Bagaimana Menjadi Kafir yang Sexy Ditengah Gelombang Fitnah Akhir Zaman
Kata “kafir” menjadi kata sifat dan kata kerja dalam satu waktu. Bersifat kafir, dan mensifati kafir. Kafir
jasmani yang memang sudah dari sananya, dan kafir sematan yang dilabelkan
segolongan umat terhadap umat lain yang merasa lebih beriman.
Masih dalam semangat natal, tahun baru, dan demo penistaan agama yang
mewarnai akhir tahun. Belakangan banyak terminologi berbau perpecahan yang
mencuat di masyarakat. Hal menarik yang saya soroti adalah penggunaan kata
kafir yang semakin menjadi. Kata ini, sejak ribuan tahun yang lalu pada zaman
nabi dan rosul diturunkan, sudah jamak digunakan dan dialamatkan bagi mereka
yang menolak seruan keberagamaan. Terlepas dari agama tertentu, kata kafir
memiliki makna yang tetap, tidak berameliorasi, pun peyorasi. Maknanya sama,
ingkar, laknat, dosa, masuk neraka, pokoknya yang serba nggak enak.
Seiring berjalanya waktu, ribuan tahun kemudian, muncul golongan yang sudah
mendapat pencerahan ruhani. Mereka kemudian menjadi beriman. Ada yang umatnya
Muhammad, umatnya Kristus, maupun umatnya Buddha Gautama. Masing-masing
menganut nilai sakral keberagamaan yang saya yakin baik adanya. Lantas apa yang
membuat tidak baik?. Nah pada tiap umat itu muncul sub-sub umat berbagai rupa.
Rupaku, rupamu, rupane mbahmu.. Begitulah, ada yang garis lurus, kencang,
rapat, sudah dicukur, dan ada pula yang longgar serta cinta damai. Hal itu
mempengaruhi cara penyampaian dakwah agama mereka ke calon umat, atau yang
disebut orang awam. Dari sinilah masalah mulai terlihat. Banyak yang
menyampaikan dakwah secara literal tanpa mempertimbangkan edukasi berbasis
asimilasi kultural dimana sasaran dakwah berada. Pokoknya mirip asalnya, ya
seperti itu, wong perintahnya begitu, dan sebagainya. Fakk nya lagi, hal itu
dilakukan secara masif, terstruktur, dan sistematis.
Saya menyoroti ke-beragaman dan ke-beragama-an masyarakat Indonesia yang
sexy. Pada zaman ketika mbah Harto masih duduk di singgasana sambil nyruput
kopi, pada zaman saat nilai PPKn menjadi penentu naik kelas atau tidaknya siswa
SD, dan pada zaman dimana siswa putra menjatuhkan rautan bercermin untuk
mengintip celana dalam siswa putri, disitulah toleransi dan tenggangrasa jelas
diajarkan melalui pemahaman yang mendalam. Di banyak perkampungan, masyarakat
berbagai agama hidup berdampingan dalam damai dibawah naungan kasih Tuhan Yang
Maha Kuasa, amin. Mereka melaksanakan ibadah tanpa merasa terganggu. Yang
muslim sholat jumat di masjid, tarawih dan puasa, serta idul fitri. Yang
Kristiani-Katolik, ibadah subuh, ibadah minggu, dan natalan. Sepulang ibadah,
antar umat saling sapa, menyalami, dan ngopi bareng di gardu ronda. Saya kok
jarang melihat yang beragama selain itu. Kalopun ada mesti mereka juga merasa
aman damai. Sangat sexy bukan.
Namun akhir-akhir ini hubungan antar dua keyakinan dominan yang saya
sebutkan (Islam dan Nasrani) tadi agak terusik. Sebenarnya sengketa ini sudah
bermula ribuan tahun yang lalu. Entah pada zaman rasul yang membawa ajaran
untuk tidak memilih pemimpin kafir, tegas dengan orang kafir, maupun para
crusader yang rela berjalan jauh untuk menganeksasi Jerusalem. Dan bahkan di
Jerusalem sendiri warga Muslim yang mencuri atau membunuh umat
Kristiani/Yahudi, harus wajib setor kepala ke algojo. Gundulmu ilang cuk..
Yang mengusik ini justru dari mereka yang membawa selogan rahmatan lil
alamin. Bayangpun, agama yang mengajarkan umatnya menjadi cinta kasih bagi
seluruh alam semesta malah menjadi momok yang meresahkan. Aneka sweeping dengan
dalih mengurangi penyakit masyarakat atau menjaga ketentraman, malah dirasa
mengganggu aktivitas keagamaan umat lain, sangat ndak sexy. Jujur saja, mereka
yang sweeping pake gamis itu kalo liat Mia Khalifa yang bergamis juga ngaceng.
Sexy kan? Jelas. Terus mbok donwload to cuk.
Mentalitas yang demikian ini sejatinya malah membuat umat agama lain
menjadi jauh, tidak simpati, menganggap umat bergamis dan sorban itu berbahaya,
teroris, tidak rahmatan lil alamin, sangat ndak sexy. Lantas bagaimana
seharusnya kita bersikap. Gini cuk, pertama, anda bayangkan atau rasakan
setidaknya seminggu hidup di negara dimana agama yang anda anut menjadi
minoritas. Tentu anda akan kesulitan mendapatkan makanan halal, tempat ibadah,
atau pemandangan yang senonoh. Itu belum negara yang masyarakatnya Islamphobia.
Seminggu saja, lalu kita ngobrol lagi. Gimana rasanya. Itulah yang umat minoritas
di Indonesia rasakan ketika hidup diantara antum-antum yang gemar teriak kafir
seolah mereka fix penghuni neraka. Lalu kenapa kalau penghuni neraka?. Rasul
anda susah payah dakwah ke orang kafir untuk diajak masuk surga, lha anda
dengan bangganya me-neraka-kan mereka. Rasulmu siapa cuk?. Kedua, menjadi kafir
seperti yang anda sematkan pasti bukan keinginan mereka. Yakalik sejak kecil
bilang, “Mak, aku jadi kafir kayaknya asik, sexy”. Gundulmu. Mereka menjadi
kafir karena anda. Siapa lagi. Toh anda juga yang menganggap mereka kafir.
Selesai toh. Sebenarnya kafir itu apa sih?. Bahkan dalam KBBI pun kata “kafir”
bersifat sangat islamsentris. Artinya, makna kafir itu layak disematkan kepada
mereka yang mengingkari ajaran islam. Saya tidak membenci Islam karena saya
juga Islam. Tapi definisi ini terlalu fanatis sehingga berpotensi menimbulkan egoisme
golongan. Sebagaimana disebutkan diatas, disebut kafir itu sangat tidak
mengenakan. Percayalah. Tidak percaya, anda kafir..
Ok lah, kalaupun kafir lalu apa?. Apakah lantas dengan anda mengkafirkan,
keimanan anda akan meningkat. Apakah dengan mengkafirkan sahabat karib anda
yang beda agama, lantas anda autosurga?. Apakah dengan menyebut si fulan dan
fulanah kafir lantas anda dapat pahala?. Jika itu yang anda harapkan berarti
anda sudah kafir juga. Lho kok bisa?. Definisi kafir adalah ingkar, kalau boleh
saya kerucutkan, ingkar pada nikmat Tuhan juga masuk kategori kafir. Tentu anda
hapal ayatnya. Anda ingkar terhadap apa-apa yang dihasilkan orang kafir itu
sendiri, teknologi, budaya, dan juga film. Anda tidak bersyukur mereka kasih
anda itu semua, dan anda masih nyinyir. Anda masih pake FB, anda kafir. Anda
pake jeans, anda kafir. Anda download itu film Mia Khalifa, Ameni Ichinose,
Sora Aoi, Madison Ivy, Dani Daniels, Kagney Linn Karter, dan yang terbaru
Nicole Aniston, anda juga kafir. Anda tidak bersyukur Tuhan mengirim mereka
untuk menciptakan pakaian penutup aurat, media sosial dimana anda bisa
bersilaturahmi, dan juga film untuk anda masturbasi, eh nikmati.
Terakhir, menjadi kafir yang sexy, elegan dan mahal seperti om Bill Gates
(Rp220milyar/hari), mas Zuckerberg (Rp 58milyar/hari), atau mbak Zahia Dehar ($1200/malam),
tentu memerlukan kearifan dan kontrol diri, bukanya ngurusi perkara tidak
substansial. Itulah kenapa mereka banyak menemukan teknologi dan bukan kita.
Disamping itu, bagi anda umat beriman, kita perlu belajar menekan ego
teritorial dan tirani mayoritas. Berdakwahlah dengan nasihat bijaksana, dengan
cara yang hasan/baik-baik, pun kalau harus berdebat/berbantah-bantah, lakukan
dengan cara yang baik pula, anda pasti hapal ayatnya, tapi mengabaikan.
Sakkarepmu su..
Ingat, rahmatan lil alamin artinya membuat orang yang di dekat anda nyaman,
bukan sebaliknya. Membawa manfaat untuk lingkungan, dan bukan teror. Saya
bahkan pernah ibadah sholat maghrib di kamar kawan saya, dimana ketika keluar
kamar, ada kayu salib di dinding ruang keluarga dan disampingnya terdapat foto
besar Yesus. Ketika adzan berkumandang, dia katakan pada saya, kamu ndak sholat
dulu bro..
Ndak ada masalah. Sexy kan..
Udah itu aja sih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar