Jumat, 20 Januari 2017

NONGKRONG, SEBUAH AMELIORASI BUDAYA KONTEMPORER MASYARAKAT URBAN



Setahu saya yang dinamakan nongkrong adalah kegiatan membuang waktu di suatu tempat baik dilakukan sendiri maupun secara kolektif. Dalam KBBI, “nongkrong” berasal dari akar kata “tongkrong” yang maknanya “duduk-duduk saja tanpa melakukan sesuatu/bekerja”. Ya benar, itu definisi nongkrong beberapa tahun lalu dimana budaya urban belum se-nge-jreng sekarang, dimana orang masih hiruk pikuk bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidup (primary needs) dan tidak terpikir untuk spending time nge-hedon kumpul sama teman-teman, dimana nongkrong dianggap sangat tertiary needs. Seiring berjalanya waktu, kebudayaan yang semakin kompleks mendorong masyarakat berfikir soal kompensasi stress yang mereka rasa berhak untuk diterima setelah seharian bekerja keras. Mereka perlu sedikit menghibur diri melepas penat sejenak di ruang sosial tempat banyak orang berkumpul untuk tujuan yang sama. Media sosial semacam ini, hari ini, kian mendapatkan tempatnya. Bagaimana tidak, banyak bermunculan tempat nongkrong berupa caffee, mall, lounge hotel, maupun sosial hub kecil-kecilan seperti warung kopi atau angkringan. Bicara soal warung kopi, sebetulnya budaya nongkrong sudah dikenal oleh nenek moyang kita di kedai. Mereka menghela nafas di akhir pekan setelah bekerja selama 5-6 hari. Untuk sekedar bercanda dengan rekan sejawat atau keluarga, quality time.
Persoalan budaya nongkrong ini seperti mengalami ameliorasi, dimana nongkrong terkadang menjadi solusi rembug antar personal menyelesaikan masalah. Di beberapa kota metropolitan, diskusi kecil bisa dilakukan di tempat nongkrong. Bahkan penulis pernah menemui dua orang yang kemudian diketahui sebagai seorang dosen yang sedang melakukan bimbingan program KKN dengan seorang mahasiswa. Ihwal nongkrong ini, baik siswa maupun mahasiswa juga terkena imbasnya, jamak ditemui mereka mengerjakan tugas kelompok di beberapa kedai. Meskipun hanya bermodal kertas yang tugasnya ditulis tangan (bedanya kalau mahasiswa sudah bawa laptop) namun hal ini seolah menegaskan bahwa budaya nongkrong tidak bisa dianggap remeh dalam hubunganya dengan pergerakan dinamika populasi masyarakat urban.

Sekali lagi, budaya nongkrong tidak hanya dimonopoli oleh kaum yang memiliki kelonggaran waktu dan dana yang hampir tanpa batas. Tidak. Orang sibuk dengan duit pas-pasan pun demikian adanya, terkait dengan kompensasi penat kerja yang sudah disebutkan diatas. Selain itu, nongkrong juga hampir tidak memiliki sekat batas demografis baik usia ataupun gender. Meskipun banyak didominasi anak muda, tidak sedikit orang tua yang terlihat nyruput kopi di angkringan modern. Demikian halnya dengan para lelaki, meskipun mereka merajai tempat duduk, kaum hawa juga tidak kalah dominasinya di suatu waktu. Reuni, arisan, atau hanya sekedar temu kangen antar gank SMA juga mengusung konsep temu santai, nongkrong. Jika kita melihat fenomena nongkrong ini, nampaknya telah terjadi pergeseran kebudayaan yang sedikit menuju hedonisme, santai, senang, berfoya.


Harga dan Item Sajian

Menyoal harga dan variasi item yang dikonsumsi untuk teman nongkrong pun beragam. Kalau konotasi nongkrong lekat kaitanya dengan warung kopi, teh, atau sekedar camilan ringan seperti gorengan, itu sudah umum. Dalam kacamata saya, nongkrong yang agak kontemporer memiliki wide range variation of foods, beverages and price. Meskipun tujuan utama nongkrong adalah media bercengkrama, bukan berarti kudapan tidak diperhatikan. Di beberapa kota besar, sejumlah kafe yang dijadikan wahana kongkow tersebut semakin terlihat memiliki konsep matang dan berbeda satu sama lain. Yang terbaru dari konsep tempat nongkrong kekinian adalah susu. Ya, minum susu. Entah bagaimana awal mula idenya menjadikan susu sebagai kudapan yang membudaya. Entah visi misinya memasyarakatkan susu sebagai asupan bergizi untuk masyarakat atau sekedar membentuk trend, namun kenyataanya pasar tempat nongkrong berbasis susu ini mendapat perhatian pasar yang cukup masif. Kenyataanya market sharenya juga berhasil merebut hati masyarakat, terutama anak muda. Mungkin karena rasanya enak dan variasinya juga banyak. Ini mengubah mindset orang kebanyakan yang tadinya hanya melihat “minum susu” sebagai kegiatan seremonial anak usia dini sebelum naik tempat tidur.

Dalam budaya nongkrong kontemporer, saking banyaknya pilihan tempat, orang bisa memilih mulai tempat yang terkenal murah harga menunya hingga yang mahal. Ini serius, di beberapa kafe ada yang terkenal karena sering disambangi mahasiswa, pegawai, atau anak muda biasa dengan ketebalan dompet yang pas-pasan, dan itu merupakan klasifikasi strata menurut harga yang memudahkan orang menyesuaikan gaya hidup dengan budget. Kebetulan penulis berada di kota Jogja yang terkenal akan eksistensi mahasiswanya (selain Bandung, Surabaya, dan tentu saja Jakarta). Di Jogja, tempat nongkrong berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir. Mulai dari yang menyediakan shisha, susu, meja bilyar, roof top, wifi, sampai yang hanya menyediakan suasana baik di tengah kota atau di wilayah sub-urban.


Waktu dan Durasi

Ada beberapa hal yang mempengaruhi lama waktu seseorang stay di tempat nongkrong. Pertama adalah dengan siapa mereka nongkrong. Akan berbeda nongkrong untuk curhat dengan bicara deal-deal bisnis. Curhat dengan sahabat bisa memakan waktu yang cukup lama dan biasanya dilakukan dengan santai. Lain halnya dengan bicara bisnis. Umumnya pembahasan deal ini terkesan to the point meskipun dengan sedikit basa-basi. Kedua, suasana yang mendukung. Faktor suasana inilah salah satu yang cukup dipertimbangkan dalam menentukan dimana seseorang akan nongkrong. Suasana sedikit banyak mempengaruhi mood. Akan berbeda jika nongkrong di tempat yang terlalu ramai dengan tempat yang relatif sepi (sedikit orang). Untuk beberapa orang kondisi ramai dan sepi memiliki atmosfer yang cukup berbeda. Hal ini akan sangat berdampak jika dirasakan oleh orang jenis extrovert dan introvert. Sejujurnya penulis adalah orang ambivert yang cenderung introvert, dan tentu saja lebih memilih tempat nongkrong yang tidak terlalu ramai dengan pencahayaan yang remang-remang supaya lebih mendapatkan atmosfer privasi. Berbeda halnya dengan mereka kaum ekstrovert yang tidak memiliki masalah dengan keramaian. Orang ekstrovert bisa dengan santai tanpa ada masalah bersenda gurau di tengah banyak orang, dan tetap on the mood. Berbeda halnya dengan para introvert yang lebih menghendaki obrolan private dan intens, bukan karena mereka ingin pendekatan, namun karena dalam suasana yang lebih private, obrolan lebih bisa mengalir deras dan saling menggali lebih banyak. Tentu saja para introvert ini menyukai nongkrong dengan lebih sedikit orang dari pada harus bergerombol ramai.

Konsep dan Owner

Berkaitan dengan konsep seperti yang sudah disinggung diatas seperti kedai susu, restoran pasta, angkringan, dan sebagainya, adalah hal yang juga menjadi pertimbangan anak nongkrong (saya menyitir bahasanya MTV). Bagaimanapun juga kegiatan nongkrong tidak hanya dilakukan di kedai atau kafe saja. Beberapa anak nongkrong juga menyambangi tempat yang nyata-nyata itu merupakan restoran. Tentu pada konteks ini adalah restoran yang konsepnya agak santai, kasual, tapi tetap menyediakan menu berkelas. Beberapa kawasan di Jogja terkenal akan tempat nongkrongnya yang berbentuk restoran. Sebut saja daerah Prawirotaman atau Seturan. Bagi masyarakat Jogja asli sendiri mungkin sudah bosan dengan suasana yang riuh. Namun tidak dengan para pendatang yang umumnya mahasiswa perantau. Meski demikian, wabah nongkrong yang kian menjangkiti warga asli Jogja membuat mereka mau-tidak mau explore lebih jauh soal unique cullinary stuff ini. Sebut saja beberapa restoran pasta yang sesungguhnya bukan berupa kedai. Saya tidak perlu menyebutkan, anda akan menemukanya sendiri di google atau referensi dari kawan. Beberapa restoran pasta ini mengusung konsep tempat dengan pencahayaan yang remang-remang dan suasana santai. Nyaman untuk ngobrol dalam waktu lama. Apalagi kalau itu bukan bentuk dari “nongkrong”. Sehubungan dengan konsep tempat nongkrong yang “anak muda banget”, tentu tidak salah jika dikaitkan dengan selera owner dan konseptornya yang mengerti psikologi anak muda sehingga membuka peluang pasar yang kalkulasinya sudah hampir pasti tidak akan sepi dari animo anak muda. Bagitulah, anak muda tidak terlalu merespon dengan sesuatu yang berbau formalitas, kaku, dan penuh aturan. Tongkrongan-tongkrongan ini mengakomodasi dari sisi psikologis yang terdalam, suasana. Kalau suasananya enak, soal harga bakal jadi pertimbangan nomor sekian belas. Tentu harga yang dipasang juga tidak terlalu tinggi untuk ukuran kota Jogja yang UMK nya terendah se bumi Indonesia tercinta ini.

Membuka Lapangan Kerja

Diakui atau tidak, semakin banyak tempat nongkrong baru yang dibuka, sebanyak itulah lapangan pekerjaan yang tersedia bagi beberapa lapisan masyarakat yang tidak terlalu give a damn terhadap syarat administrasi IPK. Mungkin memang statusnya tidak se-mentereng pegawai negeri atau profesi pasaran semacam dokter, guru, dan insinyur. Tapi menyandang status “kerja di kafe” saja sudah menjadi semacam kebanggan bagi para waitress maupun cheff yang mengais rejeki di tempat nongkrong. Belakangan penulis nongkrong di suatu kafe di bilangan Seturan. Kafe ini mungkin salah satu yang prominent karena bangunanya yang besar berlantai tiga. Menu dan penataan kafenya juga digarap dengan profesional. Selain itu yang membuat penulis cukup amaze adalah sistemnya. Bagaimana sistemnya?. Semua pegawai di kafe ini pada jam tertentu (mungkin pergantian shift) melakukan briefing. Sedikit pengarahan dari team leader, bla bla bla, dan mereka mengakhiri dengan doa bersama. Setelah doa, mereka kompak meneriakkan yel-yel, semacam “hip-hip horaaayyyy”. Keras, lantang, dan bertepuk tangan. Hasilnya, entah kenapa kerja mereka juga tidak spaneng amat, tetap santai. Tapi penulis melihat “ini adalah sistem yang bagus”. Terkoordinasi dengan baik, kompak, se-iya se-kata. Satu-satunya sistem kerja yang penulis pernah temui adalah pada tempat service kendaraan bermotor, H. Kalau H memang namanya sudah besar dan seleksi masuknya mungkin juga susah. Tapi ini kafe, tempat nongkrong, yang siapa saja bisa melamar sebagai waitress. Penulis bertanya, mungkin mereka memang “sengaja dibentuk demikian dengan sistem”, dengan training ketat sehingga punya standar kerja dan hospitality yang hampir setingkat dengan hotel berbintang.


Itulah kiranya gambaran budaya nongkrong dalam sudut pandang kontemporer yang semakin mengakomodasi masyarakat dalam kaitanya dengan kebutuhan media sosial dan kebutuhan bersosialisasi. Lebih dalam dari itu, banyak hal yang bisa dipelajari dari fenomena nongkrong ini seperti pengembangan bisnis, ide, dan juga pertimbangan kenyamanan customer. Tentu semua itu ada ilmunya.




SALAM NONGKRONG



Ilustrasi : https://id.pinterest.com/pin/309200330645823283/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar