Sabtu, 07 Januari 2017

Bagaimana Menjadi Kafir yang Sexy Ditengah Gelombang Fitnah Akhir Zaman

Bagaimana Menjadi Kafir yang Sexy Ditengah Gelombang Fitnah Akhir Zaman

Kata “kafir” menjadi kata sifat dan kata kerja dalam satu waktu. Bersifat kafir, dan mensifati kafir. Kafir jasmani yang memang sudah dari sananya, dan kafir sematan yang dilabelkan segolongan umat terhadap umat lain yang merasa lebih beriman.

Masih dalam semangat natal, tahun baru, dan demo penistaan agama yang mewarnai akhir tahun. Belakangan banyak terminologi berbau perpecahan yang mencuat di masyarakat. Hal menarik yang saya soroti adalah penggunaan kata kafir yang semakin menjadi. Kata ini, sejak ribuan tahun yang lalu pada zaman nabi dan rosul diturunkan, sudah jamak digunakan dan dialamatkan bagi mereka yang menolak seruan keberagamaan. Terlepas dari agama tertentu, kata kafir memiliki makna yang tetap, tidak berameliorasi, pun peyorasi. Maknanya sama, ingkar, laknat, dosa, masuk neraka, pokoknya yang serba nggak enak.

Seiring berjalanya waktu, ribuan tahun kemudian, muncul golongan yang sudah mendapat pencerahan ruhani. Mereka kemudian menjadi beriman. Ada yang umatnya Muhammad, umatnya Kristus, maupun umatnya Buddha Gautama. Masing-masing menganut nilai sakral keberagamaan yang saya yakin baik adanya. Lantas apa yang membuat tidak baik?. Nah pada tiap umat itu muncul sub-sub umat berbagai rupa. Rupaku, rupamu, rupane mbahmu.. Begitulah, ada yang garis lurus, kencang, rapat, sudah dicukur, dan ada pula yang longgar serta cinta damai. Hal itu mempengaruhi cara penyampaian dakwah agama mereka ke calon umat, atau yang disebut orang awam. Dari sinilah masalah mulai terlihat. Banyak yang menyampaikan dakwah secara literal tanpa mempertimbangkan edukasi berbasis asimilasi kultural dimana sasaran dakwah berada. Pokoknya mirip asalnya, ya seperti itu, wong perintahnya begitu, dan sebagainya. Fakk nya lagi, hal itu dilakukan secara masif, terstruktur, dan sistematis.

Saya menyoroti ke-beragaman dan ke-beragama-an masyarakat Indonesia yang sexy. Pada zaman ketika mbah Harto masih duduk di singgasana sambil nyruput kopi, pada zaman saat nilai PPKn menjadi penentu naik kelas atau tidaknya siswa SD, dan pada zaman dimana siswa putra menjatuhkan rautan bercermin untuk mengintip celana dalam siswa putri, disitulah toleransi dan tenggangrasa jelas diajarkan melalui pemahaman yang mendalam. Di banyak perkampungan, masyarakat berbagai agama hidup berdampingan dalam damai dibawah naungan kasih Tuhan Yang Maha Kuasa, amin. Mereka melaksanakan ibadah tanpa merasa terganggu. Yang muslim sholat jumat di masjid, tarawih dan puasa, serta idul fitri. Yang Kristiani-Katolik, ibadah subuh, ibadah minggu, dan natalan. Sepulang ibadah, antar umat saling sapa, menyalami, dan ngopi bareng di gardu ronda. Saya kok jarang melihat yang beragama selain itu. Kalopun ada mesti mereka juga merasa aman damai. Sangat sexy bukan.

Namun akhir-akhir ini hubungan antar dua keyakinan dominan yang saya sebutkan (Islam dan Nasrani) tadi agak terusik. Sebenarnya sengketa ini sudah bermula ribuan tahun yang lalu. Entah pada zaman rasul yang membawa ajaran untuk tidak memilih pemimpin kafir, tegas dengan orang kafir, maupun para crusader yang rela berjalan jauh untuk menganeksasi Jerusalem. Dan bahkan di Jerusalem sendiri warga Muslim yang mencuri atau membunuh umat Kristiani/Yahudi, harus wajib setor kepala ke algojo. Gundulmu ilang cuk..
Yang mengusik ini justru dari mereka yang membawa selogan rahmatan lil alamin. Bayangpun, agama yang mengajarkan umatnya menjadi cinta kasih bagi seluruh alam semesta malah menjadi momok yang meresahkan. Aneka sweeping dengan dalih mengurangi penyakit masyarakat atau menjaga ketentraman, malah dirasa mengganggu aktivitas keagamaan umat lain, sangat ndak sexy. Jujur saja, mereka yang sweeping pake gamis itu kalo liat Mia Khalifa yang bergamis juga ngaceng. Sexy kan? Jelas. Terus mbok donwload to cuk.

Mentalitas yang demikian ini sejatinya malah membuat umat agama lain menjadi jauh, tidak simpati, menganggap umat bergamis dan sorban itu berbahaya, teroris, tidak rahmatan lil alamin, sangat ndak sexy. Lantas bagaimana seharusnya kita bersikap. Gini cuk, pertama, anda bayangkan atau rasakan setidaknya seminggu hidup di negara dimana agama yang anda anut menjadi minoritas. Tentu anda akan kesulitan mendapatkan makanan halal, tempat ibadah, atau pemandangan yang senonoh. Itu belum negara yang masyarakatnya Islamphobia. Seminggu saja, lalu kita ngobrol lagi. Gimana rasanya. Itulah yang umat minoritas di Indonesia rasakan ketika hidup diantara antum-antum yang gemar teriak kafir seolah mereka fix penghuni neraka. Lalu kenapa kalau penghuni neraka?. Rasul anda susah payah dakwah ke orang kafir untuk diajak masuk surga, lha anda dengan bangganya me-neraka-kan mereka. Rasulmu siapa cuk?. Kedua, menjadi kafir seperti yang anda sematkan pasti bukan keinginan mereka. Yakalik sejak kecil bilang, “Mak, aku jadi kafir kayaknya asik, sexy”. Gundulmu. Mereka menjadi kafir karena anda. Siapa lagi. Toh anda juga yang menganggap mereka kafir. Selesai toh. Sebenarnya kafir itu apa sih?. Bahkan dalam KBBI pun kata “kafir” bersifat sangat islamsentris. Artinya, makna kafir itu layak disematkan kepada mereka yang mengingkari ajaran islam. Saya tidak membenci Islam karena saya juga Islam. Tapi definisi ini terlalu fanatis sehingga berpotensi menimbulkan egoisme golongan. Sebagaimana disebutkan diatas, disebut kafir itu sangat tidak mengenakan. Percayalah. Tidak percaya, anda kafir..

Ok lah, kalaupun kafir lalu apa?. Apakah lantas dengan anda mengkafirkan, keimanan anda akan meningkat. Apakah dengan mengkafirkan sahabat karib anda yang beda agama, lantas anda autosurga?. Apakah dengan menyebut si fulan dan fulanah kafir lantas anda dapat pahala?. Jika itu yang anda harapkan berarti anda sudah kafir juga. Lho kok bisa?. Definisi kafir adalah ingkar, kalau boleh saya kerucutkan, ingkar pada nikmat Tuhan juga masuk kategori kafir. Tentu anda hapal ayatnya. Anda ingkar terhadap apa-apa yang dihasilkan orang kafir itu sendiri, teknologi, budaya, dan juga film. Anda tidak bersyukur mereka kasih anda itu semua, dan anda masih nyinyir. Anda masih pake FB, anda kafir. Anda pake jeans, anda kafir. Anda download itu film Mia Khalifa, Ameni Ichinose, Sora Aoi, Madison Ivy, Dani Daniels, Kagney Linn Karter, dan yang terbaru Nicole Aniston, anda juga kafir. Anda tidak bersyukur Tuhan mengirim mereka untuk menciptakan pakaian penutup aurat, media sosial dimana anda bisa bersilaturahmi, dan juga film untuk anda masturbasi, eh nikmati.

Terakhir, menjadi kafir yang sexy, elegan dan mahal seperti om Bill Gates (Rp220milyar/hari), mas Zuckerberg (Rp 58milyar/hari), atau mbak Zahia Dehar ($1200/malam), tentu memerlukan kearifan dan kontrol diri, bukanya ngurusi perkara tidak substansial. Itulah kenapa mereka banyak menemukan teknologi dan bukan kita. Disamping itu, bagi anda umat beriman, kita perlu belajar menekan ego teritorial dan tirani mayoritas. Berdakwahlah dengan nasihat bijaksana, dengan cara yang hasan/baik-baik, pun kalau harus berdebat/berbantah-bantah, lakukan dengan cara yang baik pula, anda pasti hapal ayatnya, tapi mengabaikan. Sakkarepmu su..

Ingat, rahmatan lil alamin artinya membuat orang yang di dekat anda nyaman, bukan sebaliknya. Membawa manfaat untuk lingkungan, dan bukan teror. Saya bahkan pernah ibadah sholat maghrib di kamar kawan saya, dimana ketika keluar kamar, ada kayu salib di dinding ruang keluarga dan disampingnya terdapat foto besar Yesus. Ketika adzan berkumandang, dia katakan pada saya, kamu ndak sholat dulu bro..

Ndak ada masalah. Sexy kan..

Udah itu aja sih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar