangka dia tumbuh menjadi gadis dewasa nyaris sempurna. Kulit putih bersih dengan gincu merah bersarang di bibirnya yang selalu tersungging murah senyum. Terkadang kacamata bertengger di matanya, menutupi keelokan parasnya. Tuhan benar-benar membuat ciptaan terindah untuk mereka yang kesepian. Namun Tuhan juga maha adil. Dibalik sempurnanya Annelis Chloe ini tersimpan kisah tak terduga. Tak patutlah jika kuceritakan padamu disini. Cukup aku, dia, dan Tuhan yang tahu. Ohya, Annelis ini punya hobi berkaca setiap saat. Intinya, dia tidak akan membiarkan tampil di publik unpolished. Bedak, gincu, dan tentu saja cermi. Itu senjatanya bersolek.

Sedikit menerawang ke belakang bagaimana pertemuanku dengan Annelis adalah seperti bait yang kuceritakan diatas, kawan. Yang kuketahui ternyata Annelis ini memang banyak penggemarnya. Maklum, laki-laki mana yang tidak jatuh diujung senyumanya yang menghujam, tajam, menusuk tanpa ampun.

Kawan, lain waktu kuceritakan kepadamu bagaimana akupun ditawan dengan senyumanya.. tidak.. tatapan matanya yang nanar menyimpan misteri. Dia pun sadar, pertemuanya denganku membuka kotak pandora yang selama ini tersimpan jauh dalam dasar palung hatinya, dijaga Leviathan besar dengan capitnya yang tajam. Tapi sudahlah, Leviathan juga sudah kusuap dengan iming-iming yang tak bisa ditolaknya..


Aku tak tahu itu apa
Pun kau menyimpanya dalam dusta
Kulihat melalui hati dalam tatap diam
Kalbumu menyeringai terkejut memburam
Ah kutahu akhirnya itu sebongkah kisah
Kubantu kau menguntai, kau hanya bisa pasrah
I know you so well, You know me so well
Let’s the story be stored deep under the well


Quid me nutrit destruit
What nourishes me also destroys me

...BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar