Setahu saya yang dinamakan nongkrong adalah kegiatan membuang waktu di suatu tempat baik dilakukan sendiri maupun secara kolektif. Dalam KBBI, “nongkrong” berasal dari akar kata “tongkrong” yang maknanya “duduk-duduk saja tanpa melakukan sesuatu/bekerja”. Ya benar, itu definisi nongkrong beberapa tahun lalu dimana budaya urban belum se-nge-jreng sekarang, dimana orang masih hiruk pikuk bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidup (primary needs) dan tidak terpikir untuk spending time nge-hedon kumpul sama teman-teman, dimana nongkrong dianggap sangat tertiary needs. Seiring berjalanya waktu, kebudayaan yang semakin kompleks mendorong masyarakat berfikir soal kompensasi stress yang mereka rasa berhak untuk diterima setelah seharian bekerja keras. Mereka perlu sedikit menghibur diri melepas penat sejenak di ruang sosial tempat banyak orang berkumpul untuk tujuan yang sama. Media sosial semacam ini, hari ini, kian mendapatkan tempatnya. Bagaimana tidak, banyak bermunculan tempat nongkrong berupa caffee, mall, lounge hotel, maupun sosial hub kecil-kecilan seperti warung kopi atau angkringan. Bicara soal warung kopi, sebetulnya budaya nongkrong sudah dikenal oleh nenek moyang kita di kedai. Mereka menghela nafas di akhir pekan setelah bekerja selama 5-6 hari. Untuk sekedar bercanda dengan rekan sejawat atau keluarga, quality time.
Persoalan budaya nongkrong ini seperti mengalami ameliorasi, dimana nongkrong terkadang
menjadi solusi rembug antar personal
menyelesaikan masalah. Di beberapa kota metropolitan, diskusi kecil bisa
dilakukan di tempat nongkrong. Bahkan penulis pernah menemui dua orang yang
kemudian diketahui sebagai seorang dosen yang sedang melakukan bimbingan
program KKN dengan seorang mahasiswa. Ihwal nongkrong ini, baik siswa maupun
mahasiswa juga terkena imbasnya, jamak ditemui mereka mengerjakan tugas
kelompok di beberapa kedai. Meskipun hanya bermodal kertas yang tugasnya
ditulis tangan (bedanya kalau mahasiswa sudah bawa laptop) namun hal ini seolah
menegaskan bahwa budaya nongkrong tidak bisa dianggap remeh dalam hubunganya
dengan pergerakan dinamika populasi masyarakat urban.
Sekali lagi, budaya nongkrong tidak hanya dimonopoli oleh
kaum yang memiliki kelonggaran waktu dan dana yang hampir tanpa batas. Tidak.
Orang sibuk dengan duit pas-pasan pun demikian adanya, terkait dengan
kompensasi penat kerja yang sudah disebutkan diatas. Selain itu, nongkrong juga
hampir tidak memiliki sekat batas demografis baik usia ataupun gender. Meskipun
banyak didominasi anak muda, tidak sedikit orang tua yang terlihat nyruput kopi
di angkringan modern. Demikian halnya
dengan para lelaki, meskipun mereka merajai tempat duduk, kaum hawa juga tidak
kalah dominasinya di suatu waktu. Reuni, arisan, atau hanya sekedar temu kangen
antar gank SMA juga mengusung konsep temu santai, nongkrong. Jika kita melihat fenomena
nongkrong ini, nampaknya telah terjadi pergeseran kebudayaan yang sedikit
menuju hedonisme, santai, senang, berfoya.
Harga
dan Item Sajian
Menyoal harga dan variasi item yang dikonsumsi untuk
teman nongkrong pun beragam. Kalau konotasi nongkrong lekat kaitanya dengan
warung kopi, teh, atau sekedar camilan ringan seperti gorengan, itu sudah umum.
Dalam kacamata saya, nongkrong yang agak kontemporer memiliki wide range variation of foods, beverages and
price. Meskipun tujuan utama nongkrong adalah media bercengkrama, bukan
berarti kudapan tidak diperhatikan. Di beberapa kota besar, sejumlah kafe yang
dijadikan wahana kongkow tersebut semakin terlihat memiliki konsep matang dan
berbeda satu sama lain. Yang terbaru dari konsep tempat nongkrong kekinian
adalah susu. Ya, minum susu. Entah bagaimana awal mula idenya menjadikan susu
sebagai kudapan yang membudaya. Entah visi misinya memasyarakatkan susu sebagai
asupan bergizi untuk masyarakat atau sekedar membentuk trend, namun kenyataanya
pasar tempat nongkrong berbasis susu ini mendapat perhatian pasar yang cukup
masif. Kenyataanya market sharenya
juga berhasil merebut hati masyarakat, terutama anak muda. Mungkin karena
rasanya enak dan variasinya juga banyak. Ini mengubah mindset orang kebanyakan
yang tadinya hanya melihat “minum susu” sebagai kegiatan seremonial anak usia
dini sebelum naik tempat tidur.
Dalam budaya nongkrong kontemporer, saking banyaknya
pilihan tempat, orang bisa memilih mulai tempat yang terkenal murah harga
menunya hingga yang mahal. Ini serius, di beberapa kafe ada yang terkenal
karena sering disambangi mahasiswa, pegawai, atau anak muda biasa dengan
ketebalan dompet yang pas-pasan, dan itu merupakan klasifikasi strata menurut
harga yang memudahkan orang menyesuaikan gaya hidup dengan budget. Kebetulan
penulis berada di kota Jogja yang terkenal akan eksistensi mahasiswanya (selain
Bandung, Surabaya, dan tentu saja Jakarta). Di Jogja, tempat nongkrong
berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir. Mulai dari yang menyediakan shisha, susu, meja bilyar, roof top,
wifi, sampai yang hanya menyediakan suasana baik di tengah kota atau di wilayah
sub-urban.
Waktu
dan Durasi
Ada beberapa hal yang mempengaruhi lama waktu seseorang
stay di tempat nongkrong. Pertama adalah dengan siapa mereka nongkrong. Akan
berbeda nongkrong untuk curhat dengan bicara deal-deal bisnis. Curhat dengan
sahabat bisa memakan waktu yang cukup lama dan biasanya dilakukan dengan
santai. Lain halnya dengan bicara bisnis. Umumnya pembahasan deal ini terkesan to the point meskipun dengan sedikit
basa-basi. Kedua, suasana yang mendukung. Faktor suasana inilah salah satu yang
cukup dipertimbangkan dalam menentukan dimana seseorang akan nongkrong. Suasana
sedikit banyak mempengaruhi mood. Akan berbeda jika nongkrong di tempat yang
terlalu ramai dengan tempat yang relatif sepi (sedikit orang). Untuk beberapa
orang kondisi ramai dan sepi memiliki atmosfer yang cukup berbeda. Hal ini akan
sangat berdampak jika dirasakan oleh orang jenis extrovert dan introvert.
Sejujurnya penulis adalah orang ambivert yang cenderung introvert, dan tentu
saja lebih memilih tempat nongkrong yang tidak terlalu ramai dengan pencahayaan
yang remang-remang supaya lebih mendapatkan atmosfer privasi. Berbeda halnya
dengan mereka kaum ekstrovert yang tidak memiliki masalah dengan keramaian.
Orang ekstrovert bisa dengan santai tanpa ada masalah bersenda gurau di tengah
banyak orang, dan tetap on the mood.
Berbeda halnya dengan para introvert yang lebih menghendaki obrolan private dan
intens, bukan karena mereka ingin pendekatan, namun karena dalam suasana yang
lebih private, obrolan lebih bisa mengalir deras dan saling menggali lebih
banyak. Tentu saja para introvert ini menyukai nongkrong dengan lebih sedikit
orang dari pada harus bergerombol ramai.
Konsep
dan Owner
Berkaitan dengan konsep seperti yang sudah disinggung
diatas seperti kedai susu, restoran pasta, angkringan, dan sebagainya, adalah
hal yang juga menjadi pertimbangan anak nongkrong (saya menyitir bahasanya
MTV). Bagaimanapun juga kegiatan nongkrong tidak hanya dilakukan di kedai atau
kafe saja. Beberapa anak nongkrong juga menyambangi tempat yang nyata-nyata itu
merupakan restoran. Tentu pada konteks ini adalah restoran yang konsepnya agak
santai, kasual, tapi tetap menyediakan menu berkelas. Beberapa kawasan di Jogja
terkenal akan tempat nongkrongnya yang berbentuk restoran. Sebut saja daerah
Prawirotaman atau Seturan. Bagi masyarakat Jogja asli sendiri mungkin sudah
bosan dengan suasana yang riuh. Namun tidak dengan para pendatang yang umumnya
mahasiswa perantau. Meski demikian, wabah nongkrong yang kian menjangkiti warga
asli Jogja membuat mereka mau-tidak mau explore lebih jauh soal unique cullinary stuff ini. Sebut saja
beberapa restoran pasta yang sesungguhnya bukan berupa kedai. Saya tidak perlu
menyebutkan, anda akan menemukanya sendiri di google atau referensi dari kawan.
Beberapa restoran pasta ini mengusung konsep tempat dengan pencahayaan yang
remang-remang dan suasana santai. Nyaman untuk ngobrol dalam waktu lama. Apalagi
kalau itu bukan bentuk dari “nongkrong”. Sehubungan dengan konsep tempat
nongkrong yang “anak muda banget”, tentu tidak salah jika dikaitkan dengan
selera owner dan konseptornya yang mengerti psikologi anak muda sehingga
membuka peluang pasar yang kalkulasinya sudah hampir pasti tidak akan sepi dari
animo anak muda. Bagitulah, anak muda tidak terlalu merespon dengan sesuatu
yang berbau formalitas, kaku, dan penuh aturan. Tongkrongan-tongkrongan ini
mengakomodasi dari sisi psikologis yang terdalam, suasana. Kalau suasananya
enak, soal harga bakal jadi pertimbangan nomor sekian belas. Tentu harga yang
dipasang juga tidak terlalu tinggi untuk ukuran kota Jogja yang UMK nya
terendah se bumi Indonesia tercinta ini.
Membuka Lapangan Kerja
Diakui atau tidak, semakin banyak tempat nongkrong baru
yang dibuka, sebanyak itulah lapangan pekerjaan yang tersedia bagi beberapa
lapisan masyarakat yang tidak terlalu give
a damn terhadap syarat administrasi IPK. Mungkin memang statusnya tidak
se-mentereng pegawai negeri atau profesi pasaran semacam dokter, guru, dan
insinyur. Tapi menyandang status “kerja di kafe” saja sudah menjadi semacam
kebanggan bagi para waitress maupun cheff yang mengais rejeki di tempat
nongkrong. Belakangan penulis nongkrong di suatu kafe di bilangan Seturan. Kafe
ini mungkin salah satu yang prominent
karena bangunanya yang besar berlantai tiga. Menu dan penataan kafenya juga
digarap dengan profesional. Selain itu yang membuat penulis cukup amaze adalah sistemnya. Bagaimana sistemnya?.
Semua pegawai di kafe ini pada jam tertentu (mungkin pergantian shift)
melakukan briefing. Sedikit pengarahan dari team leader, bla bla bla, dan
mereka mengakhiri dengan doa bersama. Setelah doa, mereka kompak meneriakkan
yel-yel, semacam “hip-hip horaaayyyy”. Keras, lantang, dan bertepuk tangan. Hasilnya,
entah kenapa kerja mereka juga tidak spaneng
amat, tetap santai. Tapi penulis melihat “ini adalah sistem yang bagus”. Terkoordinasi
dengan baik, kompak, se-iya se-kata. Satu-satunya sistem kerja yang penulis
pernah temui adalah pada tempat service kendaraan bermotor, H. Kalau H memang
namanya sudah besar dan seleksi masuknya mungkin juga susah. Tapi ini kafe,
tempat nongkrong, yang siapa saja bisa melamar sebagai waitress. Penulis bertanya,
mungkin mereka memang “sengaja dibentuk demikian dengan sistem”, dengan
training ketat sehingga punya standar kerja dan hospitality yang hampir setingkat dengan hotel berbintang.
Itulah kiranya gambaran budaya nongkrong dalam sudut
pandang kontemporer yang semakin mengakomodasi masyarakat dalam kaitanya dengan
kebutuhan media sosial dan kebutuhan bersosialisasi. Lebih dalam dari itu,
banyak hal yang bisa dipelajari dari fenomena nongkrong ini seperti
pengembangan bisnis, ide, dan juga pertimbangan kenyamanan customer. Tentu semua
itu ada ilmunya.
SALAM
NONGKRONG
Ilustrasi : https://id.pinterest.com/pin/309200330645823283/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar